Ahli Ungkap 4 Tips agar Punya Anak yang Jujur Sejak Kecil

cnbcindonesia.com
21 jam lalu
Cover Berita
Foto: Andrew Ebrahim via Unsplash
Dafar Isi
  • 1. Ubah Cara Pandang soal Kebohongan
  • 2. Ganti Hukuman dengan Rasa Aman
  • 3. Cari Stres di Balik Kebohongan
  • 4. Bangun Budaya Jujur di Rumah

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak dari kita dibesarkan dengan anggapan berbohong adalah bentuk tidak hormat yang layak dihukum. Namun, menurut pakar parenting dan perkembangan anak, pendekatan seperti itu justru bisa membuat anak semakin tertutup.

Alyssa Blask Campbell, pakar pendidikan anak usia dini dan CEO Seed and Sew menekankan, tujuan utama orang tua seharusnya bukan sekadar menghentikan kebohongan, tetapi menciptakan rasa aman terhadap kejujuran. Berikut panduan lengkapnya mengutip CNBC Make It.

1. Ubah Cara Pandang soal Kebohongan

Menurut Campbell, berbohong pada anak sebenarnya merupakan bagian normal dari perkembangan otak.


Kemampuan berbohong menunjukkan anak mulai mampu merencanakan, memecahkan masalah, dan membayangkan berbagai kemungkinan seperti keterampilan penting dalam proses belajar dan kreativitas.

Baca: Labubu Bisa Kalah, Boneka Gemas Ini Bergerak Saat Nemplok di Tas

Para peneliti bahkan menyebutnya sebagai "executive function in action". Dengan kata lain, kebohongan adalah tahapan perkembangan, bukan kegagalan moral.

Anak bisa berbohong karena berbagai alasan, mulai dari takut dihukum, tekanan sosial, impuls yang belum terkontrol, hingga keinginan menjaga kemandirian. Memahami alasannya membuat orang tua bisa merespons kebutuhan anak, bukan sekadar perilakunya.

2. Ganti Hukuman dengan Rasa Aman

Alih-alih memarahi, Campbell menyarankan orang tua membangun rasa aman saat anak berkata jujur. Ia merekomendasikan empat kalimat berikut:

  • "Ayah/ibu tidak marah. Aku hanya khawatir karena aku ingin kamu aman. Yuk kita bicarakan bagaimana supaya ke depan bisa lebih baik."
  • "Ayah/ibu tetap sayang kamu meski kamu membuat kesalahan. Kamu bisa berkata jujur."
  • "Kamu takut bilang jujur karena khawatir ayah/ibu marah? Tidak apa-apa. Ayah/ibu tidak akan marah, justru kami ingin bisa membantu kamu."
  • "Ayah/ibu ingin kamu merasa aman untuk berkata jujur. Jadi ayah/ibu akan mendengarkan cerita kamu dan kita bisa menyelesaikan masalah bersama."

Kalimat-kalimat ini mengirim pesan yang kuat bahwa kejujuran tidak akan berujung pada ancaman, melainkan solusi.

Baca: Alasan Indonesia Jadi Negara Paling Sejahtera di Dunia Versi Harvard
3. Cari Stres di Balik Kebohongan

Campbell memberi contoh kasus Eva (12), yang melanggar aturan penggunaan iPhone satu jam setelah sekolah dan berbohong kepada ibunya, Jane. Ternyata Eva hanya ingin menyamakan pakaian dengan temannya.

Alih-alih fokus pada pelanggaran, Jane memilih berkata, "Terima kasih sudah jujur. Ibu paham, tetapi aturan pakai HP tetap satu jam, tapi lain kali bilang saja. Ibu lebih memilih memberi lima menit tambahan daripada kamu harus berbohong."

Respons seperti ini menjaga kepercayaan dan mengajarkan, kejujuran menghasilkan pemahaman, bukan hukuman.

Baca: Pakar Beberkan 9 Tanda Orang Tua yang Anaknya Bakal Sukses Besar
4. Bangun Budaya Jujur di Rumah

Campbell menegaskan, bahkan di rumah yang penuh kepercayaan, anak tetap bisa berbohong. Itu bagian dari proses belajar. Untuk memperkuat budaya jujur:

  • Normalisasi kesalahan agar anak tidak takut berkata jujur.
  • Validasi perasaan anak, misalnya dengan mengatakan, "Aku paham kenapa kamu gugup mengatakannya."
  • Tegaskan batasan dengan tenang, karena empati bisa berjalan seiring disiplin.
  • Tetap fleksibel, agar anak melihat kejujuran membawa manfaat nyata.
Baca: 4 Kalimat Ini Haram Diucapkan Orang Tua jika Ingin Anak Sukses

"Semakin aman perasaan anak bersama orang tuanya, semakin besar kemungkinan mereka bersikap jujur, bahkan ketika itu sulit," ujar Campbell.

Ia menutup dengan pesan penting bagi orang tua. Alih-alih bertanya, "Bagaimana caranya supaya anak berhenti berbohong?", lebih baik bertanya, "Apa yang sedang dilindungi anak lewat kebohongan ini?"

Tanggapi dengan empati. Jaga agar pintu kejujuran tetap terbuka. Itulah cara Anda membangun kepercayaan yang langgeng.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Usai Beroperasi 401 Tahun, Pos Denmark Setop Pengiriman Surat

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nikmati Sensasi Berlibur Akhir Pekan dengan Melihat Benda Luar Angkasa di Planetarium, Begini Rute Transjakartanya!
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Menakar Manfaat Insentif Fiskal Bagi Pekerja
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Pandji Pragiwaksono Minta Maaf usai Salah Sebut Lembaga Hukum di Mens Rea
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Ahli Ungkap 4 Tips agar Punya Anak yang Jujur Sejak Kecil
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Mobil Warga Dievakuasi Polisi Usai 6 Jam Terjebak Lumpur Longsor di Gayo Lues | SAPA MALAM
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.