Emiten tambang milik Grup MNC, PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), mengumumkan posisi cadangan batu bara terbaru yang mencapai 301,8 juta ton. Melimpahnya cadangan ini menjadi motor utama perusahaan untuk memacu produksi hingga 7,85 juta ton pada tahun 2026.
Cadangan tersebut tersimpan di tiga anak usaha yang berlokasi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. PT Arthaco Pertiwi Energi (APE) memegang porsi terbesar dengan 222 juta ton, disusul PT Putra Muba Coal (PMC) sebesar 54,8 juta ton, dan PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE).
Presiden Direktur IATA, Suryo Eko Hadianto, menegaskan bahwa keunggulan cadangan ini diperkuat dengan efisiensi logistik yang masif. Jarak dari tambang ke pelabuhan (port) diklaim sebagai salah satu yang terpendek di wilayahnya.
Baca Juga: Produksi Batubara IATA Tembus 3,38 Juta Ton di 2025
"Tambang APE ini punya cadangan batubara sebesar 222 juta ton dengan kualitas berada pada rentang 3.100 GAR sampai 3.300 GAR. Sementara dari sisi pengangkutan batubara dari front penggalian ke port, jaraknya hanya sekitar 10 kilo. Ini sangat pendek," ujar Suryo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Sepanjang tahun 2025, IATA mencatatkan realisasi produksi (coal getting) sebesar 3,37 juta ton. Capaian tersebut mencerminkan tingkat tercapainya target RKAB 2025 yang dipatok sebesar 4,2 juta ton atau sekitar 80%.
Menatap tahun 2026, IATA tancap gas dengan mengajukan rencana produksi hampir dua kali lipat dari realisasi tahun sebelumnya. Dalam pengajuan RKAB ke Kementerian ESDM, IATA membidik total produksi sebesar 7,85 juta ton, yang dikontribusi dari PMC (3,7 juta ton), APE (3 juta ton), dan IBPE (1,1 juta ton).
"Dalam pengajuan kami di RKAB tahun 2026, in total produksi IATA adalah 7,85 juta ton. Angka ini masih sangat tentatif atau subject to dari persetujuan Menteri ESDM," jelas Suryo.
Baca Juga: Gandeng Grup Astra, MNC Energy (IATA) Mulai Operasi Tambang Batu Bara di Sumsel
IATA mengidentifikasi PT Arthaco Pertiwi Energi (APE) sebagai aset masa depan yang akan menjadi mesin pertumbuhan utama. Tak tanggung-tanggung, kapasitas infrastruktur pelabuhan di blok ini tengah disiapkan untuk menampung volume hingga belasan juta ton per tahun.
Direktur IATA Heldi menyebutkan dengan dukungan kontraktor baru PT Kalimantan Prima Persada (KPP), perusahaan siap melakukan lompatan besar.
"APE dengan cadangan sebesar 222 juta ini adalah cadangan terbesar IUP yang dimiliki oleh IATA. Jadi masa depan IATA ada di IUP ini. Ke depan kita akan hit sampai ke 10 juta ton per tahun untuk di APE," tegas Heldi.
Sebagai informasi, IATA juga memastikan operasional di awal tahun 2026 tetap berjalan aman melalui kuota transisi RKAB tiga tahunan, meski persetujuan final untuk target 2026 masih dalam proses di pemerintah. Perusahaan juga menjamin operasional tidak terganggu oleh bencana alam di wilayah Sumatera lainnya maupun aturan jalan lintas, karena IATA menggunakan jalan khusus batubara (dedicated hauling road) milik sendiri.





