MALANG, KOMPAS — Longsor menimpa Desa Gubukklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (8/1/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. Akibatnya, salah satu dari empat akses menuju obyek wisata Gunung Bromo di kawasan itu sempat tertutup total. Selain dari Malang, Bromo juga bisa diakses melalui Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang.
Hingga Jumat (9/1/2026) pagi, petugas masih membersihkan akses dari material longsor. Hingga pukul 09.00 WIB, baru kendaraan roda dua yang bisa melintas perlahan dan bergantian dari kedua arah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, longsor disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi sejak Kamis pukul 15.00 hingga 21.00 WIB di wilayah Kecamatan Poncokusumo, khususnya Desa Gubukklakah dan Ngadas.
“Dampaknya, tebing setinggi 20 meter dengan panjang 10 meter longsor dan menutup badan jalan. Ketebalan material mencapai 1,5 meter dengan panjang 10 meter,” katanya.
Menurut Sadono, pembersihan tidak bisa langsung dilakukan pada Kamis malam lantaran terkendala kondisi cuaca dan penerangan. Aktivitas itu baru bisa dikerjakan secara manual pada Jumat pagi. Pihaknya juga tengah mendatangkan alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga Kabupaten Malang.
Hendrawan (47), salah satu karyawan yang tempat kerjanya berada tidak jauh dari lokasi, membenarkan bahwa sepanjang Kamis sore hujan turun deras dan disertai angin. Padahal, beberapa hari sebelumnya cuaca di wilayah setempat cerah berawan. “Sejak sore mendung gelap, hujan deras sampai malam. Pagi ini suasananya juga masih mendung,” katanya.
Poncokusumo merupakan salah satu daerah rawan longsor di Kabupaten Malang. Longsor serupa terjadi 22 November 2025. Saat itu, dua rumah warga rusak tertimpa material longsoran turap yang tidak kuat menahan aliran air hujan. Kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Pada Februari 2025, longsor juga menutup jalur menuju Bromo, tepatnya di antara Desa Gubukklakah dan Ngadas. Tebing setinggi 13 meter dengan ketebalan 3 meter longsor menutup jalan. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, tetapi akses masyarakat di kedua wilayah terganggu.
BPBD Kabupaten Malang memetakan ada sejumlah wilayah di pegunungan yang rawan bencana hidrometeorologi. Wilayah rawan itu, di antaranya Kecamatan Ngantang, Kasembon, dan Pujon di Malang barat; Lawang, Singosari, dan Jabung di Malang utara; Poncokusumo, Dampit, Tirtoyudo, dan Ampelgading di Malang timur; serta Sumbermanjing Wetan, Bantur, hingga Donomulyo di Malang selatan.
Saat ditemui di kantornya, Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur, di Karangploso, Malang, Nur Faris Prih Waryatno, menjelaskan, curah hujan di wilayah Poncokusumo sepanjang hari Kamis mencapai 27 milimeter (mm). Angka itu sebenarnya masuk kategori sedang.
Namun, jika dibanding beberapa hari sebelumnya yang nyaris tidak ada hujan dan juga wilayah lain di sekitarnya, curah hujan pada hari yang dimaksud cukup tinggi. “Hari-hari sebelumnya nol, lalu 1 mm, lalu 27 mm,” ujarnya.
Menurut Faris, curah hujan di wilayah Jatim, termasuk Malang, dalam beberapa hari terakhir sebenarnya sempat rendah. Hal itu karena ada bibit siklon di Samudera Hindia yang menarik potensi awan-awan konvektif dari beberapa kawasan. Kini, pengaruh itu kian melemah. Hujan deras mulai turun.
“Beberapa hari ini cukup kering, hujannya sangat sedikit dibanding periode-periode sebelumnya. Berdasarkan pantauan kami ada gangguan dinamika atmosfer. Di beberapa lokasi ada bibit siklon sehingga awan konvektifnya tertarik ke sana,” katanya.
Sesuai rilis resmi BMKG sebelumnya, puncak musim hujan di Malang Raya berlangsung sejak November 2025-Januari 2026. Untuk wilayah selatan rata-rata Oktober dan November 2025, sedangkan di kawasan Batu terjadi Januari 2026. Namun, seiring berjalannya waktu, ada perubahan-perubahan akibat dinamika atmosfer.





