Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan telah menerima paparan mengenai berbagai opsi serangan terhadap Iran di tengah gelombang aksi protes yang meluas di negara tersebut.
Mengutip sejumlah pejabat senior AS, The New York Times melaporkan bahwa Trump tengah mempertimbangkan secara serius opsi-opsi tersebut, meski belum mengambil keputusan final.
Menurut laporan tersebut, yang dilansir Antara pada Minggu, 11 Januari 2026, opsi yang dipaparkan kepada Trump mencakup kemungkinan serangan terhadap target non-militer di ibu kota Iran, Teheran. Sejumlah skenario juga melibatkan serangan terhadap aparat keamanan Iran yang menangani aksi protes.
Namun demikian, otoritas Amerika Serikat disebut menyadari bahwa langkah tersebut berisiko memicu dampak berbalik, termasuk kemungkinan serangan balasan terhadap personel militer dan diplomat AS di kawasan Timur Tengah.
Seorang petinggi militer AS mengatakan kepada The New York Times bahwa jika serangan terhadap Iran disetujui, para komandan militer di kawasan membutuhkan waktu untuk mempersiapkan pertahanan menghadapi potensi aksi balasan.
Menanggapi laporan tersebut, Gedung Putih merujuk pada pernyataan Trump sebelumnya yang memperingatkan otoritas Iran akan adanya konsekuensi jika terdapat demonstran yang tewas selama kerusuhan.
Sabtu kemarin, Trump menyatakan kesiapan Amerika Serikat untuk “membantu” Iran. Di hari yang sama, Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, mengunggah sebuah video di platform X yang menyerukan pemogokan umum di Iran.
Pahlavi menyebut tujuan aksi tersebut sebagai persiapan untuk merebut dan menduduki jalan-jalan serta fasilitas strategis. Sebelumnya, ia juga secara terbuka meminta Trump melakukan intervensi di Iran.
Sejak 8 Januari, gelombang unjuk rasa di Iran dilaporkan meningkat menyusul seruan tersebut. Sejumlah video di media sosial memperlihatkan demonstrasi besar-besaran di berbagai kota. Pada hari yang sama, akses internet di Iran dilaporkan terputus.
Aksi protes itu bermula pada akhir Desember 2025 akibat merosotnya nilai mata uang lokal. Para pengunjuk rasa menyoroti fluktuasi tajam nilai tukar rial serta dampaknya terhadap harga grosir dan eceran. Video aksi protes di Teheran dan kota-kota lain kemudian beredar luas di media sosial.
Di tengah situasi tersebut, Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad-Reza Farzin mengundurkan diri. Di sejumlah kota, aksi protes berkembang menjadi bentrokan dengan polisi dan disertai seruan untuk menentang sistem politik yang berlaku.
Jumlah korban tewas akibat protes di Iran dilaporkan meningkat menjadi 65 orang, menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) pada Sabtu.
Baca juga: Iran Nyatakan Kondisi Aman usai Kerusuhan, Polisi Sebut Ada Unsur Teroris



