Jejak CN235 Indonesia,  Pernah “Dibarter” Beras Ketan

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Beddu Amang dicegat wartawan usai keluar dari ruang pertemuan Kementerian Koordinator Bidang Produksi dan Distribusi (Prodis), Jakarta, pada 12 April 1996. Kepada wartawan, ia menyebut baru saja selesai membahas penjualan pesawat CN235 buatan Indonesia ke Thailand.

CN235 adalah pesawat yang dikembangkan Aircraft Technology Industry, perusahaan patungan antara PT Industri Pesawat Terbang Negara atau IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia) dengan CASA, perusahaan asal Spanyol. Pesawat berkapasitas 35 penumpang ini ada yang dirakit di Indonesia, ada pula di Spanyol.

Desas-desus yang beredar di kalangan pewarta saat itu, pesawat buatan Indonesia bakal dibarter atau imbal beli (counter trade) dengan beras ketan. Wartawan mencoba memverifikasi kabar tersebut kepada Beddu.

"Tanya saja sama Pak Bachrum Harahap, Asmenko Prodis," kata Beddu, menanggapi pertanyaan wartawan. Ia bilang tak boleh bicara soal imbal beli tersebut (Kompas, 13/4/1996).

Desas-desus ternyata benar belaka. Selang beberapa hari kemudian, tepatnya 25 April 1996, Indonesia dan Thailand sepakat menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengadakan imbal-beli dua pesawat CN235 dengan 110.000 ton beras ketan Thailand.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Istana Merdeka, Jakarta. Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Thailand Banharn Silpaarcha bertemu kembali setelah beberapa kali berdialog empat mata soal kesepakatan tersebut. 

Menteri Riset dan Teknologi saat itu, BJ Habibie, mengatakan, kedua pesawat seharga 34 juta dolar AS itu akan digunakan untuk menciptakan hujan buatan di Thailand. Di saat bersamaan, pemerintah Indonesia menyatakan beras ketan dipilih karena Indonesia sedang butuh komoditas tersebut.

Saat itu, pemerintah tak ingin menyebut imbal-beli ini sama dengan barter. Beddu Amang menyatakan, MoU RI-Thailand adalah purchase agreement atau perjanjian pembelian.

Secara sederhana, Beddu mengatakan, Thailand akan membeli dua pesawat terbang CN235. "Lalu, kita beli dari Thailand hasil-hasil produk mereka kurang lebih 110.000 ton," katanya (Kompas, 26/4/1996)

Baca JugaCN235 dan Kabar Penyerangan AS ke Venezuela

Indonesia, lanjut Beddu, sebenarnya tidak hanya ingin membeli beras ketan. Pemerintah ingin juga membeli menir beras ketan dan produk beras berkualitas tinggi atau beras wangi Thailand. 

Pada tahun sebelumnya, Indonesia membeli dari Thailand beras ketan 50.000 ton dan beras menir ketan 30.000 ton. Pembelian itu diklaim sesuai kebutuhan Indonesia di masa paceklik, guna stabilisasi harga bahan pokok, dan menekan inflasi.

Kritik Kwik Kian Gie

Keputusan pemerintah membarter pesawat dan beras ketan itu dikritik ekonom Kwik Kian Gie, terbit di halaman pertama edisi Kompas, 6 Mei 1996. Ia menulis analisis berjudul “Sistem Perdagangan Imbal Beli”.

“Maka ada yang menanyakan, apakah sudah demikian langkanya beras ketan dan beras menir di Indonesia? Tidak, beras ketan dan beras menir hanya dipakai dalam satu transaksi saja,” tulis Kwik.

Kwik menyebut, Menristek BJ Habibie menjelaskan tidak betul CN235 ditukarkan dengan beras ketan. CN235 dijual tunai kepada Thailand, dan uangnya dipakai untuk membeli beras ketan dari Thailand juga.

Kwik mengkritik dengan implisit. Ia menulis bahwa keputusan pemerintah tidak salah, hanya lebih repot. 

“Karena tugas menjual komoditas yang diimbal-belikan dengan pesawat terbang dipantulkan pada kita. Mereka (Thailand) tidak mau susah-susah menjual barangnya sendiri,” tulis Kwik.

Baca JugaVenezuela, Negara Kaya Minyak dan Alam Indah yang Terperosok ke Jurang Resesi

Menukar komoditas Thailand dalam bentuk apa adanya dengan pesawat buatan Indonesia dinilai sebagai sesuatu yang tak seimbang. Indonesia bersusah payah menjual pesawat di pasaran internasional, tapi Thailand dengan mudah menjual komoditas pertaniannya ke Indonesia.

