Kasus Superflu Muncul di Indonesia, Seberapa Bahayanya?

tvonenews.com
14 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com — Istilah superflu belakangan ramai diperbincangkan publik dan memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Penyebarannya yang cepat membuat sebagian warga khawatir penyakit ini berpotensi berbahaya seperti Covid-19. Namun, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menegaskan bahwa tingkat bahayanya tidak melebihi influenza biasa.

Ketua Dewan Penasihat IDI, Daeng M Faqih, menjelaskan bahwa superflu sejatinya bukan istilah medis. Dalam dunia kedokteran, virus yang dimaksud adalah Influenza A strain H3N2 subclade K, yang telah lama dikenal dan dipantau oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, serta Kementerian Kesehatan RI.

“Superflu itu istilah masyarakat ya, istilah populer, bukan istilah medis,” kata Daeng, Rabu (7/1/2026).

Tidak Lebih Berbahaya dari Influenza Umum

Daeng menegaskan, meski penamaannya terdengar mengkhawatirkan, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan virus ini lebih berbahaya dibandingkan virus influenza pada umumnya.

Berdasarkan laporan WHO, tingkat keparahan infeksi Influenza A H3N2 subclade K tidak melebihi influenza musiman yang selama ini beredar.

“Kalau tingkat berbahayanya, sudah ada laporan dari WHO bahwa tidak ditemukan tingkat keparahan yang melebihi virus influenza biasa,” ujar Daeng.

Karena itu, IDI meminta masyarakat tidak panik berlebihan. Menurut Daeng, membandingkan superflu dengan Covid-19 juga tidak tepat karena keduanya berasal dari kelompok virus yang berbeda.

“Covid itu golongan Coronavirus. Ini virus Influenza tipe A, H3N2. Sama-sama virus, tapi beda jenis dan karakter,” jelasnya.

Cepat Menular, Tapi Tidak Mematikan

Meski tidak lebih mematikan, Daeng mengakui bahwa Influenza A H3N2 subclade K memiliki tingkat penularan yang cepat. Inilah yang membuat kasusnya terdeteksi di berbagai daerah dalam waktu relatif singkat.

Sejumlah pasien dilaporkan mengalami gejala yang terasa lebih berat dibanding flu biasa, meskipun tidak mengarah pada kondisi fatal.

Gejala yang sering dikeluhkan antara lain:

  • Nyeri tenggorokan

  • Nyeri punggung

  • Nyeri tulang dan otot

  • Demam dan lemas

“Karena ada gejala-gejala seperti itu dan penyebarannya cepat, masyarakat tetap harus waspada, tapi tidak perlu takut berlebihan,” ujar Daeng.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ratusan Gedung Permanen Sekolah Rakyat Dibangun Tahun 2026
• 1 jam lalukompas.id
thumb
Indonesia Terpilih jadi Presiden Dewan HAM PBB, Amnesty International Indonesia: Kebanggaan Semu!
• 14 jam lalusuara.com
thumb
Dilaporkan atas Dugaan Penistaan Agama, Pandji Pragiwaksono: Banyak Banget yang...
• 16 jam laluinsertlive.com
thumb
Masih Buron, Iman P2G Bongkar Jejak Karier Jurist Tan, pernah Jadi Tenaga Ahli di Kantor Staf Presiden era Jokowi
• 23 jam lalufajar.co.id
thumb
Roster Kesatria Bengawan Solo untuk IBL 2026
• 14 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.