Internet di seluruh Iran dilaporkan padam pada Kamis (8/1). Hal itu disampaikan kelompok pemantau internet global, NetBlocks.
Peristiwa tersebut terjadi saat Iran tengah dihantam demonstrasi yang dipicu kesulitan ekonomi.
Hingga saat ini belum ada informasi resmi mengenai penyebab pemadaman internet di Iran.
Adapun menurut keterangan sejumlah saksi mata, selain pemadaman internet, demonstrasi kembali terjadi di Iran pada Kamis ini. Lokasi aksi berlangsung di Teheran dan sejumlah kota besar lain seperti Mashhad dan Isfahan.
Para demonstran di kota-kota tersebut meneriakkan yel-yel penolakan terhadap kekuasaan rezim ulama yang memimpin Republik Islam Iran.
Pada saat bersamaan, mantan putra mahkota Iran, Reza Pahlavi — yang saat saat ini tinggal di pengasingan di Amerika Serikat — menyerukan agar protes diperluas. Kekuasaan Shah Pahlavi sendiri tumbang lewat Revolusi Iran pada 1979.
Menurut berbagai unggahan di media sosial—yang kebenarannya belum terkonfirmasi—para demonstran mulai meneriakkan slogan pro-Pahlavi.
Namun, laporan mengenai demonstrasi di kota-kota besar tersebut dibantah kantor berita Iran. Mereka mengeklaim kondisi di Iran sudah kembali tenang.
Demonstrasi di Iran sendiri telah berlangsung sejak Desember 2025. Awalnya, aksi dimulai di Grand Bazaar Teheran— jantung ekonomi bersejarah di Iran. Para pedagang di kawasan itu menumpahkan kemarahan akibat anjloknya nilai mata uang rial.
Unjuk rasa di Grand Bazaar kemudian menyebar ke berbagai wilayah lain seiring inflasi yang kian meroket, dipicu sanksi Barat serta pembatasan kebebasan politik dan sosial.
Untuk meredakan demonstrasi dan memperbaiki perekonomian, Presiden Masoud Pezeshkian meminta para pemasok barang agar tidak menimbun atau menaikkan harga.
“Masyarakat tidak boleh merasa kekurangan dalam hal pasokan dan distribusi barang,” kata Pezeshkian, seperti dikutip dari Reuters.
Ia menegaskan pemerintah akan memastikan ketersediaan barang serta memantau stabilitas harga.
Sementara itu, di tengah gelombang demonstrasi di Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan siap bertindak tegas apabila aparat setempat menembaki demonstran.





