Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa menjaga keamanan adalah "garis merah" dan militer berjanji untuk melindungi properti publik.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan baru kepada para pemimpin Iran pada hari Jumat (9/1) di tengah aksi protes besar-besaran yang berlangsung di kota-kota besar Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari Sabtu (10/1) juga menyatakan: "Amerika Serikat mendukung rakyat Iran yang berani."
Aksi demo yang diwarnai kerusuhan berlanjut semalaman. Media pemerintah Iran melaporkan sebuah gedung pemerintah kota dibakar di Karaj, sebelah barat Teheran, ibu kota Iran, dan menyalahkan "para perusuh." Televisi pemerintah juga menyiarkan rekaman pemakaman para anggota pasukan keamanan, yang menurut mereka tewas dalam protes di kota-kota Shiraz, Qom, dan Hamedan.
Protes telah menyebar ke sebagian besar wilayah Iran selama dua minggu terakhir, yang dimulai sebagai tanggapan terhadap inflasi yang melonjak. Aksi kemudian dengan cepat berubah menjadi politis, dengan para pengunjuk rasa menuntut diakhirinya pemerintahan ulama. Otoritas Iran menuduh AS dan Israel memicu "kerusuhan." Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan puluhan kematian demonstran.
Dilansir Al Arabiya dan Reuters, Sabtu (10/1/2026), seorang saksi di Iran barat yang dihubungi melalui telepon mengatakan bahwa Garda Revolusi (IRGC) dikerahkan dan melepaskan tembakan di daerah tempat mereka berbicara. Dia menolak untuk disebutkan namanya demi keselamatan mereka.
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah, IRGC menuduh para teroris menargetkan pangkalan militer dan penegak hukum selama dua malam terakhir, membunuh beberapa warga sipil dan personel keamanan.
(ita/ita)

