Punya Potensi Ekonomi Global, Presiden Prabowo Minta Hilirisasi Gambir Dipercepat

bisnis.com
20 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, PADANG - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meminta agar Kementerian Pertanian dan Badan Pengaturan (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perkebunan termasuk PTPN untuk mengambil peran aktif dalam membangun ekosistem hilirisasi berbasis riset, teknologi, dan kemitraan dengan petani rakyat komoditas gambir.

Prabowo menyatakan gambir yang sebagai tanaman endemik Indonesia yang selama ini dikenal secara terbatas memiliki potensi ekonomi global yang besar, harusnya gambir bisa dikembangkan lebih baik lagi, seperti melakukan hilirisasi.

“Pentingnya penguatan hilirisasi dan pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian dan perkebunan sebagai strategi utama meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional,” dikutip dari siaran pers, Jumat (9/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Presiden tidak hanya menyaksikan langsung pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern, tetapi juga meninjau sejumlah produk hilirisasi berbasis komoditas unggulan nasional. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Presiden menilai bahwa Indonesia tidak boleh terus berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah. Menurutnya, komoditas seperti gambir perlu didorong untuk diolah lebih lanjut di dalam negeri agar memberikan nilai tambah yang lebih besar, membuka peluang industri baru, serta meningkatkan pendapatan petani di sentra produksi. 

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan bahwa gambir merupakan komoditas yang selama ini kurang mendapat perhatian publik, padahal memiliki keunggulan yang sangat kuat di pasar internasional.

Baca Juga

  • Nilai Ekspor dan Impor Jawa Barat November 2025 Kompak Turun Signifikan
  • Neraca Dagang RI-Venezuela Surplus Rp956,7 Miliar, Ekspor Otomotif dan Sabun Melejit
  • Ekspor Gambir Sumbar, Peluang Bisnis Hilirasi, dan Cerita Menteri Budi

“Kalau orang mendengar gambir, biasanya langsung teringat dengan sirih. Padahal gambir itu produk strategis. Bahkan ada negara yang sekitar 90 persen kebutuhan gambirnya dipasok dari Indonesia,” kata Jatmiko di sela kegiatan.

Gambir merupakan komoditas yang mengandung antioksidan dengan kadar yang sangat tinggi melebihi green tea yang selama ini dikenal luas sebagai produk kesehatan. Kandungan tersebut membuat gambir memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tinggi.

“Gambir bisa menjadi berbagai bahan pangan seperti teh dan juga bahan baku kosmetik, sabun, sampo, hingga kebutuhan industri. Tanin nya bahkan digunakan sebagai bahan tinta pemilu. Ini menunjukkan betapa luasnya pemanfaatan gambir,” ujarnya.

Namun kondisi yang terjadi selama ini sebagian besar gambir Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai tambah justru dinikmati oleh negara lain yang mengolahnya menjadi produk jadi. Oleh karena itu, upaya hilirisasi dinilai menjadi langkah krusial agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat di dalam negeri.

Jatmiko menyebut bahwa langkah awal yang paling realistis adalah meningkatkan produktivitas gambir rakyat dari lahan yang sudah ada. Saat ini, produktivitas gambir di tingkat petani masih tergolong rendah, berkisar sekitar 0,5 ton per hektar. Dengan pendekatan riset dan metode pengolahan daun gambir yang lebih baik, produktivitas itu bisa ditingkatkan menjadi 0,75 ton bahkan hingga 1 ton per hektar. 

“Artinya, ada potensi peningkatan 50 sampai 100%, dan dampak langsungnya itu ke pendapatan petani,” jelasnya.

Dari sisi akademik, Peneliti sekaligus Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Muhammad Makky menegaskan bahwa gambir merupakan komoditas yang secara alami memiliki keunggulan geografis yang sangat spesifik.

“Secara geografis, Sumatra merupakan kawasan endemik tanaman gambir. Gambir tumbuh di Sumatra Barat, Sumatra Utara, sebagian Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau. Namun yang paling mendukung dari sisi kondisi abiotik dan ekosistemnya adalah Sumatra Barat dan Sumatra Utara,” ungkapnya.

Menurutnya, keunggulan tersebut menjadikan gambir sebagai komoditas yang sulit dikembangkan di negara lain. Namun, keunggulan alam saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas dan penguatan industri hilir.

“Keunggulan komparatifnya sudah ada. Tantangannya sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dan memastikan hasil gambir diolah menjadi produk bernilai tinggi. Di sinilah riset dan teknologi memegang peranan penting,” ujarnya.

Makky menilai bahwa kolaborasi antara BUMN, perguruan tinggi, dan petani menjadi faktor kunci agar pengembangan gambir dapat berjalan berkelanjutan dan berdampak luas.

Kini dengan adanya dorongan Presiden terhadap penguatan hilirisasi gambir dinilai sebagai momentum penting bagi pengembangan komoditas rakyat berbasis keunggulan lokal. Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, gambir tidak hanya berpotensi menjadi produk unggulan ekspor, tetapi juga motor penggerak ekonomi daerah di sentra-sentra produksi Sumatra.

Kemudian upaya peningkatan produktivitas, pembangunan industri pengolahan, serta pengembangan produk turunan gambir diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia pada ekspor bahan mentah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Aturan DHE SDA Sudah Diteken Presiden Prabowo, Purbaya Pastikan Berlaku Tahun Ini
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
OJK: Rerata Transaksi Harian Saham Tembus Rekor Rp 27 T pada Desember
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Tembus Medan Berat, Tim Medis TNI Beri Pelayanan Kesehatan ke Empat Desa Terisolasi
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Tips Menjaga Imunitas di Musim Hujan, Biar Tak Mudah Sakit
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Yusril Sebut Pilkada Lewat DPRD Lebih Mudah Diawasi: Jumlahnya Terbatas
• 11 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.