EtIndonesia. Gelombang krisis di Iran memasuki fase paling genting sejak Revolusi Islam 1979. Aksi protes yang semula bersifat demonstrasi damai kini berkembang menjadi pemberontakan nasional terbuka, menyusul pemutusan total internet, pengerahan militer, serta meningkatnya bentrokan bersenjata di berbagai wilayah.
Rakyat Tetap Turun ke Jalan Meski Internet Diputus
Pada Kamis–Jumat, 8–9 Januari 2026, meskipun pemerintah Iran memutus total akses internet dan sambungan telepon internasional, rakyat tetap turun ke jalan menanggapi seruan Putra Mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi. Demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah kota dengan teriakan slogan anti-pemerintah yang menggema hingga larut malam.
Lembaga komunikasi aktivis HAM yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan bahwa hingga 9 Januari, sedikitnya 45 orang tewas dan 2.270 orang ditangkap akibat bentrokan dan tindakan represif aparat keamanan.
Militer Turun Tangan, Garda Revolusi Ambil Alih Jalanan
Sejumlah unggahan di media sosial sebelumnya mengungkapkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengumumkan penutupan total wilayah udara Iran. Video terbaru yang beredar di platform X memperlihatkan bahwa pada dini hari 9 Januari, pasukan milisi keamanan ditarik dari jalan-jalan ibu kota Teheran dan digantikan langsung oleh unit militer Garda Revolusi.
Langkah ini memicu kekhawatiran luas bahwa pemerintah Iran tengah mempersiapkan penindasan militer berskala besar terhadap rakyatnya sendiri.
Peringatan Keras: Pemutusan Internet Dinilai Sangat Berbahaya
Komentator politik Cai Shengkun menilai bahwa pemutusan total jaringan komunikasi nasional merupakan sinyal ekstrem dan berbahaya. Dia mengingatkan bahwa pada gelombang protes besar sebelumnya, pemadaman internet digunakan aparat keamanan untuk melakukan penangkapan massal dan penembakan terhadap demonstran, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar.
“Setiap kali internet diputus, selalu diikuti darah,” tegasnya.
Bentrok Berdarah di Zahedan
Di Zahedan, ibu kota Provinsi Sistan–Baluchestan, bentrokan hebat pecah pada Jumat, 9 Januari 2026, setelah salat Jumat. Pasukan keamanan dilaporkan melepaskan tembakan langsung ke arah massa di sekitar Masjid Makki, menyebabkan banyak korban luka dan korban jiwa. Insiden ini semakin memperkuat kemarahan publik di wilayah selatan dan timur Iran.
Dari Protes Damai ke Pemberontakan Terbuka
Seiring meningkatnya eskalasi, aksi protes kini berubah menjadi pemberontakan. Laporan dari berbagai daerah menyebutkan bahwa markas Garda Revolusi di Bojnurd serta stasiun televisi nasional di Isfahan telah menjadi sasaran serangan. Para demonstran secara terbuka menyebut situasi saat ini sebagai “pertempuran terakhir” melawan rezim.
Trump Keluarkan Ancaman Serangan
Pada larut malam 8 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras. Dia menyebut semangat rakyat Iran untuk menggulingkan rezim sebagai “luar biasa”, dan memperingatkan bahwa jika pemerintah Iran membantai demonstran, Amerika Serikat siap melancarkan serangan yang sangat keras.
Khamenei Tampil di TV, Tegaskan Tidak Akan Mundur
Sebagai respons, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada 9 Januari 2026 untuk pertama kalinya menyampaikan pidato yang disiarkan televisi nasional. Dia menegaskan bahwa rezim tidak akan mundur dan akan menindak tegas para pengunjuk rasa.
Menurut laporan Reuters, Khamenei bahkan menyampaikan pesan langsung kepada Trump agar “mengurus negaranya sendiri”.
Israel Terbuka Dukung Rakyat Iran
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu secara terbuka memuji keberanian rakyat Iran. Dia menegaskan bahwa rezim Teheran lebih memilih menghabiskan puluhan miliar dolar untuk mendukung Hamas dan Hizbullah daripada mengatasi kelaparan dan kemiskinan di dalam negeri.
