REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Agus Trihandoyo, Wakil Rektor I Bidang Akademik Cyber University
Peta persaingan global yang kian ditentukan oleh kecepatan inovasi dan kualitas sumber daya manusia. Indonesia dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana membangun daya saing yang tidak semata bertumpu pada keunggulan komparatif tradisional, tetapi pada kemampuan menciptakan nilai tambah berkelanjutan?
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Di tengah tantangan itu, perkembangan financial technology (fintech) menawarkan peluang strategis yang kerap belum dibaca secara utuh sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.
Selama ini, fintech lebih sering dipersepsikan sebagai urusan pembayaran digital, pinjaman daring, atau sekadar inovasi startup. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, fintech sesungguhnya merupakan arsitektur baru sistem ekonomi, yang berpotensi memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global sekaligus menciptakan lapangan kerja lintas sektor dan wilayah.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
QRIS dan Transformasi Ekonomi Sehari-hari
Salah satu contoh paling konkret dari penerapan fintech yang tepat guna adalah QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Dari sudut pandang kebijakan publik, QRIS bukan hanya inovasi teknologi, melainkan instrumen integrasi ekonomi nasional. Dengan satu standar pembayaran, negara berhasil menurunkan biaya transaksi, meningkatkan efisiensi, sekaligus memperluas inklusi keuangan masyarakat secara signifikan.
Riset akademik mengenai sistem pembayaran digital menunjukkan bahwa kemudahan transaksi berbanding lurus dengan peningkatan partisipasi ekonomi sektor informal. Studi dari berbagai universitas dan lembaga seperti KemenKopUKM menemukan bahwa UMKM yang mengadopsi pembayaran digital cenderung mengalami peningkatan omzet, pencatatan keuangan yang lebih baik, serta memudahkan akses ke permodalan formal.
QRIS menciptakan apa yang dalam literatur ekonomi disebut sebagai financial data trail. Data transaksi yang sebelumnya tidak pernah tercatat kini menjadi dasar penilaian kelayakan usaha.
Ini merupakan lompatan struktural: dari ekonomi berbasis kepercayaan personal menuju ekonomi berbasis data. Dampaknya tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga membuka peluang kerja baru di bidang analitik data, pengembangan sistem pembayaran, dan keamanan siber.



