Gaji Dua Digit Pertama: antara Mimpi, Tekanan, dan Kesiapan Diri

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Gaji dua digit bukan sekadar angka. Ia menjadi simbol. Simbol berhasil. Simbol “sudah sampai”. Simbol bahwa semua lelah, begadang, dan keraguan selama ini akhirnya terbayar. Angka itu sering muncul dalam obrolan santai, konten media sosial, hingga target personal yang ditulis diam-diam di notes ponsel.

Namun jarang kita bertanya: apa makna sebenarnya di balik target dua digit itu?

Keinginan mengejar gaji dua digit di usia muda sering kali dipandang dengan dua kacamata ekstrem. Di satu sisi, ia dipuji sebagai tanda ambisi dan daya juang. Di sisi lain, ia dicurigai sebagai ketidaksabaran dan obsesi materi. Padahal, bagi banyak Gen Z, target ini lahir dari realitas yang sangat nyata: biaya hidup yang terus naik, ketidakpastian ekonomi, dan keinginan untuk hidup lebih aman bukan sekadar terlihat sukses.

Pertanyaannya bukan apakah target itu salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: dari mana dorongan itu datang, dan apakah kesiapan kita tumbuh seiring targetnya?

Di era digital, gaji dua digit terasa lebih dekat sekaligus lebih menekan. Kita melihat banyak orang yang “sudah sampai” di usia yang terasa terlalu muda. Kita jarang melihat cerita panjang di baliknya—tentang tahun-tahun belajar, gagal, atau bertahan di fase yang tidak terlihat. Yang muncul hanyalah hasil akhir, dipadatkan dalam satu angka.

Gaji tinggi hanya sekadar ambisi

Tanpa sadar, angka itu berubah dari tujuan menjadi pembanding. Dari motivasi menjadi tekanan. Kita mulai merasa tertinggal, meski perjalanan kita baru saja dimulai.

Coba refleksikan sejenak: apakah keinginan dua digit ini muncul dari kebutuhan hidup yang realistis, atau dari rasa takut tertinggal dari orang lain?

Masalah sering muncul ketika target finansial berlari lebih cepat daripada kapasitas diri. Gaji bisa naik, tapi jika skill belum matang, tekanan akan datang dari arah yang tak terduga. Tanggung jawab membesar, ekspektasi meningkat, sementara kepercayaan diri belum sepenuhnya terbentuk. Dari luar terlihat “naik kelas”, dari dalam terasa terus dikejar.

Riset dalam Academy of Management Perspectives menunjukkan bahwa individu cenderung mengovervalue indikator kesuksesan eksternal seperti gaji dan jabatan, sementara meng-underestimate faktor internal seperti kesiapan psikologis, energi, dan kapasitas belajar. Akibatnya, banyak pencapaian yang tampak maju secara angka, namun rapuh secara keberlanjutan.

Di titik ini, target dua digit perlu direframe. Bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai konsekuensi dari proses yang sehat. Pertanyaannya bergeser dari “kapan aku sampai dua digit?” menjadi “apa yang perlu aku bangun agar dua digit itu layak dan berkelanjutan?”

Ambisi tidak perlu dimatikan. Tapi ia perlu diarahkan. Dua digit yang datang terlalu cepat tanpa fondasi sering kali menciptakan kecemasan baru—takut tidak mampu mempertahankan, takut tidak cukup pintar, takut suatu hari tersingkir. Stresnya tidak hilang, hanya berganti bentuk.

Bayangkan skenario yang berbeda. Gaji dua digit yang datang seiring dengan kapasitas diri. Peran yang lebih besar diiringi kejelasan kontribusi. Penghasilan yang naik sejalan dengan rasa percaya diri yang nyata. Dalam kondisi ini, dua digit bukan sekadar angka di slip gaji, tapi rasa aman bahwa kamu tahu apa yang kamu lakukan dan mengapa kamu dibayar sebesar itu.

Pertanyaannya: jika target dua digit tercapai besok, apakah hidupmu akan terasa lebih tenang atau justru lebih cemas?

Karier yang sehat memahami bahwa setiap fase punya fokusnya sendiri. Ada fase belajar, di mana kesalahan adalah investasi. Ada fase eksplorasi, di mana arah belum sepenuhnya jelas. Ada fase akselerasi, di mana kapasitas dan peluang mulai bertemu. Memaksa fase akselerasi terlalu dini sering kali membuat perjalanan terasa berat dan singkat.

Bagi Gen Z, tantangannya bukan sekadar mencapai dua digit pertama, tetapi membangun diri yang mampu hidup nyaman di angka tersebut. Itu berarti memahami skill apa yang sedang dibangun, nilai apa yang ingin dibawa, dan batas energi apa yang perlu dijaga.

Sebelum menetapkan target dua digit, ada baiknya bertanya dengan jujur: skill apa yang membuatku layak dibayar dua digit? Masalah apa yang bisa aku selesaikan dengan konsisten? Dan apakah aku siap secara mental dengan tuntutan yang menyertainya?

Dua digit pertama bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Ia tentang siapa yang paling siap ketika sampai. Karena pada akhirnya, pencapaian finansial yang sehat bukan yang membuat kita terlihat berhasil, melainkan yang membuat hidup terasa lebih stabil dan bermakna.

Bagi Gen Z, mengejar dua digit boleh. Bermimpi besar sah. Tapi memastikan diri tumbuh seiring target itulah yang membuat mimpi itu benar-benar menjadi milikmu.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rumah Kosong Terbakar di Tanjung Priok, Rumah di Belakang Ikut Terdampak
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Manfaat Rutin Jalan Kaki 15 Menit Sehari
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Prediksi Skor Manchester City vs Exeter City: Head to Head, Susunan Pemain
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Neymar Pamer Koleksi Mewah dari Batmobile hingga Batcopter, Harganya Bikin Melongo
• 29 menit lalumedcom.id
thumb
Banjir Kepung Demak, Sungai Dangkal dan Pintu Air Jebol jadi Penyebab
• 15 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.