Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmen penguatan kinerja organisasi melalui Perjanjian Kinerja (PK) Tahun 2026 dengan fokus pada dampak nyata riset dan inovasi.
Kepala BRIN Arif Satria melalui keterangan di Jakarta, Jumat menekankan bahwa kinerja riset dan inovasi tidak cukup diukur dari pencapaian administratif, melainkan harus menghasilkan outcome yang jelas dan berdampak nyata bagi masyarakat, industri, serta negara.
"Yang paling penting adalah bagaimana inovasi BRIN dipakai oleh masyarakat dan industri. Kita harus bisa menunjukkan berapa inovasi yang benar-benar digunakan, apa dampaknya, dan apa nilai tambahnya bagi negara," katanya.
Arif menggarisbawahi target kinerja BRIN ke depan harus terhubung langsung dengan hasil berupa teknologi, inovasi, dan rekomendasi kebijakan yang digunakan oleh pemangku kepentingan.
Baca juga: Kepala BRIN dorong percepatan kemandirian antariksa Indonesia
Ia mengingatkan setiap unit kerja perlu memahami target kinerjanya secara utuh, tidak hanya dari sisi output, tetapi juga outcome dan dampaknya.
"Target teknologi, inovasi, dan kebijakan harus jelas arah pencapaiannya serta terukur pemanfaatannya," ujarnya.
Arif menambahkan bahwa kajian valuasi dampak tersebut perlu dilakukan secara sistematis oleh tim terkait agar pada laporan akhir tahun 2026, kinerja BRIN dapat disajikan secara lebih komprehensif, terukur, dan kredibel di hadapan publik.
Eks-Rektor IPB University itu menyoroti pentingnya perubahan pendekatan dalam pelaporan kinerja riset dan inovasi BRIN.
"Ke depan, laporan BRIN bukan lagi laporan output, tetapi outcome. Kita tidak lagi hanya menyebutkan jumlah publikasi dan mitra, atau angka-angka administratif lainnya, tetapi menunjukkan apa hasil dan dampak dari riset dan inovasi tersebut," tutur Arif Satria.
Baca juga: BRIN dan Jawa Barat kembangkan Rumah Inovasi Daerah
Baca juga: BRIN kirimkan mobil pembuat air siap minum ke lokasi bencana Sumatera
Baca juga: BRIN bidik riset berbasis kebutuhan pengusaha
Kepala BRIN Arif Satria melalui keterangan di Jakarta, Jumat menekankan bahwa kinerja riset dan inovasi tidak cukup diukur dari pencapaian administratif, melainkan harus menghasilkan outcome yang jelas dan berdampak nyata bagi masyarakat, industri, serta negara.
"Yang paling penting adalah bagaimana inovasi BRIN dipakai oleh masyarakat dan industri. Kita harus bisa menunjukkan berapa inovasi yang benar-benar digunakan, apa dampaknya, dan apa nilai tambahnya bagi negara," katanya.
Arif menggarisbawahi target kinerja BRIN ke depan harus terhubung langsung dengan hasil berupa teknologi, inovasi, dan rekomendasi kebijakan yang digunakan oleh pemangku kepentingan.
Baca juga: Kepala BRIN dorong percepatan kemandirian antariksa Indonesia
Ia mengingatkan setiap unit kerja perlu memahami target kinerjanya secara utuh, tidak hanya dari sisi output, tetapi juga outcome dan dampaknya.
"Target teknologi, inovasi, dan kebijakan harus jelas arah pencapaiannya serta terukur pemanfaatannya," ujarnya.
Arif menambahkan bahwa kajian valuasi dampak tersebut perlu dilakukan secara sistematis oleh tim terkait agar pada laporan akhir tahun 2026, kinerja BRIN dapat disajikan secara lebih komprehensif, terukur, dan kredibel di hadapan publik.
Eks-Rektor IPB University itu menyoroti pentingnya perubahan pendekatan dalam pelaporan kinerja riset dan inovasi BRIN.
"Ke depan, laporan BRIN bukan lagi laporan output, tetapi outcome. Kita tidak lagi hanya menyebutkan jumlah publikasi dan mitra, atau angka-angka administratif lainnya, tetapi menunjukkan apa hasil dan dampak dari riset dan inovasi tersebut," tutur Arif Satria.
Baca juga: BRIN dan Jawa Barat kembangkan Rumah Inovasi Daerah
Baca juga: BRIN kirimkan mobil pembuat air siap minum ke lokasi bencana Sumatera
Baca juga: BRIN bidik riset berbasis kebutuhan pengusaha





