Efek AI Makin Ngeri, Gelombang PHK Diprediksi Masih Berlanjut Sampai 2030

viva.co.id
20 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mengubah wajah dunia kerja global. Teknologi yang awalnya dipandang sebagai alat bantu produktivitas kini bertransformasi menjadi sistem yang mampu menggantikan berbagai tugas manusia. 

Otomatisasi yang masif membuat perusahaan di berbagai sektor meninjau ulang struktur organisasi dan kebutuhan tenaga kerja mereka.

Baca Juga :
AI Bikin Geger Industri Bank, 200 Ribu Pekerja Terancam Kehilangan Pekerjaan
AI Rombak Total Dunia Kerja, 25 Persen Posisi Kantoran Mulai Dipangkas dan Digantikan Robot

Di tengah janji efisiensi dan inovasi, muncul kekhawatiran besar di kalangan pekerja. Sejumlah pekerjaan diperkirakan akan menyusut tajam, sementara hanya sebagian kecil yang justru mengalami lonjakan permintaan. 

Kondisi ini membuka peluang terjadinya gelombang pengurangan karyawan secara global dalam beberapa tahun mendatang. Laporan terbaru World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa dampak AI terhadap lapangan kerja semakin signifikan. 

"Berdasarkan survei terhadap ratusan perusahaan besar di berbagai negara, sebanyak 41 persen perusahaan menyatakan berencana mengurangi jumlah tenaga kerja mereka hingga tahun 2030 seiring meningkatnya penggunaan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas tertentu," demikian isi laporan tersebut sebagaimana dikutip dari CNN, Jumat, 9 Januari 2026.

WEF menyimpulkan bahwa kecerdasan buatan mulai mengambil alih sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia, sehingga perusahaan merasa perlu menyesuaikan jumlah karyawan. Meski demikian, laporan yang dimuat dalam Future of Jobs Report juga mencatat bahwa 77 persen perusahaan berencana melakukan peningkatan keterampilan (reskilling dan upskilling) terhadap karyawan yang ada pada periode 2025–2030. 

Tujuannya agar pekerja dapat beradaptasi dan bekerja berdampingan dengan AI. Namun, berbeda dengan laporan edisi 2023, WEF tidak lagi menyatakan bahwa sebagian besar teknologi, termasuk AI, akan memberikan dampak positif bersih terhadap jumlah lapangan kerja secara keseluruhan.

WEF menegaskan bahwa kemajuan AI dan energi terbarukan kini membentuk ulang pasar tenaga kerja global. Perubahan ini mendorong peningkatan permintaan pada berbagai peran teknologi dan spesialis, namun secara bersamaan menyebabkan penurunan pada sejumlah profesi lain.

Laporan juga menyebut bahwa kemajuan AI dan energi terbarukan sedang mengubah pasar tenaga kerja dengan meningkatkan permintaan untuk pekerjaan teknologi atau spesialis, sekaligus menekan profesi tertentu seperti desainer grafis.

Dalam laporan tersebut, Managing Director WEF Saadia Zahidi menyoroti peran generative AI dalam mengubah industri dan jenis tugas di hampir semua sektor. Teknologi ini mampu menciptakan teks, gambar, dan berbagai konten orisinal berdasarkan perintah pengguna.

Baca Juga :
Cari Kerja Kantoran Makin Sulit, Sarjana Gen Z Disarankan Pelajari Skill Tukang hingga Barista
Microsoft Bakal PHK Massal di Awal 2026? Posisi Ini Paling Rawan Terdampak
Coca-Cola Mulai PHK 75 Pegawai, Restrukturisasi Besar-besaran 2026 Dimulai

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Saham SMDR Mulai Bangkit, Masih Murah dan Direkomendasikan Trading Buy
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Pandji Dipolisikan, Gus Ulil: Kita Butuh Banyak Ketawa di Negeri Ini
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Bursa Saham Asia Menguat Jelang Akhir Pekan
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Dispendukcapil: Mayoritas Layanan Adminduk Sudah Online, Warga Tak Perlu Selalu ke Siola
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Peluang Fintech untuk Pembangunan, Dari Inovasi Teknologi ke Penciptaan Lapangan Kerja
• 21 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.