Netanyahu menekankan bahwa Israel tidak memusuhi rakyat Iran, melainkan menentang tirani yang menindas mereka. Menteri Kebudayaan Israel bahkan mengungkapkan bahwa agen-agen Israel tengah menjalankan operasi di dalam wilayah Iran.
Dukungan Internasional Mengalir
Dukungan terhadap rakyat Iran juga datang dari Eropa. Putra Mahkota Italia serta Menteri Luar Negeri Austria secara terbuka menyatakan solidaritas dan mengecam keras penindasan yang dilakukan pemerintah Iran.
Internet Diputus, Starlink Disebut Dibuka Diam-diam
Pengamat menilai bahwa Khamenei sangat takut terhadap meluasnya gelombang protes secara nasional dan internasional. Karena itu, dia kembali memerintahkan pemutusan internet untuk mengisolasi Iran dari dunia luar.
Namun, sumber media sosial menyebutkan bahwa Elon Musk secara diam-diam telah menginstruksikan pembukaan akses internet gratis bagi demonstran Iran. Sebelumnya, Musk juga pernah menyediakan layanan internet gratis selama sekitar satu bulan di Venezuela.
Pahlavi Bangun Jalur Politik ke Lingkaran Trump
Reza Pahlavi menegaskan bahwa komunikasi rakyat Iran tidak akan pernah terputus. Dia menyatakan bahwa pemutusan internet justru akan mempercepat kehancuran rezim karena mendorong lebih banyak rakyat turun ke jalan.
Pahlavi dijadwalkan mengunjungi Mar-a-Lago sebelum 12 Januari 2026 untuk menghadiri peringatan 10 tahun Jerusalem Prayer Breakfast dan bertemu Trump. Acara ini juga akan dihadiri putra mantan Presiden Brasil serta sejumlah anggota parlemen dari kubu Bolsonaro.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Pahlavi membangun pengaruh melalui jalur non-resmi di lingkaran pribadi Trump. Di platform X, Pahlavi secara terbuka berterima kasih atas dukungan keras Trump dan menyebut peringatan tersebut sebagai sumber harapan bagi rakyat Iran.
Seruan Aksi Serentak Nasional
Pahlavi menyerukan agar rakyat Iran setiap malam pukul 20:00 serentak turun ke jalan atau berteriak dari jendela rumah. Seruan ini mendapat respons luas di 31 provinsi, mematahkan pola protes sporadis sebelumnya.
Video daring memperlihatkan massa di Teheran dan kota-kota lain mengelilingi api unggun, membakar potret Qassem Soleimani, mencabut kamera pengawas, serta mengibarkan bendera singa dan matahari—simbol nasional Iran sebelum era Republik Islam.
Situasi Militer: AS Siaga, Elite Iran Terbelah
Laporan juga menyebutkan bahwa demonstran di Provinsi Fars telah menerobos gerbang unit militer, sementara penerbangan internasional menuju Iran dibatalkan satu per satu. Markas Garda Revolusi di Bojnurd bahkan dilaporkan diserang secara bersenjata.
Analisis menyimpulkan bahwa Garda Revolusi kini menjadi target utama kemarahan rakyat. Di sisi lain, Presiden Iran dilaporkan memerintahkan agar aparat tidak menembak rakyat, menandakan kemungkinan perpecahan serius di tubuh elite kekuasaan.
Secara paralel, pembom strategis B-52 Amerika Serikat dilaporkan memasuki wilayah Irak, sementara Pasukan Delta AS menggelar latihan di perbatasan Irak–Iran. Pengamat militer menilai bahwa jika penindasan ditingkatkan, AS memiliki kemampuan melakukan serangan presisi cepat terhadap fasilitas militer dan pusat komando Iran.
Dampak Global: Tiongkok Disebut Paling Terancam
Analis Wang Hao menilai bahwa jika Amerika Serikat menerapkan model intervensi seperti di Venezuela, Tiongkok akan menjadi pihak yang paling dirugikan, kehilangan jalur energi dan infrastruktur strategis, serta menghadapi tekanan geopolitik besar dari Washington.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F11%2F987be049818f59d6c6db19c9d9a20979-1001902717.jpg)


