Penulisan Buku Sejarah Indonesia Dilanjutkan

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Penulisan buku sejarah Indonesia yang difasilitasi Kementerian Kebudayaan akan dilanjutkan tahun ini. Penulisan empat buku sejarah ditargetkan rampung pada 2026 dengan membahas topik tematik, seperti perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sriwijaya, dan Kerajaan Samudera Pasai.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, buku tersebut akan ditulis oleh para sejarawan dari sejumlah perguruan tinggi. Pihaknya akan segera membentuk tim penulisan keempat buku sejarah tersebut.

“Mudah-mudahan (tahun ini) kita bisa menghasilkan empat buku sejarah. Tahun depan mungkin temanya lain lagi. Jadi, (penulisan sejarah) lebih tematik ke depannya,” ujarnya dalam taklimat media “Refleksi 2025, Kebijakan 2026”, di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Fadli didampingi oleh Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo; Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra; Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah TD Retnoastuti; Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta; serta Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan Fryda Lucyana. Taklimat media ini juga dihadiri perwakilan sejumlah organisasi dan komunitas bidang kebudayaan.

Tahun lalu, Kementerian Kebudayaan telah memfasilitasi penulisan 10 jilid buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Buku ini diharapkan menjadi salah satu acuan dari sejarah Indonesia untuk menjaga memori kolektif bangsa.

Topik pembahasan dalam buku itu beragam, seperti akar kebudayaan Nusantara, interaksi peradaban Nusantara dengan dunia global, dan perjumpaan dengan dunia barat yang melahirkan kolonialisme. Jilid-jilid berikutnya membahas tentang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan era pemerintahan dari masa kepemimpinan Soekarno, Orde Baru, hingga Reformasi.

Baca JugaBuku Sejarah Indonesia Berpeluang Direvisi

Fadli mengatakan, pihaknya telah menerima buku tersebut dari tim penulis. “Tinggal pengecekan akhir, termasuk dalam editorial bahasa dan lain-lain. Mudah-mudahan dalam 1-2 bulan buku ini bisa diakses oleh publik melalui PDF (format dokumen portabel),” ucapnya.

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia memantik kritik di ruang publik. Sejumlah pihak mengkhawatirkan pelanggaran HAM berat era Orde Baru, seperti penculikan aktivis dan pemerkosaan massal 1998, disingkirkan atau ditulis setengah hati.

Selain melanjutkan fasilitasi penulisan buku sejarah, tahun ini Kementerian Kebudayaan juga berencana melanjutkan program repatriasi, revitalisasi cagar budaya, pemberdayaan masyarakat adat, pengembangan seni, dan pengoptimalan museum.

Fadli menjelaskan, buku sejarah Indonesia tidak ditulis oleh Kementerian Kebudayaan, tetapi oleh sejumlah ahli sejarah. “Jadi, bukan kami yang menulisnya, melainkan 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi,” katanya.

Repatriasi

Selain melanjutkan fasilitasi penulisan buku sejarah, tahun ini Kementerian Kebudayaan juga berencana melanjutkan program repatriasi, revitalisasi cagar budaya, pemberdayaan masyarakat adat, pengembangan seni, dan pengoptimalan museum. Pada Desember tahun lalu, Pemerintah Indonesia menerima fosil koleksi Eugene Dubois dari Belanda termasuk Homo erectus yang disebut sebagai Java Man (manusia Jawa).

Fosil-fosil itu ditemukan 135 tahun lalu oleh Dubois di tepi Sungai Bengawan Solo. Fosil tersebut, antara lain, terdiri dari tempurung kepala, tulang paha, dan gigi geraham.

Director of the Naturalis Museum, Belanda, Marcel Beukenboom mengatakan, koleksi fosil tersebut diawetkan dan dipelihara dengan baik selama bertahun-tahun di Naturalis Museum.

“Benda-benda tersebut diteliti oleh ilmuwan Belanda dan Indonesia serta dikagumi oleh jutaan pengunjung museum. Hasil penelitiannya sangat penting karena memberi pemahaman baru tentang asal-usul dan sejarah manusia, memengaruhi cara kita melihat evolusi, dan sejak pertama kali ditemukan, fosil-fosil ini menjadi sorotan dunia,” tuturnya (Kompas, 18/12/2025).

Repatriasi akan dilanjutkan terhadap sekitar 28.000 spesimen fosil koleksi Dubois lainnya. “Mungkin akan membutuhkan enam kontainer besar. Jadi, packaging-nya (pengemasan) yang membuat lama karena harus satu per satu. Mereka punya prosedur sangat standar dan rigid terkait artefak,” jelas Fadli.

Terkait pengoptimalan fasilitas kebudayaan, Fadli menekankan pentingnya pengembangan museum. Pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan museum daerah agar lebih interaktif dan diminati masyarakat.

Film lokal

Sejumlah pihak juga mendorong agar Kementerian Kebudayaan meningkatkan dukungan terhadap film-film lokal, termasuk dalam mengikuti festival film di luar negeri. Hal ini tidak hanya mendukung industri film, tetapi juga dapat menjadi medium mempromosikan budaya bangsa yang ditampilkan dalam film tersebut.

Sutradara Wregas Bhanuteja menuturkan, fasilitasi dari Kementerian Kebudayaan bagi film lokal untuk mengikuti festival film di luar negeri sangatlah penting. Sebab, para sineas berpeluang bertemu dengan banyak pihak sehingga membuka kesempatan untuk membuat film yang mengangkat kekayaan budaya bangsa.

“Jadi, saya harap buat tahun ini dan ke depannya Kementerian Kebudayaan bisa memberikan dukungan lebih besar untuk talenta-talenta muda yang menjadi potensi masa depan kita,” kata sutradara film Penyalin Cahaya itu.

Baca JugaMenjadikan Film sebagai Cerminan Budaya Bangsa

Aktor sekaligus sutradara Reza Rahadian menyoroti komunikasi dan interaksi yang kurang optimal dalam memfasilitasi insan film Indonesia terkait pengajuan sejumlah proposal. Ia juga berharap skema matching fund atau dana padanan yang sudah cukup lama didiskusikan bisa terealisasi tahun ini.

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra mengatakan, pihaknya berkomitmen mendukung sineas Tanah Air, termasuk memfasilitasi ke berbagai festival film luar negeri. Sementara di dalam negeri, film-film lokal terus berkembang dan semakin diminati.

Mahendra menambahkan, jumlah penonton film Indonesia pada tahun lalu lebih dari 80 juta orang. Film Agak Laen: Menyala Pantiku! menjadi film lokal terlaris sepanjang masa dengan 10,5 juta penonton. Film yang dibintangi oleh Boris Bokir, Indra Jegel, Oki Rengga, dan Bene Dion tersebut melampaui film animasi Jumbo dengan 10,2 juta penonton.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
MNC Energy (IATA) Produksi Batu Bara 3,38 Juta Ton Sepanjang 2025
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Inspiratif! Warga Bintaro Sulap Semak Belukar Jadi Kebun Produkif
• 7 jam laludisway.id
thumb
The Jakmania Turun Gunung Jelang Persib Vs Persija, Media Officer Bicara Reaksi Pemain dan Target Besar Macan Kemayoran
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Wacana Pilkada Lewat DPRD Ditolak Publik, Mensesneg: Pemerintah Hormati Perbedaan
• 11 jam lalueranasional.com
thumb
Marc Marquez Beri Sinyal segera Pensiun, MotoGP 2026 Jadi Musim Terakhir?
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.