Surabaya (ANTARA) - Lampu sorot berwarna biru dan merah menyapu panggung utama di salah satu ruangan mal di Surabaya. Di atas panggung itu, 10 remaja duduk dengan punggung tegak dan mata terpaku pada layar gawai di tangan masing-masing.
Selain di panggung utama, ada juga 30 remaja yang terbagi ke dalam tiga kelompok, saling beradu taktik untuk merebut gelar juara.
Suara penyiar dari gim "Mobile Legends: Bang Bang" (MLBB), sesekali menggelegar melalui pengeras suara, disambut sorak-sorai ratusan penonton yang menyaksikan pertandingan melalui layar raksasa.
Ini bukan sekadar turnamen komunitas biasa. Ini adalah "Grand Tournament MLBB Goes to School 2025", sebuah manifestasi dari pergeseran paradigma di Kota Pahlawan.
Selama bertahun-tahun, gim daring sering kali dipandang sebagai "musuh" dalam dunia pendidikan.
Gim daring, dituding sebagai penyebab turunnya nilai akademik, kurangnya sosialisasi, hingga gangguan kesehatan pada anak.
Dinas Pendidikan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memilih jalan yang berbeda untuk menerima keberadaan gim daring.
Alih-alih melarang atau membatasi secara represif, mereka justru menggandeng pengembang gim "Moonton Games" untuk menjinakkan potensi besar tersebut ke arah yang positif.
Melalui slogan "Belajar dulu baru mabar", Surabaya sedang mencoba membuktikan bahwa gawai di tangan pelajar bisa menjadi medali prestasi, asalkan sikap disiplin tetap menjadi kompas utamanya. Mabar sendiri adalah akronim dari main bareng.
Bina karakter
Langkah Pemkot Surabaya dalam merangkul ekosistem e-sports, bukan tanpa alasan yang kuat. Di era digital, saat ini, melarang anak menyentuh gim hampir mustahil dilakukan, tanpa menciptakan jarak komunikasi antara orang tua dan anak.
Maka, kolaborasi dengan pengembang gim menjadi jembatan. Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games Erina Tan menegaskan bahwa kehadiran mereka di sekolah-sekolah, bukan untuk mempromosikan waktu bermain yang tanpa batas, melainkan untuk memberikan literasi digital.
Fokus utama dari gerakan ini adalah pembangunan karakter. Dalam dunia Mobile Legends, seorang pemain tidak bisa menang hanya dengan mengandalkan ego.
Para calon atlet e-sports itu membutuhkan kerja sama tim yang solid, komunikasi yang efektif, serta kemampuan untuk mengambil keputusan cepat di bawah tekanan.
Kualitas-kualitas psikis inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam dunia nyata maupun pendidikan formal.
Lewat turnamen ini, para siswa SD dan SMP diajarkan tentang sportivitas, yakni bagaimana menerima kekalahan dengan kepala tegak dan merayakan kemenangan, tanpa rasa jumawa.
Uniknya, Surabaya tidak hanya melibatkan para siswa, tetapi juga para pendidik. Melalui program MLBB Teacher Ambassador, ini adalah langkah revolusioner yang dibangun oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 328 sekolah di wilayah Jawa Timur, dengan Surabaya sebagai pusat gerakannya.
Tentunya dengan melibatkan guru sebagai duta serta sekolah yang memiliki kontrol internal untuk memahami bahasa anak muda.
Guru tidak lagi berperan sebagai polisi yang merampas ponsel siswa, melainkan sebagai mentor yang mengarahkan kapan waktu untuk belajar dan kapan waktu untuk mengasah bakat di land of dawn.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Febrina Kusumawati menekankan bahwa keseimbangan adalah kunci, bahkan "Belajar dulu baru mabar", bukan sekadar kalimat manis, melainkan kontrak sosial antara siswa, guru, dan orang tua.
Siswa diperbolehkan mengejar mimpi di dunia e-sports, dengan syarat kewajiban akademis mereka tidak terbengkalai.
Sinergi ini menciptakan lingkungan, di mana hobi tidak lagi menjadi beban, melainkan insentif bagi siswa untuk tetap berprestasi di kelas agar mendapatkan restu untuk berkompetisi.
Cetak atlet
Keputusan pengembang gim itu memilih Surabaya sebagai proyek percontohan, bukanlah tanpa pertimbangan matang. Kota ini adalah episentrum atlet muda yang siap mencetak legenda digital dari meja kelas.
Surabaya memiliki infrastruktur digital yang mumpuni serta dukungan pemerintah daerah yang sangat progresif terhadap ekonomi kreatif.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jawa Timur Hadi Wawan juga melihat ajang MLBB Goes To School sebagai fase fundamental dalam pembinaan atlet usia dini.
Selama ini, banyak talenta e-sports muncul secara sporadis, tanpa pembinaan yang terarah. Dengan masuk ke sekolah-sekolah, proses rekrutmen atlet menjadi lebih terukur dan terlindungi.
Pelajar di tingkat SD dan SMP sedang berada pada masa pertumbuhan, di mana motorik dan pola pikir mereka sedang dibentuk.
