Kisah Nafil WNI Pekerja di Dubai: Tak Ada Pajak Penghasilan, tapi...

insertlive.com
1 hari lalu
Cover Berita

Selama menginap di hotel strategis di kawasan Downtown Dubai, InsertLive berkesempatan berbincang dengan Nafil salah satu warga negara Indonesia yang bekerja di Indigo Dubai Downtown Hotel. Selama wawancara singkat, Nafil bercerita mula dirinya bisa terjun ke dunia perhotelan di Dubai.

"Awalnya aku ikut program kelas bahasa Inggris saat masih kelas 12 SMA selama 3 bulan sebelum kelulusan. Setelah lulus, lanjut daftar magang ke luar negeri lewat sekolah perhotelan di Yogyakarta yang memakan waktu pendidikan lebih kurang 5 bulan sampai turun kontrak," kata Nafil secara eksklusif pada InsertLive.

"Dari situ aku apply ke beberapa hotel di UAE, sampai akhirnya diterima di Hotel Indigo Dubai Downtown. Prosesnya cukup panjang sekitar 2 bulan, mulai dari interview online, persiapan dokumen, sampai keberangkatan ke Dubai. Buat aku ini pengalaman pertama kerja di luar negeri, jadi sekalian belajar kerja di lingkungan internasional," sambungnya.

Nafil masih berstatus intern sebelum akhirnya kembali mengajukan kontrak untuk menjadi karyawan tetap di hotel yang paling strategis di kawasan kota Downtown Dubai tersebut.

"Durasi magangnya 1 tahun. Sistem kerjanya full-time dengan shift seperti hotel pada umumnya. Untuk fasilitas, hotel menyediakan akomodasi, transport ke tempat kerja, makan saat shift, dan asuransi. Jadi kebutuhan dasar sudah ditanggung, dan aku bisa fokus belajar plus kerja," sambungnya.

Untuk pendapatan, Nafil menyebut bahwa sistem gaji di Dubai memang tidak dipangkas oleh pajak penghasilan, tapi ditentukan pada sektor, posisi, serta perusahaan. Meski nominal gaji ditentukan berdasarkan hal-hal tersebut, Nafil menyebut fasilitas yang disediakan cukup baginya untuk bisa menabung dan mengirim ke keluarga.

"Memang di Dubai tidak ada pajak penghasilan kerja seseorang. Tapi sistem gaji sangat tergantung pada sektor, posisi, dan perusahaan. Di perhotelan, khususnya untuk level magang atau entry-level, yang paling terasa justru fasilitas yang disediakan, jadi pengeluaran bisa sangat minim walaupun nominal gaji berbeda-beda," kata Nafil lagi.

Berasal dari Yogyakarta—kota yang tenang, bekerja di Dubai dengan penghasilan tinggi, memang impian Nafil. Jauh dari kampung halaman, ia tetap rindu akan kehangatan makanan di Indonesia.

"(Kangen banget) Pasti, keluarga dan suasana rumah. Selain itu, makanan Indonesia juga paling dikangenin, kayak masakan ibu di rumah, jajanan pinggir jalan, sama suasana desa yang tenang dan sederhana," tegas Nafil.

Selain rindu soal kampung halaman, Nafil tetap melihat perkembangan Indonesia melalui media sosial. Namun, Nafil tak mau ambil pusing soal urusan politik dan memilih untuk diam di media sosial ketimbang membahas hal-hal yang menurutnya bukan berada dalam ranahnya selain fokus bekerja.

"Sebagai orang Indonesia, tentu tetap mengikuti perkembangan di Tanah Air. Tapi aku pribadi lebih memilih menikmati pengalaman di sini dan fokus kerja. Untuk urusan politik atau pemerintah, aku nggak pernah spill di media sosial karena lebih nyaman menyimpannya sebagai opini pribadi," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ratusan WBP kasus narkoba Lapas Semarang di tes urine
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Penegakan Hukum Tata Kelola Aset Perkara Korupsi Dinilai Minim Pengawasan
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Mendagri Izinkan Kepala Daerah Terdampak Bencana Sumatra Ubah APBD
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dua Penusuk Pengemudi Mobil di Mampang Ditangkap di Surabaya
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Dongeng Hollywood yang Nyata: Wrexham Runtuhkan Kutukan 26 Tahun
• 20 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.