Ilmuwan: 2026 Jadi Tahun Keruntuhan Terumbu Karang di Seluruh Dunia

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Terumbu karang tropis memang hanya menutupi kurang dari 1 persen dasar laut dunia, tetapi ekosistem ini menopang sekitar 25 persen seluruh spesies laut. Sayangnya, kekayaan hayati tersebut juga sangat rapuh. Dalam beberapa dekade terakhir, sekitar 30 hingga 50 persen terumbu karang global telah hilang.

Kini, para ilmuwan memperingatkan dunia sedang mendekati ambang batas yang mengkhawatirkan. Setelah gelombang panas laut ekstrem pada 2023–2024, yang memicu pemutihan karang di setidaknya 83 negara, tahun 2026 dipandang dengan kecemasan yang kian besar.

Pertanyaannya, apakah 2026 akan menjadi titik balik global bagi terumbu karang perairan hangat, sebuah titik tanpa kembali, ketika bahkan spesies karang paling tangguh pun tak lagi mampu pulih?

Ancaman dari Samudra Pasifik

Dalam The Conversation, Samantha Garrad, Peneliti Senior Ekosistem Laut di Plymouth Marine Laboratory, nasib terumbu karang dunia sangat bergantung pada apa yang terjadi di Samudra Pasifik, khususnya siklus iklim alami El Niño–Southern Oscillation (ENSO). Dunia baru saja keluar dari fase El Niño yang merusak, fase hangat ENSO, yang mendorong 84 persen terumbu karang global ke tingkat stres panas yang memicu pemutihan.

Dalam kondisi normal, terumbu karang memiliki waktu bernapas selama fase La Niña yang lebih sejuk. Namun, pemanasan global membuat El Niño semakin kuat dan sering, sementara masa transisinya kian singkat dan kurang dingin.

Dengan El Niño berikutnya diperkirakan terjadi pada 2026, hanya berselang singkat dari kejadian sebelumnya, banyak terumbu karang belum sempat pulih sepenuhnya. Para ilmuwan memperingatkan, fase ini berpotensi memicu keruntuhan terumbu karang secara luas.

Kekhawatiran terbesar adalah 2026 menjadi tipping point, momen ketika sebuah ekosistem berubah secara drastis dan sulit, bahkan mustahil untuk dipulihkan.

Masalahnya, titik-titik kritis seperti ini sulit dikenali saat terjadi. Setiap terumbu karang memiliki karakteristik berbeda, dan perubahan permanen sering tersamarkan oleh guncangan jangka pendek seperti gelombang panas dan cuaca ekstrem, di tengah suhu global yang terus meningkat.

Meskipun skenario terburuk berupa titik balik global serentak pada 2026 tergolong kecil, di tingkat lokal banyak terumbu karang perairan hangat hampir pasti terdampak parah. Beberapa bahkan sudah melewati titik tanpa kembali, dan jika gelombang panas ekstrem kembali melanda wilayah tropis dalam waktu dekat, kerusakan dalam 12 bulan ke depan bisa bersifat katastropik.

Seperti Apa Keruntuhan Terumbu Karang?

Keruntuhan terumbu karang biasanya diawali dengan pemutihan (bleaching), ketika suhu laut terlalu tinggi. Dalam kondisi stres, karang mengusir alga mikroskopis berwarna yang hidup di jaringannya, membuat karang tampak putih.

Karang belum mati pada tahap ini. Namun jika panas berlangsung terlalu lama, kematian karang tak terhindarkan. Spesies yang paling sensitif terhadap panas akan lenyap lebih dulu. Ketika karang mati, alga dengan cepat mengambil alih, sehingga larva karang baru sulit tumbuh. Kerusakan ini bisa berlangsung sangat lama, bahkan membuat terumbu tak pernah kembali seperti semula.

Meski begitu, tidak semua terumbu karang akan bernasib sama. Ketahanan terhadap panas berbeda di tiap wilayah. Karang di Teluk Aqaba, antara Semenanjung Sinai, Mesir, dan Arab Saudi, serta di Madagaskar terbukti mampu bertahan cukup baik pada suhu ekstrem 2023–2024, menandakan adanya ketahanan alami pada komunitas karang tertentu.

Terumbu di perairan yang lebih dalam dikenal sebagai terumbu mesofotik pada kedalaman sekitar 30 hingga 50 meter juga berpotensi menjadi “bank benih” masa depan. Lapisan air yang lebih dingin melindungi mereka saat gelombang panas, memberi peluang lebih besar bagi karang untuk bertahan, setidaknya dalam waktu dekat.

Bukan Hanya Soal Panas

Meski suhu laut diprediksi meningkat pada 2026, pemutihan karang juga dipicu oleh tekanan lain seperti polusi, penangkapan ikan berlebihan, dan pembangunan pesisir. Kabar baiknya, pengurangan tekanan lokal ini terbukti membantu pemulihan.

Contohnya Terumbu Karang Mesoamerika, yang membentang hampir 1.100 kilometer di sepanjang pesisir Meksiko dan Amerika Tengah. Meski 40 persen wilayahnya mengalami pemutihan pada 2024, beberapa bagian menunjukkan perbaikan setelah populasi ikan pulih berkat pengelolaan perikanan yang lebih baik.

Ancaman lain adalah pengasaman laut, akibat penyerapan CO₂ oleh samudra. Kondisi ini menyulitkan karang membentuk kerangka kerasnya, memperlambat pertumbuhan, dan melemahkan struktur, bahkan mengancam karang laut dalam yang tidak mengalami pemutihan.

Untuk memberi peluang terumbu karang bertahan di abad ke-21, para ilmuwan menekankan tiga langkah krusial. Langkah tersebut adalah:

Tanpa upaya serius di ketiga bidang tersebut, dunia berisiko kehilangan salah satu ekosistem paling penting, dan paling indah di planet ini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jumat Malam, Macet Jalan Senopati Mengular dari Gunawarman
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Target 5 Hari Sudin Lingkungan Hidup Jaktim Atasi Lonjakan Sampah Pasar Induk Kramat Jati
• 18 jam laluliputan6.com
thumb
KPK Ungkap Penetapan Tersangka Kasus Kuota Haji Sudah Dilakukan Sejak 8 Januari 2026
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
TPST Bantar Gebang Kritis, Anggota DPRD DKI Minta Pemprov Tak Tambal Sulam
• 14 jam laluidntimes.com
thumb
13 Orang di Gaza Tewas Kena Serangan Drone Israel, 5 di Antaranya Anak-anak
• 21 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.