Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat berisiko mengalami peningkatan gejolak pada pekan ini seiring dengan dimulainya musim laporan keuangan emiten, rilis data inflasi terbaru, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Melansir Reuters pada Senin (12/1/2026), indeks S&P 500 telah menguat hampir 2% sepanjang Januari, melanjutkan tren positif setelah pada 2025 mencatat kenaikan dua digit untuk tahun ketiga berturut-turut.
Saham-saham Wall Street melonjak pada Jumat pekan lalu menyusul data ketenagakerjaan AS yang beragam, yang membuat pelaku pasar tetap mempertahankan ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini.
Penguatan pasar tersebut terjadi di tengah lanskap geopolitik yang kian bergejolak. Setelah operasi militer AS yang menangkap pemimpin Venezuela, sejumlah pejabat dalam pemerintahan Presiden Donald Trump juga melontarkan wacana akuisisi Greenland, termasuk kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Meski demikian, investor masih menilai prospek laba korporasi yang kuat, pelonggaran kebijakan moneter, serta stimulus fiskal yang akan datang sebagai penopang utama pasar saham yang kini memasuki tahun keempat fase bull market.
“Secara keseluruhan, fondasi pasar tahun ini cukup solid,” ujar Kepala Strategi Investasi State Street Investment Management, Michael Arone.
Baca Juga
- Wall Street Ditutup Variatif di Tengah Pelemahan Saham Teknologi
- Wall Street Menguat, Indeks S&P 500 Cetak Rekor Berkat Saham AI
- Wall Street Ditutup Menguat, Ditopang Reli Saham Semikonduktor
Namun, dia mengingatkan pasar berpotensi meremehkan berbagai peristiwa besar yang akan datang. “Memasuki Januari, pasar tampaknya kurang memperhitungkan risiko yang bisa memicu volatilitas lebih tinggi. Suasananya terasa terlalu tenang,” katanya.
Menurut Co-Chief Investment Strategist Manulife John Hancock Investments, Matthew Miskin, ketegangan geopolitik memang mendorong daya tarik aset lindung nilai seperti emas.
Namun, pasar saham relatif tidak terlalu bereaksi. Indeks volatilitas Cboe (VIX) pada Jumat tercatat tidak jauh dari level terendahnya sepanjang 2025. “Pasar terlihat agak kebal terhadap risiko tersebut. Namun, ketika harga aset sudah mendekati kondisi sempurna, ini saat yang tepat bagi investor untuk mempertimbangkan strategi defensif atau perlindungan jika terjadi guncangan geopolitik baru," ujar Miskin.
Musim Laporan KeuanganSementara itu, musim laporan keuangan kuartal IV/2025 akan dibuka oleh bank-bank besar AS pada pekan ini. Pertumbuhan laba yang kuat menjadi salah satu sumber optimisme utama investor saham.
Berdasarkan estimasi LSEG IBES, laba emiten dalam indeks S&P 500 diperkirakan naik 13% sepanjang 2025 dan berlanjut meningkat lebih dari 15% pada 2026.
JPMorgan Chase dijadwalkan merilis kinerja keuangan pada Selasa (13/1/2026), disusul Citigroup, Bank of America, dan Goldman Sachs pada hari-hari berikutnya. Laba sektor keuangan secara keseluruhan diperkirakan tumbuh sekitar 7% pada kuartal IV/2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Manajer portofolio Natixis Investment Managers, Jack Janasiewicz, menilai laporan bank akan menjadi indikator penting untuk mengukur kesehatan konsumen, termasuk tingkat gagal bayar kartu kredit. Konsumsi rumah tangga sendiri menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS.
“Bank-bank berada di garis depan dan akan memberikan sinyal yang sangat penting,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaku pasar masih kesulitan mendapatkan gambaran utuh kondisi ekonomi AS akibat penutupan pemerintah selama 43 hari pada akhir tahun lalu, yang sempat menunda atau membatalkan sejumlah rilis data utama. Kini, arus data mulai kembali normal.
Hal tersebut meningkatkan perhatian terhadap rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS periode Desember yang dijadwalkan pada Selasa. Data ini menjadi salah satu rilis penting terakhir menjelang pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve pada akhir Januari.
The Fed memangkas suku bunga dalam tiga pertemuan terakhir sepanjang 2025 sebagai respons atas melemahnya pasar tenaga kerja. Namun, investor masih belum yakin kapan dan seberapa agresif bank sentral akan melanjutkan pelonggaran kebijakan.
“Pelonggaran The Fed memberikan rasa tenang bagi pasar aset berisiko,” ujar Global Investment Strategist Hartford Funds, Nanette Abuhoff Jacobson.
Menurutnya, seluruh data inflasi ke depan akan menjadi kunci arah kebijakan moneter AS. Jika indikator menunjukkan inflasi kembali merangkak naik, dia menyebut akan muncul pertanyaan besar terkait ruang pelonggaran suku bunga The Fed pada 2026 dan sejauh mana kebijakan tersebut dapat dilanjutkan.




