Rizal (32), barista pada Broeder Coffee, menuang biji kopi arabika racikan khusus ke mesin grinder di tempat kerjanya yang berwujud mobil Volkswagen tipe Combi, Selasa (6/1/2026). Pengalamannya sebagai peracik kopi selama bertahun-tahun membuat pria itu tetap cekatan saat membuat minuman pesanan pembeli meski kabin mobil buatan Jerman itu hanya selebar kurang dari 2 meter.
Sepasang suami istri menunggu minuman pesanan mereka di meja dan kursi kecil yang diletakkan di depan mobil yang diparkir di sisi barat laut Stadion Kridosono itu. Langit senja yang beradu dengan cahaya kuning dari lampu dekorasi di sekitar kafe berjalan itu membuat suasana terasa damai meski di dekat mereka berseliweran kendaraan tanpa henti.
Bagi Rizal, menjadi barista di dalam mobil terasa lebih santai dibandingkan pekerjaan sebelumnya yang mengharuskannya menjadi pembuat minuman kopi di kedai berpenyejuk udara. Ia juga bisa lebih menyalurkan idealismenya dalam meracik kopi dengan rasa tertentu di tempat itu meski kadang harus berjibaku dengan kondisi cuaca yang tak menentu.
Kedai kopi yang bersifat mobile semakin banyak muncul di Yogyakarta dan mencoba bersaing dengan sejumlah kafe dari pemodal besar yang telah lebih dahulu mendirikan kedai dengan dekorasi atraktif serta menu variatif. Kota pelajar itu bahkan kini telah menyandang julukan sebagai salah satu episentrum kopi nasional karena jumlah kedai kopi yang lebih dari 3.500 tempat.
Kawasan Kotabaru, bilangan Jalan Kaliurang, serta area Seturan adalah sejumlah wilayah dengan kepadatan tempat usaha kopi tinggi. Tak jarang, letak beberapa kedai kopi malah bersebelahan atau berseberangan.
Tingginya harga sewa tempat usaha di Yogyakarta membuat sejumlah pengusaha kopi memilih menjajakan produk mereka dengan kendaraan khusus, seperti mobil atau gerobak. Hal itu dilakukan agar mereka dapat mengurangi pengeluaran biaya sewa tempat.
Adi Wiyono (44), pemilik usaha kopi keliling Pat Pit, menggunakan strategi tersebut agar bisnisnya dapat terus berjalan. Sejak akhir 2024, ia membeli dua gerobak kopi sepeda listrik untuk usahanya itu.
Meski hemat dari segi operasional, kedai kopi keliling memiliki sejumlah kendala, misalnya ketika kondisi alam kurang bersahabat. ”Akhir-akhir ini relatif sepi karena kondisi cuaca. Hujan terus-menerus berdampak signifikan pada penjualan,” kata Adi.
Walau bisnis kopi semakin padat dan harus bersaing ketat, nyaris setiap bulan terdapat kafe baru di Yogyakarta. Tidak sedikit pula kafe yang terpaksa mengibarkan bendera putih meski baru beberapa bulan beroperasi.
”Bisnis kopi di Yogya adalah tren yang tidak akan surut dan terus diminati. Nanti tinggal seleksi alam saja, siapa yang akan bertahan,” ujar Raditya (45), salah seorang pengusaha kedai kopi di Sleman bagian barat. Menurut dia, persaingan bisnis kopi di Yogyakarta semakin seru sekaligus berat sehingga semua kedai kopi, mulai dari skala kecil hingga pemodal besar, harus ”jumpalitan” dalam menawarkan konsep yang berbeda agar tetap menarik di mata konsumen.
Keluhan senada juga dilontarkan oleh para pelaku usaha kopi di Yogyakarta melalui platform media sosial, salah satunya di Threads. Mereka pun saling menyemangati dan berbagi solusi di wadah itu agar sama-sama dapat bertahan di tengah fenomena melemahnya daya beli di masyarakat.
Kedai kopi pun tak ayal telah memiliki andil besar sebagai salah satu penggerak roda perekonomian di Yogyakarta. Selain menjadi tempat pertemuan antara penggemar minuman berkafein dan pengusaha minuman kopi, keberadaannya juga menghidupi ribuan pekerja yang bergantung di dalamnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3292202/original/009672500_1604991193-20201110-Lama-Rusak_-Lift-JPO-Sarinah-Dibiarkan-Terbengkalai-3.jpg)