Mengarahkan mereka ke ekosistem e-sports yang sehat berarti menjauhkan mereka dari perilaku negatif di dunia siber, seperti toxic behavior atau kecanduan yang tidak teratur.
Dalam turnamen resmi seperti ini, ada aturan main yang ketat. Ada jadwal latihan yang disiplin, dan ada pengawasan dari tenaga profesional.
Tentunya, hal tersebut mengubah persepsi main gim, yang tadinya dianggap sebagai aktivitas pasif menjadi aktivitas atletik mental yang kompetitif.
Lebih jauh lagi, ekosistem yang dibangun Pemkot Surabaya dan pengembang ini membuka mata para siswa bahwa karier di dunia e-sports tidak terbatas hanya sebagai pemain.
Lewat seminar dan interaksi selama program, mereka belajar tentang profesi analis, manajer tim, shoutcaster, hingga penyelenggara acara. Ini adalah bagian dari edukasi ekonomi kreatif yang nyata.
Pemkot Surabaya ingin anak-anak mudanya tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pemain kunci dalam industrinya di masa depan.
Hanya saja, di atas semua ambisi prestasi tersebut, kesehatan fisik dan mental tetap menjadi prioritas utama yang selalu ditekankan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, melalui jajarannya, karena penggunaan gawai yang bijak adalah harga mati.
Kampanye ini secara konsisten mengedukasi siswa tentang bahaya durasi di depan layar yang berlebihan dan pentingnya aktivitas fisik di dunia nyata. Dengan demikian, atlet e-sports asal Surabaya diharapkan menjadi sosok yang paripurna, yakni cerdas di kelas, tangkas di layar, dan sehat secara fisik.
Sebagai kota yang dikenal dengan semangat kepahlawanannya, Surabaya, kini sedang melahirkan pahlawan-pahlawan baru di era digital. Mereka adalah anak-anak yang mampu membagi waktu, antara buku pelajaran dan strategi permainan.
Para pelajar dan calon atlet e-sports itu adalah generasi yang memahami bahwa untuk menjadi mythical glory atau peringkat tertinggi di dalam gim, mereka harus terlebih dahulu menjadi juara di kehidupan nyata.
Perjalanan MLBB Goes To School 2025 di Surabaya telah meletakkan standar baru bagi kota-kota lain di Indonesia. Bahwa dengan kolaborasi, keterbukaan, dan disiplin yang kuat, gim bisa menjadi alat transformasi positif bagi pendidikan.
Ketika bel sekolah berbunyi, dan tugas-tugas telah tuntas dikerjakan, barulah mereka bersiap di posisi masing-masing. Karena di Surabaya, masa depan cerah dibangun dengan satu prinsip sederhana, yakni "Belajar dulu, baru mabar".
Selain di panggung utama, ada juga 30 remaja yang terbagi ke dalam tiga kelompok, saling beradu taktik untuk merebut gelar juara.
Suara penyiar dari gim "Mobile Legends: Bang Bang" (MLBB), sesekali menggelegar melalui pengeras suara, disambut sorak-sorai ratusan penonton yang menyaksikan pertandingan melalui layar raksasa.
Ini bukan sekadar turnamen komunitas biasa. Ini adalah "Grand Tournament MLBB Goes to School 2025", sebuah manifestasi dari pergeseran paradigma di Kota Pahlawan.
Selama bertahun-tahun, gim daring sering kali dipandang sebagai "musuh" dalam dunia pendidikan.
Gim daring, dituding sebagai penyebab turunnya nilai akademik, kurangnya sosialisasi, hingga gangguan kesehatan pada anak.
Dinas Pendidikan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memilih jalan yang berbeda untuk menerima keberadaan gim daring.
Alih-alih melarang atau membatasi secara represif, mereka justru menggandeng pengembang gim "Moonton Games" untuk menjinakkan potensi besar tersebut ke arah yang positif.
Melalui slogan "Belajar dulu baru mabar", Surabaya sedang mencoba membuktikan bahwa gawai di tangan pelajar bisa menjadi medali prestasi, asalkan sikap disiplin tetap menjadi kompas utamanya. Mabar sendiri adalah akronim dari main bareng.
Bina karakter
Langkah Pemkot Surabaya dalam merangkul ekosistem e-sports, bukan tanpa alasan yang kuat. Di era digital, saat ini, melarang anak menyentuh gim hampir mustahil dilakukan, tanpa menciptakan jarak komunikasi antara orang tua dan anak.
Maka, kolaborasi dengan pengembang gim menjadi jembatan. Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games Erina Tan menegaskan bahwa kehadiran mereka di sekolah-sekolah, bukan untuk mempromosikan waktu bermain yang tanpa batas, melainkan untuk memberikan literasi digital.
Fokus utama dari gerakan ini adalah pembangunan karakter. Dalam dunia Mobile Legends, seorang pemain tidak bisa menang hanya dengan mengandalkan ego.
Para calon atlet e-sports itu membutuhkan kerja sama tim yang solid, komunikasi yang efektif, serta kemampuan untuk mengambil keputusan cepat di bawah tekanan.
Kualitas-kualitas psikis inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam dunia nyata maupun pendidikan formal.
