Pasca-Maduro: Kemenangan Taktis dan Beban Geopolitik Amerika

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat pada awal Januari 2026 segera dirayakan sebagai kemenangan geopolitik Washington di Belahan Bumi Barat. Setelah lebih dari satu dekade menghadapi rezim yang membangkang, Amerika akhirnya berhasil merobohkan simbol perlawanan paling keras di Amerika Latin. Namun, seperti banyak intervensi sebelumnya, jatuhnya seorang pemimpin tidak serta-merta berarti berakhirnya sebuah krisis. Justru di sinilah masalah sesungguhnya dimulai.

Runtuhnya rezim Maduro membuka fase baru yang jauh lebih kompleks. Amerika kini tidak hanya berhadapan dengan persoalan siapa yang berkuasa di Caracas, tetapi juga bagaimana mengelola negara yang nyaris gagal, pasar energi yang bergejolak, serta reaksi balasan dari kekuatan global yang selama ini menjadikan Venezuela sebagai medan proksi.

Intervensi Washington tidak dapat dipahami sebagai proyek idealistik demokratisasi. Agaknya ia lebih tepat dibaca sebagai kalkulasi realis yang dingin. Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, dan kontrol atas sumber daya ini menjadi kepentingan strategis utama Amerika. Repatriasi akses korporasi energi AS bukan sekadar soal bisnis, melainkan upaya menata ulang keamanan energi domestik sekaligus menekan dominasi aktor non-Barat.

Di saat yang sama, tumbangnya Maduro berarti terputusnya aliran minyak subsidi ke Kuba, sebuah negara yang sejak lama menjadi simbol resistensi anti-Amerika di Karibia. Dari sudut pandang Washington, melemahkan Caracas berarti memukul Havana. Selain itu, Venezuela selama bertahun-tahun berfungsi sebagai penyangga energi bagi Tiongkok. Mengganggu suplai ini merupakan bagian dari strategi containment dalam persaingan hegemonik yang kian terbuka antara Washington dan Beijing.

Masalahnya, setelah struktur kekuasaan diruntuhkan, Amerika terjebak dalam dilema klasik yang kerap disebut Doktrin Pottery Barn: siapa yang memecahkan, dia yang bertanggung jawab. Dengan absennya Maduro, risiko kekosongan kekuasaan dan fragmentasi negara menjadi ancaman nyata. Di titik inilah pragmatisme Trump terlihat jelas. Alih-alih mendorong oposisi demokratis secara penuh, Washington justru merangkul sisa-sisa elit lama demi menjaga stabilitas birokrasi dan sektor minyak tetap berjalan.

Stabilitas administratif dibeli dengan mengorbankan konsistensi normatif. Demokrasi ditunda atas nama ketertiban. Amerika, sekali lagi, harus memilih antara nilai dan kepentingan.

Dampak paling cepat terasa justru muncul di pasar minyak global. Embargo total terhadap Venezuela menciptakan guncangan suplai minyak berat yang selama ini menjadi tulang punggung sejumlah kilang di Amerika Serikat dan Asia. Ketidakjelasan status kontrak lama dengan Tiongkok dan Rusia meningkatkan ketidakpastian hukum dan premi risiko. Janji banjir minyak di masa depan belum cukup menenangkan pasar yang lebih sensitif terhadap isu sabotase, keamanan infrastruktur, dan instabilitas politik.

Bagi Rusia dan Tiongkok, intervensi ini jelas bukan peristiwa netral. Beijing berpotensi menempuh langkah ekonomi dan hukum untuk mengamankan utang Venezuela, sementara Moskow memiliki kepentingan strategis untuk memastikan bahwa kemenangan Amerika tidak berlangsung murah. Dukungan tidak langsung terhadap aktor loyalis lama atau eskalasi asimetris menjadi opsi yang sulit diabaikan.

Di tingkat regional, Amerika Selatan ikut bergetar. Kolombia menghadapi ancaman penguatan kelompok bersenjata lintas batas dan gelombang pengungsi baru. Brasil berada dalam dilema antara kebutuhan stabilitas energi dan kekhawatiran atas kehadiran militer asing di dekat Amazon. Di atas semuanya, kawasan dihantui risiko "Somalialisasi" Venezuela, fragmentasi kekuasaan yang melahirkan panglima perang, kriminalitas transnasional, dan instabilitas kronis.

Pada akhirnya, penangkapan Maduro hanyalah kemenangan taktis. Beban strategis justru baru dimulai. Keberhasilan Amerika tidak akan diukur dari tumbangnya satu figur, melainkan dari kemampuannya membangun tatanan hukum, fiskal, dan keamanan yang berkelanjutan di tengah tekanan domestik dan global. Tanpa kejelasan arah transisi dan pencabutan sanksi, Venezuela berisiko menjadi luka geopolitik terbuka yang terus menginfeksi stabilitas Amerika Latin dalam jangka panjang.

***


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Membuka Akses, Menjaga Martabat: Layanan Pendengaran Inklusif Hadir di Papua
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
DLH Kabupaten Bogor Segel Perusahaan di Parungpanjang Diduga Buang Limbah B3
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Barang Remeh dari Indonesia yang Ternyata Mahal di Luar Negeri
• 8 jam laluberitajatim.com
thumb
Pandji Sampaikan Terimakasih Usai Mens Rea Dipolisikan | SAPA MALAM
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Keluarga Kecewa Polda Metro Setop Penyelidikan Kematian Diplomat Arya Daru
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.