EtIndonesia. Situasi di Iran terus memburuk dan memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Sejak awal Januari 2026, gelombang demonstrasi besar-besaran anti-pemerintah telah meluas ke lebih dari 100 kota di seluruh Iran, menandai eskalasi perlawanan rakyat terhadap rezim Republik Islam Iran.
Rakyat Rebut Kendali Wilayah Strategis
Pada 6 Januari 2026, bentrokan antara massa demonstran dan aparat keamanan meningkat tajam. Di Teheran, rakyat berhasil merebut kembali kendali Grand Bazaar Teheran beserta wilayah sekitarnya—sebuah simbol ekonomi dan politik penting yang sejak lama menjadi barometer stabilitas kekuasaan Iran.
Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa aparat keamanan menggunakan gas air mata, tongkat pemukul, bahkan senjata api untuk membubarkan massa di sejumlah kota di wilayah barat Iran, termasuk:
- Azna (Provinsi Lorestan)
- Malekshahi (Provinsi Ilam)
- Asadabad dan Nahavand
Menurut Kantor Berita Fars pada 6 Januari, seorang anggota kepolisian dilaporkan tewas ditembak di wilayah barat Iran. Hingga hari yang sama, aksi protes telah meluas ke 27 provinsi, dengan sedikitnya 35 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang ditangkap.
Kota Abdanan Jatuh ke Tangan Rakyat
Pada 6 Januari malam, seorang pengguna platform X melaporkan bahwa kelompok demonstran anti-pemerintah telah menguasai sepenuhnya Kota Abdanan, yang terletak di wilayah barat daya Iran dekat perbatasan Irak. Ini disebut sebagai pertama kalinya rakyat Iran berhasil merebut kendali penuh atas sebuah kota dari tangan rezim Islam.
Seiring konflik membesar, laporan pembelotan semakin sering muncul. Sejumlah personel militer dan kepolisian dilaporkan meninggalkan pos dan berpihak kepada rakyat, termasuk seorang pejabat intelijen senior Garda Revolusi Islam Iran di wilayah barat laut yang membelot secara sukarela.
Senjata di Tangan Warga dan Dugaan Dukungan Eksternal
Di sejumlah wilayah, warga terlihat membawa senapan serbu AK-47 dan senjata otomatis dengan magazen 30 peluru. Para analis menilai senjata tersebut berasal dari tiga sumber utama:
- Rampasan dari aparat keamanan,
- Penyelundupan lintas perbatasan,
- Dugaan dukungan dari pihak luar.
AS dan Israel Tingkatkan Kesiapan Militer
Di tengah memburuknya situasi internal Iran, Amerika Serikat dan sekutunya mulai melakukan manuver militer besar-besaran di kawasan Timur Tengah.
Saat ini, sekitar 45.000 tentara AS ditempatkan di Irak, Suriah, dan Qatar. Sejumlah akun X, termasuk “Iran Daily News”, mengonfirmasi bahwa pasukan khusus Delta Force AS telah ditempatkan di Irak, memperkuat spekulasi bahwa Washington bersiap menghadapi eskalasi konflik dengan Iran.
Pengguna X bernama Bichner melaporkan bahwa puluhan pesawat pengisian bahan bakar udara, serta pesawat angkut militer berat C-5 Galaxy dan C-17 Globemaster, telah lepas landas dari daratan Amerika Serikat dan Inggris menuju Timur Tengah dalam beberapa jam terakhir.
Sementara itu, akun “Pengamat Iran” menyebutkan bahwa warga Iran melaporkan keberadaan pesawat patroli maritim AS P-8A Poseidon yang melakukan patroli intensif di Selat Hormuz, wilayah strategis yang dikuasai Iran.
Dugaan Serangan Udara dan Ancaman Balasan Iran
Media Iran dan Arab melaporkan kemungkinan serangan udara gabungan AS–Israel untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran. Di sisi lain, Iran disebut tengah menyiapkan serangan pendahuluan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah serta target di Israel guna mencegah kehancuran sistem pertahanannya.
Ketegangan regional semakin meningkat setelah Rusia dilaporkan melakukan evakuasi darurat staf Kedutaan Besarnya di Israel beserta keluarga mereka. Ini merupakan penerbangan evakuasi ketiga Rusia dalam 24 jam terakhir.
Demonstrasi Besar di Teheran dan Seruan Penggulingan Khamenei
Pada 6 Januari, demonstrasi besar melanda Teheran. Massa melakukan aksi duduk dan meneriakkan slogan menuntut penggulingan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Aparat keamanan kembali menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran.
Pada 7 Januari, Grand Bazaar Teheran kembali dipenuhi massa, yang melakukan aksi duduk di lorong-lorong pasar. Aparat militer dan polisi berupaya menutup kawasan tersebut, namun ditolak oleh para pedagang dan warga.
Jika sebelumnya demonstrasi didominasi pria muda, kini pria dan wanita dari berbagai usia ikut turun ke jalan. Wilayah sekitar Teheran juga dilaporkan telah dikuasai rakyat.
Seruan Terbuka Putra Mahkota Iran
Pada 7 Januari 2026, Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran yang tinggal di pengasingan di Amerika Serikat, menyampaikan seruan terbuka kepada militer Iran.
Ia menyatakan bahwa runtuhnya rezim Islam sudah di depan mata, dan inilah kesempatan terakhir bagi militer untuk berpihak kepada rakyat. Pahlavi menegaskan bahwa ia siap kembali ke Iran untuk mengikuti pertempuran terakhir.
Dalam sebuah video, ia menyerukan agar senjata digunakan untuk melindungi rakyat, bukan menembaki mereka, serta mengungkapkan bahwa sebuah platform nasional aman telah dibangun untuk menampung pernyataan kesetiaan personel militer—yang menurutnya telah diikuti ribuan orang.
Bayang-Bayang Operasi AS di Venezuela
Di tengah krisis Iran, perhatian juga tertuju pada preseden terbaru kebijakan Washington. Menurut laporan NBC pada 6 Januari, pejabat AS dalam pengarahan rahasia kepada Kongres pada 5 Januari mengungkapkan bahwa sebelum operasi penangkapan Nicolás Maduro, pemerintah AS telah berbulan-bulan berdiskusi dengan Wakil Presiden Venezuela saat itu, Rodríguez.
Pada 3 Januari 2026 dini hari, militer AS melancarkan operasi di Venezuela dan menangkap Maduro beserta istrinya. Rodríguez kemudian dilantik sebagai presiden sementara pada 5 Januari.
Sumber menyebutkan bahwa seorang agen Central Intelligence Agency yang berada di lingkaran kekuasaan Venezuela memberikan informasi lokasi Maduro secara berkelanjutan kepada pihak AS.
Ultimatum Washington dan Pesan Global
Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Stephen Miller, mengungkapkan bahwa selama operasi penangkapan terjadi baku tembak sengit antara militer AS dan pengawal asal Kuba. Pemerintah Kuba mengklaim 32 warganya tewas.
Pada 6 Januari malam, Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintah sementara Venezuela akan menyerahkan 30–50 juta barel minyak yang sebelumnya dikenai sanksi kepada AS untuk dijual dengan harga pasar.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa penangkapan Maduro bertujuan mencegah Venezuela jatuh ke tangan Iran, Rusia, Tiongkok, Kuba, dan sekutunya, serta mengeluarkan ultimatum agar seluruh penasihat dan personel intelijen dari negara-negara tersebut segera diusir. (***)




