Berada di tengah kepungan orang-orang pintar yang gemar membedah teori sosial atau fluktuasi ekonomi global memang membuat saya merasa seperti pemain cadangan dari kasta ketiga yang tiba-tiba dipaksa bermain di final Liga Champions.
Belum lama saya terjebak dalam pembicaraan sekelompok orang pintar yang mulai mengutip pemikiran Thomas Piketty soal ketimpangan modal atau membahas dampak disrupsi AI terhadap eksistensi manusia.
Masalahnya, isi kepala saya saat ini adalah berita Manchester United vs Burnley yang ditahan imbang atau Ruben Amorim yang baru dipecat. Nasib saya sial: terjebak disebuah percakapan yang saya tidak mengerti sama sekali.
Teknik pertama yang saya lakukan untuk menjaga harga diri adalah menguasai teknik impression management. Sosiolog Erving Goffman dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life menjelaskan bahwa hidup ini hanyalah panggung sandiwara.
Maka, saya pun mulai mengenakan topeng. Saat mereka menyebutkan istilah yang terdengar seperti mantra pengusir setan, saya tidak melongo. Saya menyandarkan punggung, memicingkan mata sedikit, dan memberikan anggukan kecil. Dalam kebingungan, diam adalah senjata utama.
Jika percakapan mulai menyudutkan saya untuk bicara, saya tidak akan panik. Saya akan menggunakan strategi analogi kontekstual. Apapun topik berat yang mereka lempar, saya akan menariknya ke ranah yang saya kuasai . Jika mereka membahas kegagalan birokrasi, saya akan menyela "Menarik. Lihat kasus pelatih MU; taktik dan nama sehebat apa pun kalau masuk ke sistem yang sudah toksik, hasilnya selalu anomali."
Dengan menyebut kata "anomali," saya otomatis terlihat sedang melakukan analisis tingkat tinggi, padahal saya murni sedang curhat soal nasib Manchaster United.
Selanjutnya, saya sering mengadopsi teknik skeptisisme ala Sherlock Holmes. Holmes selalu menang karena dia memperhatikan apa yang tidak dilihat orang lain. Di tengah perdebatan teori yang rumit, saya biasanya melontarkan pernyataan yang aman.
"Benar, tapi menurut saya, realitas di lapangan mungkin lebih cair?" Pernyataan ini biasanya tidak banyak orang pintar yang bisa membantah karena dunia ini memang rumit. Seperti karakter Chance the Gardener dalam film Being There , yang bicaranya sederhana tentang berkebun tapi dianggap filsuf besar..
Dalam situasi yang benar-benar terjepit, di mana saya ditanya soal referensi buku atau literatur yang belum pernah saya dengar judulnya, saya akan menjadikan teori ketidakpastian sebagai tameng. Saya akan katakan bahwa dalam dunia yang penuh dengan kejutan tak terduga—seperti Aston Villa yang berada di papan atas liga inggris. Ini membuat saya terlihat seperti seorang praktisi pragmatis yang sangat menghargai fakta lapangan.
Saya sadar bahwa berpura-pura pintar kadang menjadi bagian cara saya bertahan hidup. Saya kadangkala perlu memilih untuk tidak rendah diri. Selama saya tetap tenang, menjaga diksi tetap formal, dan tahu kapan harus melemparkan senyum, saya akan tetap aman di kursi saya.
Pada akhirnya, bagi saya, sedikit sandiwara adalah cara agar saya tetap bisa menikmati kopi tanpa harus merasa terasing di tengah kerumunan. Dunia mungkin butuh orang-orang yang hafal teori Karl Marx, tapi dunia juga butuh orang seperti saya yang sedang berusaha bertahan hidup di tengah ketidakpastian.
Jadi, saya akan tetap mengangguk, tetap terlihat serius, dan membiarkan mereka menganggap saya bagian dari mereka padahal isi kepala adalah baru sebatas liga inggris.



