Peta Otomotif Asia Tenggara Berubah, Mobil Jepang Mulai Tersingkir

viva.co.id
15 jam lalu
Cover Berita

VIVA- Pabrikan mobil Jepang mulai kehilangan pangsa pasar di kawasan Asia Tenggara. Posisi yang selama puluhan tahun sangat dominan kini mulai tergerus, seiring agresifnya ekspansi merek-merek China yang fokus pada mobil listrik (EV) dengan harga lebih terjangkau.

Kondisi ini paling terasa di Thailand, yang selama ini dikenal sebagai basis produksi utama pabrikan Jepang di Asia Tenggara. Sejak 2022, merek China seperti BYD masuk secara masif dengan membangun pabrik lokal dan menawarkan EV berharga kompetitif.

Baca Juga :
Pembeli Mobil Masih Pilih Cara Tradisional Ketimbang Digital
Kamboja Ekstradisi Konglomerat Chen Zi ke China, Dalang Jaringan Scam Global

Dikutip VIVA Otomotif dari The Daily Star, Jumat 9 Januari 2026, dampaknya pangsa pasar sembilan merek Jepang di Thailand turun signifikan menjadi 69,8 persen pada 10 bulan pertama 2025. Angka ini merosot 6,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Padahal, sepanjang 2010-an, pabrikan Jepang nyaris menguasai 90 persen pasar Thailand. Bahkan pada 2023, pangsa pasar mereka sudah jatuh ke 77,8 persen dan berpotensi turun di bawah 70 persen untuk sepanjang 2025.

Di ajang Thailand International Motor Expo 2025, Toyota mencoba melawan tren ini dengan meluncurkan Hilux terbaru. Pikap yang sering disebut sebagai “mobil nasional” Thailand tersebut kini hadir dengan penyempurnaan mesin diesel yang lebih irit, sekaligus tambahan varian listrik.

Presiden Toyota Motor Thailand, Noriaki Yamashita, menegaskan pihaknya ingin menjaga rantai pasok dengan cara mendongkrak penjualan.

Situasi serupa juga terjadi di Indonesia, yang menyumbang sekitar 30 persen pasar otomotif Asia Tenggara. Pangsa pasar pabrikan Jepang di Tanah Air turun di bawah 90 persen pada 2024, lalu kembali merosot menjadi 82,9 persen pada 10 bulan pertama 2025. Di Vietnam, persaingan antara merek Jepang dan pemain baru juga semakin ketat.

Masuknya mobil-mobil China menjadi faktor utama perubahan peta persaingan. Dengan harga EV yang lebih murah, pabrikan China berhasil merebut lebih dari 20 persen pasar Thailand. Mereka juga mulai serius bersaing di Indonesia dengan membangun fasilitas produksi lokal.

Tekanan ini membuat sejumlah merek Jepang mengurangi kapasitas produksi. Honda berencana menggabungkan dua pabrik mobilnya di Thailand menjadi satu lokasi mulai 2026. Mitsubishi Motors bahkan akan menghentikan produksi di satu dari tiga pabriknya pada 2027.

Baca Juga :
Trump Yakin China Tidak Akan Merebut Taiwan Selama Ia Jadi Presiden AS
Jadi Tersangka Korupsi Kuota Haji, Ini Koleksi Mobil Yaqut Cholil Qoumas
Pakai Sedan BMW Bekas buat Harian di Jakarta, Segini Biaya Bulanannya

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tips Makeup Simpel untuk Melamar Kerja
• 16 jam laluinsertlive.com
thumb
Soal Wacana Pilkada Lewat DPRD, Menko Yusril: Konstitusional dan Minim Biaya Politik
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Wasekjen PBNU Nilai Gus Yahya Ulur Waktu, Islah Tak Ditindaklanjuti
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Dirut Bulog Sebut Stok Beras 3,35 Juta Ton Aman Hingga Idul Fitri 2026
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Cuaca Ekstrem Sebabkan Pohon Tumbang Dominasi Bencana di Kota Cirebon
• 4 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.