EtIndonesia. Seorang filsuf melewati sebuah padang pasir dan menemukan reruntuhan sebuah kota kuno. Waktu telah membuat kota itu tampak sangat usang dan penuh bekas luka sejarah. Namun jika diperhatikan dengan saksama, kemegahan masa lalunya masih bisa dirasakan.
Sang filsuf ingin beristirahat sejenak. Dia pun memindahkan sebuah patung batu dan duduk di atasnya.
Dia menyalakan sebatang rokok, menatap tembok-tembok kota yang telah ditinggalkan zaman, membayangkan berbagai kisah yang pernah terjadi di sana, lalu tanpa sadar menghela napas panjang.
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara berkata: “Tuan, apa yang sedang Anda sesalkan?”
Dia menoleh ke sekeliling, namun tak seorang pun terlihat. Dia mulai merasa heran. Tak lama kemudian, suara itu terdengar lagi—ternyata berasal dari patung batu yang sedang dia duduki. Rupanya, itu adalah sebuah patung dewa bermuka dua.
Karena belum pernah melihat dewa bermuka dua, sang filsuf pun bertanya dengan heran: “Mengapa kamu memiliki dua wajah?”
Dewa bermuka dua itu menjawab: “Dengan dua wajah, aku bisa menatap masa lalu dan menyerap pelajaran dari pengalaman yang telah terjadi. Di sisi lain, aku juga bisa memandang masa depan dan membayangkan hari esok yang indah tanpa batas.”
Sang filsuf berkata: “Masa lalu hanyalah sesuatu yang telah berlalu dan tak mungkin dipertahankan. Masa depan pun hanyalah kelanjutan dari masa kini, sesuatu yang belum bisa kamu miliki sekarang. Jika kamu tidak menghargai dan memanfaatkan masa kini, lalu apa arti nyatanya mengetahui masa lalu dengan sempurna dan meramalkan masa depan dengan tepat?”
Mendengar perkataan itu, dewa bermuka dua tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
“Tuan, baru sekarang aku menyadari akar dari kehancuranku hari ini,”” katanya.
“Kenapa?” tanya sang filsuf.
Dewa itu menjawab: “Dahulu kala, ketika aku menjaga kota ini, aku membanggakan diri karena mampu menatap masa lalu dan mengintip masa depan. Namun aku justru mengabaikan masa kini. Akibatnya, kota ini jatuh ke tangan musuh. Segala keindahan dan kejayaan lenyap seperti awan yang berlalu. Aku pun dicela oleh manusia dan ditinggalkan di tengah reruntuhan ini.”
Renungan / Hikmah Cerita
Masa kini adalah masa lalu bagi masa depan, sekaligus masa depan bagia masa lalu. Jika kita gagal menggenggam hari ini dengan sungguh-sungguh, maka sesungguhnya kita tidak akan memiliki masa lalu yang bermakna maupun masa depan yang layak diharapkan.




