FAJAR, SURABAYA — Stadion Gelora Bung Tomo akan menjadi saksi awal sebuah era baru. Sabtu malam (10/1/2026), Bernardo Tavares resmi memulai perjalanannya bersama Persebaya Surabaya dalam laga pekan ke-17 Super League 2025/2026. Namun, debut itu datang tanpa karpet merah. Lawan yang dihadapi justru Malut United—tim dengan kedalaman skuad, pengalaman juara, dan sejumlah pemain yang sangat memahami cara kerja sang pelatih asal Portugal.
Alih-alih mendapat laga “aman” untuk adaptasi, Bernardo langsung diuji oleh tim yang memiliki DNA juara dari dua klub besar yang pernah mewarnai sepak bola nasional: Persib Bandung dan PSM Makassar. Kombinasi itu membuat Malut United bukan sekadar lawan, tetapi potensi pengacau debut.
Persebaya tentu berharap atmosfer Gelora Bung Tomo bisa menjadi penopang. Dukungan Bonek selalu dikenal mampu mengubah tekanan menjadi energi. Namun, Malut United datang dengan kepercayaan diri tinggi dan modal psikologis yang kuat. Musim lalu, Persebaya tak sekalipun mampu mengalahkan tim berjuluk Laskar Kie Raha tersebut.
“Tahun lalu Persebaya tidak pernah bisa mengalahkan tim ini. Jadi ini akan menjadi pertandingan yang sulit,” ujar Bernardo Tavares dengan nada realistis.
Pernyataan itu mencerminkan satu hal: kewaspadaan penuh. Bernardo paham betul, laga ini bukan sekadar soal taktik, tetapi juga tentang mengelola ekspektasi dan tekanan pada hari pertama.
Dalam analisisnya, Tavares secara terbuka menyebut lima nama yang menurutnya menjadi tulang punggung Malut United. Kelima pemain itu bukan sekadar bintang, melainkan figur yang mampu mengubah arah pertandingan dalam satu momen.
“Mereka punya David Silva, Tyrone, Ciro, Yakob, Yance. Mereka pemain-pemain berpengalaman,” kata Tavares.
Nama David da Silva menjadi ancaman paling nyata. Penyerang berpengalaman itu masih menunjukkan naluri gol yang tajam. Dari 15 pertandingan, ia mencetak tujuh gol dan tiga assist. Lebih dari sekadar statistik, David adalah penyerang yang tahu kapan harus muncul di ruang kosong dan kapan harus menunggu kesalahan lawan. Dengan rating 7,24 dan menit bermain lebih dari 1.100 menit, perannya benar-benar sentral.
Di belakangnya, Tyronne del Pino menjadi otak serangan. Gelandang kreatif ini mencatatkan lima gol dan enam assist dari 16 pertandingan. Rating 7,29 menunjukkan konsistensi yang jarang dimiliki pemain tengah. Tyronne adalah pengatur tempo, sosok yang mampu menenangkan permainan sekaligus mempercepat transisi saat dibutuhkan.
Dari sisi sayap, Malut United memiliki Ciro Alves—pemain dengan karakter eksplosif. Enam gol dari 16 laga, rating 7,41, serta menit bermain tertinggi di antara pemain kunci lain menunjukkan betapa pentingnya peran Ciro. Kecepatan, dribel, dan keberaniannya mengambil duel satu lawan satu menjadi senjata utama Laskar Kie Raha.
Namun sorotan emosional terbesar tertuju pada duo Sayuri: Yakob dan Yance. Dua pemain ini memiliki kedekatan khusus dengan Bernardo Tavares. Keduanya pernah menjadi bagian penting dari proyek sang pelatih saat masih di PSM Makassar. Kini, mereka berdiri di sisi berlawanan.
Yakob Sayuri dikenal sebagai winger agresif dengan kecepatan tinggi dan naluri menyerang tajam. Dari 12 laga, ia mencetak lima gol dan tiga assist—angka yang impresif dengan menit bermain di bawah 1.000 menit. Rating 7,40 mencerminkan efektivitasnya setiap kali berada di lapangan. Namun gaya bermainnya yang agresif juga tercermin dari lima kartu kuning yang ia terima musim ini.
Yance Sayuri mungkin tidak setajam sang kembar dalam urusan gol, tetapi kontribusinya tetap krusial. Dengan satu gol dan satu assist dari 16 laga, serta menit bermain mencapai 1.418 menit, Yance adalah pemain yang menjaga keseimbangan sisi sayap. Rating 7,02 menegaskan perannya sebagai pekerja keras dalam sistem.
Bagi Bernardo Tavares, menghadapi duo Sayuri bukan sekadar tantangan teknis. Ada lapisan emosional di dalamnya. Ia mengenal kekuatan dan kelemahan mereka. Namun di lapangan, kedekatan masa lalu bisa berubah menjadi motivasi ekstra bagi sang pemain.
Malut United sendiri dikenal sebagai tim yang disiplin dan efisien. Mereka tidak selalu mendominasi penguasaan bola, tetapi sangat efektif dalam memanfaatkan transisi. Kombinasi pengalaman, kecepatan sayap, dan ketajaman di depan membuat mereka berbahaya dalam skenario apa pun.
Di sisi lain, Persebaya masih dalam fase penyesuaian. Bernardo Tavares belum sepenuhnya menanamkan filosofinya. Beberapa pemain inti bahkan masih mengalami kendala kebugaran dan adaptasi, termasuk isu jet lag yang membuat Bruno Paraíba dan Jefferson Silva dipastikan absen.
Itulah mengapa laga ini menjadi ujian awal yang sesungguhnya. Bukan soal hasil semata, tetapi tentang bagaimana Persebaya merespons tekanan, menjaga struktur permainan, dan menunjukkan identitas awal di bawah pelatih baru.
Bagi Malut United, pertandingan ini justru datang tanpa beban berlebihan. Rekam jejak positif, performa stabil, dan skuad berpengalaman membuat mereka bisa bermain lepas. Jika lima pemain kunci tampil sesuai kapasitasnya, tekanan bisa dengan cepat berbalik ke kubu tuan rumah.
Debut Bernardo Tavares pun berada di persimpangan. Bisa menjadi awal yang menjanjikan, atau justru pelajaran keras tentang realitas Super League. Di hadapan publik Gelora Bung Tomo, filosofi, mentalitas, dan ketangguhan Persebaya akan diuji oleh tim yang membawa DNA juara—dan tidak gentar menghadapi siapa pun.




