JAKARTA, DISWAY.ID – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, kekhawatiran masyarakat akan lonjakan harga bahan pangan mulai mencuat.
Salah satu komoditas yang diprediksi bakal mengalami kenaikan harga signifikan adalah telur ayam.
BACA JUGA:FULL TIME: Persib 1-0 Persija, Maung Bandung Juara Paruh Musim Super League!
BACA JUGA:Sinopsis Buku Aurelie Moeremans Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, Kuak Trauma Child Grooming di Usia Remaja
Menanggapi hal tersebut, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) meminta masyarakat untuk mulai melakukan diversifikasi pangan dengan beralih mengonsumsi ikan.
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menjelaskan bahwa strategi ini diperlukan untuk menyeimbangkan permintaan di pasar.
Dengan mengurangi tekanan pada konsumsi telur, diharapkan lonjakan harga yang biasanya terjadi akibat tingginya permintaan menjelang puasa dapat lebih terkendali.
"Sementara harus 'ngalah' dulu yang telurnya, ganti dengan ikan. Strategi ini pernah kita lakukan saat Nataru (Natal dan Tahun Baru) lalu dan terbukti berhasil menjaga harga tidak melonjak terlalu tinggi," ujar Nanik saat konferensi pers, Minggu 11 Januari 2026.
BACA JUGA:Injak Betis Bekham, Bruno Tubarao Diganjar Kartu Merah: Persija Tertinggal 1-0 atas Persib
BACA JUGA:Swasembada Pangan, Pemerintah Siap Ekspor Beras RI ke Malaysia hingga Timor Leste
Nanik menceritakan bahwa pola imbauan serupa pernah diterapkan pemerintah saat momen libur akhir tahun.
Kala itu, masyarakat didorong untuk mengalihkan konsumsi telur ke sumber protein lain seperti daging sapi guna memberikan ruang bagi stabilitas harga di pasar.
Pemerintah berencana untuk kembali menggaungkan kampanye diversifikasi pangan ini melalui Badan Pangan Nasional.
Tujuannya sederhana: agar masyarakat tetap bisa mendapatkan asupan gizi berkualitas tanpa harus tercekik oleh harga pangan yang melambung akibat hukum pasar.



