Jakarta, tvOnenews.com - Terungkap alas an Amerika Serikat (AS) menilai peran China dalam gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja bersifat terbatas. Hal ini lantaran upaya Beijing untuk mempertemukan kedua pihak dilakukan setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai.
Penilaian tersebut disampaikan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik Michael George DeSombre dalam pengarahan pers virtual yang diikuti dari Jakarta, Jumat (9/1/2026).
“Saya rasa saya benar-benar tidak mengetahui apa yang dilakukan China selain mengadakan sebuah pertemuan setelah gencatan senjata terakhir diberlakukan. Oleh karenanya, menurut saya tidak ada banyak hal terkait itu,” jelas DeSombre.
Pada 29 Desember, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menjadi tuan rumah pertemuan trilateral yang melibatkan China, Wakil Perdana Menteri Kamboja sekaligus Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow, serta pejabat militer senior dari ketiga negara.
Sehari setelah gencatan senjata Thailand dan Kamboja tercapai pada 27 Desember, Wang Yi juga menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn.
Dalam pertemuan tersebut, Wang Yi menyatakan bahwa China terus memantau secara saksama situasi di perbatasan Kamboja-Thailand.
Ia juga mendorong kedua negara untuk secara bertahap mewujudkan gencatan senjata yang menyeluruh dan berkelanjutan, memulihkan hubungan bilateral, membangun kembali kepercayaan, serta mencegah eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, DeSombre menyoroti keterlibatan langsung AS dalam proses menuju gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja.
Ia menyebutkan bahwa Washington, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, berperan aktif dalam upaya pemulihan perdamaian.
“Pada 26 Juli, Presiden Trump turun tangan secara tegas dengan menelepon para pemimpin kedua negara dan mendesak mereka untuk menempuh jalur perdamaian, serta memperingatkan bahwa sejumlah inisiatif akan dihentikan sementara sampai pertempuran berakhir,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam waktu 24 jam setelah panggilan telepon tersebut, Kamboja dan Thailand sepakat mengirim delegasi ke Malaysia untuk mengikuti perundingan gencatan senjata yang difasilitasi bersama oleh Malaysia selaku Ketua ASEAN.
AS, lanjut DeSombre, juga secara aktif mengirimkan perwakilan untuk mengawal proses perundingan yang berlangsung dalam beberapa putaran, termasuk pada Agustus, Oktober, November, hingga akhirnya kesepakatan tercapai pada Desember.