“Apakah dengan demikian lantas transaksi imbal belinya itu sendiri sebenarnya inferior dibandingkan dengan sistem jual beli kontan, saya tidak tahu,” begitu Kwik menutup tulisannya.

Mobil proton

Agaknya sindiran Kwik tak berpengaruh. Selang tiga tahun kemudian, tepatnya 17 April 1999, dua pesawat CN235 buatan PT IPTN dikirim ke Bangkok, Thailand (Kompas, 19/4/1999). Pesawat itu dikabarkan bakal digunakan Thailand untuk kebutuhan sipil secara umum hingga dimanfaatkan untuk keperluan pertanian dan hujan buatan. 

Di masa Orde Baru, imbal beli pesawat seperti yang dilakukan dengan Thailand bukan hal baru. Sebelumnya, Indonesia menandatangani kesepakatan imbal beli enam pesawat CN235 buatan IPTN dengan 20 pesawat latih MD3-160 dan 1.500 unit mobil Proton buatan Malaysia (Kompas, 24/2/1995).

Kesepakatan bernilai 224 juta dolar AS itu berlangsung dalam dua bagian. Sekitar 112 juta dolar AS dibayarkan Indonesia untuk membeli barang-barang buatan Malaysia, termasuk perawatan pesawat. Adapun 112 juta dolar AS yang dibayarkan Malaysia untuk membeli enam pesawat IPTN.

Malaysia tercatat menggunakan pesawat IPTN untuk kebutuhan militer. Indonesia akan menggunakan pesawat latih MD3-160 produksi Malaysia untuk pendidikan dan pelatihan pilot di Curug, Jabar. Sementara 1.500 unit mobil Proton digunakan untuk taksi.

Beda pandangan Gus Dur

Usulan untuk “menukar” pesawat bikinan Indonesia dengan beras berlanjut setelah rezim Soeharto tumbang. Di masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), usulan itu muncul lagi.

Gus Dur menyebut hal itu memang bisa dilakukan, tapi tak perlu terus dilakukan. Kebijakan demikian dinilainya hanya akan menambah beban negara (Kompas, 4/5/2001).

"Baiklah itu kita bisa lakukan, tetapi dalam jangka panjang hal itu harus kita hapus," kata Gus Dur.

Ia menyebut, manajemen pemasaran di bidang industri perlu mendapat perhatian khusus agar produk berteknologi dapat dipasarkan dan tidak menjadi beban. Menurutnya, selama 20 tahun belakangan, Indonesia lebih memperhatikan keunggulan teknologi, tetapi melupakan manajemen yang baik.

Dampaknya, Indonesia mampu membuat pesawat terbang canggih, tetapi tidak sanggup menjualnya. Gus Dur ingin Indonesia mampu menghasilkan produk berkualitas, harga bersaing, terserap pasar, dan mampu memberi manfaat ekonomi bagi warga.

Bertahun-tahun kemudian, pesawat yang dirancang Indonesia dan Spanyol itu muncul kembali setelah Pemerintah Amerika Serikat melancarkan operasi khusus ke Venezuela pada 3 Januari 2026. Setelah operasi usai, Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya dilaporkan ditahan dalam operasi bertajuk "Absolute Resolve" itu.

Keamanan sekelas presiden bisa ditembus. Hal itu disinyalir tak lepas dari pesawat yang memiliki fungsi intelijen, pengacau sinyal, dan perang elektronik.

AS dikabarkan sedikitnya mengerahkan 150 pesawat. Untuk perang elektronik dan pengacau sinyal, salah satu pesawat yang digunakan adalah CN235 (Kompas, 7/1/2026).

Jejak CN235 milik AS pernah ditelusuri situs The War Zone dari situs pelacakan penerbangan terbuka. Pesawat bernomor seri USAF (Angkatan Udara AS) di bagian ekornya tercatat sebagai pesawat angkut CASA CN235-300. Dari kode tersebut, kemungkinan pesawat CN235 yang dimiliki AS adalah produksi CASA, bukan produksi PTDI.

Baca JugaPesawat Multiguna Tangguh Produksi Dalam Negeri


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perkara Silfester Dinilai Berpotensi Merusak Reputasi Kejaksaan
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Refleksi 2025 dan Arah Kebijakan 2026 Kementerian Kebudayaan, Tegaskan Pemajuan Kebudayaan Berkelanjutan
• 10 jam laludisway.id
thumb
Bacaan Sujud Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Tata Cara Sesuai Sunnah
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Satgas Disdikbud Telusuri Dugaan Bullying, Kepala SDN 3 Kasimpureng Bantah Lakukan Bullying
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Sekali Beraksi Komplotan Pencuri Gondol Tiga Sepeda Motor Sekaligus!
• 20 menit lalukompas.tv
Berhasil disimpan.