jpnn.com, JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku, terdapat 22 desa yang hilang akibat bencana yang menerjang Pulau Sumatra pada Desember 2025 lalu.
Tito Karnavian menjelaskan, 22 desa yang hilang itu rincian adalah, 13 desa di Aceh, delapan desa di Sumatra Utara, dan satu desa di Sumatra Barat.
BACA JUGA: Polri Tetapkan Korporasi dan Individu Tersangka Pembalakan Liar Picu Banjir Sumut, Siapa?
Selain itu tercatat sebanyak 1.580 kantor desa di tiga provinsi tersebut terdampak, sehingga pemerintahan desa tidak dapat berfungsi secara normal.
"Hampir seluruh daerah-daerah yang terdampak ada 52 daerah. Di kawasan dan kota di tiga provinsi di Aceh, 18 di Sumatra Utara, kemudian tiga di Sumatra Barat. Sumatra Barat paling cepat recover dan tinggal tiga daerah yang menjadi atensi utama yaitu Agam," kata Tito dikutip Jumat (9/1).
BACA JUGA: Begini Materi Pembelajaran di Sekolah untuk Korban Banjir Sumatra
Tito juga menyebutkan wilayah Aceh saat ini menjadi dampak terbesar, yakni 1.455 kantor desa terdampak, disusul Sumatra Utara dengan 93 kantor desa terdampak, dan Sumatra Barat sebanyak 32 kantor desa.
Kemudian, lanjutnya, wilayah Aceh Utara dan Aceh Tamiang menjadi daerah dengan jumlah desa terdampak terbanyak.
Tito mengatakan, sebagian besar sudah pemulihan, tinggal lima yang mendapat perhatian yakni, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga.
"Dan untuk Aceh memang yang paling berat terdampak dari 18 kabupaten, 11 sudah jauh membaik, yang tujuh lagi ini memerlukan atensi spesifik untuk dapat dipulihkan mulai dari Aceh-Tamiang, Aceh-Utara, Aceh-Timur, Aceh-Tengah kemudian Gayo Lues," papar dia.
Untuk itu, Kemendagri telah mengirimkan 1.138 praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk membantu pemulihan wilayah desa yang terdampak bencana.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