Lewat turnamen ini, para siswa SD dan SMP diajarkan tentang sportivitas, yakni bagaimana menerima kekalahan dengan kepala tegak dan merayakan kemenangan, tanpa rasa jumawa.
Uniknya, Surabaya tidak hanya melibatkan para siswa, tetapi juga para pendidik. Melalui program MLBB Teacher Ambassador, ini adalah langkah revolusioner yang dibangun oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 328 sekolah di wilayah Jawa Timur, dengan Surabaya sebagai pusat gerakannya.
Tentunya dengan melibatkan guru sebagai duta serta sekolah yang memiliki kontrol internal untuk memahami bahasa anak muda.
Guru tidak lagi berperan sebagai polisi yang merampas ponsel siswa, melainkan sebagai mentor yang mengarahkan kapan waktu untuk belajar dan kapan waktu untuk mengasah bakat di land of dawn.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Febrina Kusumawati menekankan bahwa keseimbangan adalah kunci, bahkan "Belajar dulu baru mabar", bukan sekadar kalimat manis, melainkan kontrak sosial antara siswa, guru, dan orang tua.
Siswa diperbolehkan mengejar mimpi di dunia e-sports, dengan syarat kewajiban akademis mereka tidak terbengkalai.
Sinergi ini menciptakan lingkungan, di mana hobi tidak lagi menjadi beban, melainkan insentif bagi siswa untuk tetap berprestasi di kelas agar mendapatkan restu untuk berkompetisi.
Cetak atlet
Keputusan pengembang gim itu memilih Surabaya sebagai proyek percontohan, bukanlah tanpa pertimbangan matang. Kota ini adalah episentrum atlet muda yang siap mencetak legenda digital dari meja kelas.
Surabaya memiliki infrastruktur digital yang mumpuni serta dukungan pemerintah daerah yang sangat progresif terhadap ekonomi kreatif.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jawa Timur Hadi Wawan juga melihat ajang MLBB Goes To School sebagai fase fundamental dalam pembinaan atlet usia dini.
Selama ini, banyak talenta e-sports muncul secara sporadis, tanpa pembinaan yang terarah. Dengan masuk ke sekolah-sekolah, proses rekrutmen atlet menjadi lebih terukur dan terlindungi.
Pelajar di tingkat SD dan SMP sedang berada pada masa pertumbuhan, di mana motorik dan pola pikir mereka sedang dibentuk.
Mengarahkan mereka ke ekosistem e-sports yang sehat berarti menjauhkan mereka dari perilaku negatif di dunia siber, seperti toxic behavior atau kecanduan yang tidak teratur.
Dalam turnamen resmi seperti ini, ada aturan main yang ketat. Ada jadwal latihan yang disiplin, dan ada pengawasan dari tenaga profesional.
Tentunya, hal tersebut mengubah persepsi main gim, yang tadinya dianggap sebagai aktivitas pasif menjadi aktivitas atletik mental yang kompetitif.
Lebih jauh lagi, ekosistem yang dibangun Pemkot Surabaya dan pengembang ini membuka mata para siswa bahwa karier di dunia e-sports tidak terbatas hanya sebagai pemain.
Lewat seminar dan interaksi selama program, mereka belajar tentang profesi analis, manajer tim, shoutcaster, hingga penyelenggara acara. Ini adalah bagian dari edukasi ekonomi kreatif yang nyata.
Pemkot Surabaya ingin anak-anak mudanya tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pemain kunci dalam industrinya di masa depan.
Hanya saja, di atas semua ambisi prestasi tersebut, kesehatan fisik dan mental tetap menjadi prioritas utama yang selalu ditekankan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, melalui jajarannya, karena penggunaan gawai yang bijak adalah harga mati.
Kampanye ini secara konsisten mengedukasi siswa tentang bahaya durasi di depan layar yang berlebihan dan pentingnya aktivitas fisik di dunia nyata. Dengan demikian, atlet e-sports asal Surabaya diharapkan menjadi sosok yang paripurna, yakni cerdas di kelas, tangkas di layar, dan sehat secara fisik.
Sebagai kota yang dikenal dengan semangat kepahlawanannya, Surabaya, kini sedang melahirkan pahlawan-pahlawan baru di era digital. Mereka adalah anak-anak yang mampu membagi waktu, antara buku pelajaran dan strategi permainan.
Para pelajar dan calon atlet e-sports itu adalah generasi yang memahami bahwa untuk menjadi mythical glory atau peringkat tertinggi di dalam gim, mereka harus terlebih dahulu menjadi juara di kehidupan nyata.
Perjalanan MLBB Goes To School 2025 di Surabaya telah meletakkan standar baru bagi kota-kota lain di Indonesia. Bahwa dengan kolaborasi, keterbukaan, dan disiplin yang kuat, gim bisa menjadi alat transformasi positif bagi pendidikan.
Ketika bel sekolah berbunyi, dan tugas-tugas telah tuntas dikerjakan, barulah mereka bersiap di posisi masing-masing. Karena di Surabaya, masa depan cerah dibangun dengan satu prinsip sederhana, yakni "Belajar dulu, baru mabar".



