PELITA Jaya Jakarta merombak skuad secara signifikan untuk menghadapi IBL 2026 dengan target kembali ke puncak kompetisi setelah finis sebagai runner up musim lalu.
Pelita Jaya Jakarta resmi meluncurkan tim untuk menghadapi IBL 2026 di The Convergence Indonesia, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (8/1). Sejumlah perubahan besar dilakukan, mulai dari komposisi pemain hingga jajaran pelatih.
Di sektor pemain lokal, Pelita Jaya merekrut Andrew William Lensun, Oka Ananta Yogiswara, Putu J. Satria Pande, dan Victory Jacob Emilio Lobbu. Dua pemain muda, Candra Irawan dan Russell Nyoo, turut masuk sebagai rookie.
Mereka menggantikan sejumlah nama musim lalu, di antaranya Yesaya Saudale, Anthony Beane, Greans Tangkulung, Harits Prasidya, Nick Gosal, dan Abiyyu Ramadhan.
Perubahan juga terjadi pada pemain asing. Pelita Jaya mempertahankan Jeffree David Withey, serta mendatangkan Amorie Archibald dan Darious Lee Moten. Dari ketiganya, hanya Withey yang masih menjadi bagian skuad musim sebelumnya.
Kursi pelatih kini diisi David Singleton, yang juga merupakan pelatih kepala tim nasional bola basket Indonesia. Kehadirannya diharapkan membawa pendekatan baru dalam sistem permainan Pelita Jaya. Presiden Pelita Jaya Andiko Purnomo menegaskan, perombakan tim dilakukan untuk menjaga tradisi juara klub asal Jakarta tersebut.
"Kita sudah empat kali juara nasional. Bintang kelima yang kita kejar. Kita rombak dan upgrade ujung ujungnya untuk juara," ujarnya.
Pelita Jaya terakhir kali tampil di final IBL 2025, namun harus puas sebagai runner up setelah kalah dari Dewa United dalam seri final tiga gim. Pemain andalan Pelita Jaya, Muhamad Arighi, optimistis timnya mampu tampil berbeda pada musim ini.
"Banyak perubahan di Pelita Jaya. Semuanya baik untuk kita," katanya.
Selain perombakan skuad, Pelita Jaya juga menjalin kerja sama dengan GMC Cirebon sebagai bagian dari penguatan jalur pembinaan pemain muda. Wakil Presiden Pelita Jaya Jeremy Imanuel Santoso menyebut kolaborasi ini penting untuk menjembatani transisi pemain dari level kompetisi usia muda ke IBL.
"Salah satu kekurangan kita adanya gap di bola basket Indonesia di level DBL ke IBL," ujarnya. (E-4)





