Penindasan di Iran Meningkat, Ratusan Orang Tewas! Warga Terus Turun ke Jalan untuk Berdemo

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

 Aksi protes rakyat Iran terus berlanjut pada Sabtu (10 Januari). Sementara itu, tindakan penindasan juga semakin meningkat. Menurut laporan organisasi hak asasi manusia, hingga Jumat sedikitnya 65 orang telah tewas, termasuk 7 anak-anak dan remaja, serta 2.311 orang ditangkap. Amerika Serikat menyatakan dukungannya kepada rakyat Iran yang berani. Uni Eropa, Jerman, Inggris, dan Prancis juga turut mengecam rezim Iran dan menyuarakan dukungan bagi rakyat Iran.

EtIndonesia. Video yang diunggah ke media sosial pada Jumat (9 Januari) menunjukkan bahwa meskipun pemerintah memutus akses internet, para demonstran Iran tetap berkumpul di jalan-jalan ibu kota Teheran, mengikuti aksi protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Selama dua pekan terakhir, aksi protes telah menyebar ke 31 provinsi di Iran. Awalnya dipicu oleh melonjaknya inflasi, gerakan ini dengan cepat berkembang menjadi protes terhadap rezim diktator Iran dan tuntutan untuk menggulingkan penguasa.

Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, pada Sabtu menyerukan kepada para demonstran untuk menduduki dan menguasai kota-kota.

Putra Mahkota Iran di Pengasingan, Reza Pahlavi:  “Tujuan kita tidak lagi sekadar turun ke jalan; tujuan kita adalah bersiap untuk menduduki dan menguasai pusat-pusat kota.”

Ia juga mendesak para pekerja yang menguasai sektor-sektor ekonomi vital untuk memulai pemogokan nasional.

Reza Pahlavi:  “Saya menyerukan kepada para pekerja dan pegawai di sektor-sektor ekonomi kunci—terutama transportasi, minyak, gas, dan energi—untuk memulai pemogokan nasional.”

Menurut Human Rights Activists News Agency, dalam 13 hari terakhir hingga Jumat, sedikitnya 65 orang tewas, termasuk 7 anak-anak dan remaja, serta 2.311 orang ditangkap oleh pihak berwenang.

Sementara itu, kelompok berbasis di Amerika Serikat Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan pada 11 Januari bahwa sedikitnya 538 orang telah tewas dalam penindasan pemerintah terhadap protes nasional. 

Dari jumlah itu, 490 korban adalah demonstran dan 48 lainnya anggota pasukan keamanan rezim. Sekitar 10.600 orang telah ditahan, dan HRANA menegaskan bahwa angka korban tewas dan penangkapan masih akan meningkat.

Meski arus informasi sangat dibatasi dan pemerintah memberlakukan blokade ketat terhadap berita, laporan menyebutkan bahwa aksi unjuk rasa malam hari masih terus berlangsung.

Pada saat yang sama, penindasan semakin meningkat, termasuk penembakan, penggunaan gas air mata dan senapan peluru karet/shotgun, serta ancaman hukum terbuka terhadap para demonstran. Selain itu, penerbangan internasional terdampak dan sejumlah pemerintah asing mengeluarkan peringatan perjalanan ke Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada Jumat menuduh para demonstran dikendalikan oleh Donald Trump, menyebut mereka sebagai “perusuh” yang menyerang properti publik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pada musim panas lalu telah mengebom Iran, kembali memperingatkan Iran pada Jumat:  “Lebih baik kalian jangan menembak, karena kami juga akan menembak.”

Presiden AS Donald Trump: “Jika mereka mulai membunuh orang seperti sebelumnya, kami akan campur tangan. Kami akan menghantam titik vital mereka dengan keras. Ini tidak berarti kami akan mengirim pasukan, tetapi kami akan menyerang titik-titik penting mereka.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menulis di media sosial bahwa “Amerika Serikat mendukung rakyat Iran yang berani.”

Sebuah akun terverifikasi di platform X yang sering membagikan informasi militer menyebutkan bahwa pesawat angkut strategis C-17 Angkatan Udara AS telah terbang dari Jerman menuju kawasan Timur Tengah.

Dilaporkan bahwa Amerika Serikat telah mulai menggunakan pesawat angkut berat untuk mengirim amunisi dan perlengkapan militer lainnya ke pangkalan-pangkalan di Timur Tengah.

Sementara itu, sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Angkatan Udara AS telah lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, terbang melintasi Teluk Persia dan Irak, menjalankan misi yang tidak diumumkan. Hal ini menunjukkan bahwa Angkatan Udara AS kemungkinan sedang melakukan latihan intensif yang menargetkan rezim Iran.

Terkait aksi protes di Iran, negara-negara Eropa juga menyatakan dukungan kepada rakyat Iran.

Para pemimpin Prancis, Inggris, dan Jerman pada Jumat mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam pembunuhan terhadap para demonstran oleh Iran, serta mendesak otoritas Iran untuk menghindari penggunaan kekerasan dan menjamin hak rakyat atas kebebasan berpendapat dan berkumpul secara damai, tanpa takut akan pembalasan.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menulis di media sosial: “Rakyat Iran sedang berjuang untuk masa depan mereka. Rezim Iran mengabaikan tuntutan sah mereka dan memperlihatkan wajah aslinya.”

 “Menutup internet sambil melakukan penindasan brutal terhadap aksi protes memperlihatkan ketakutan rezim terhadap rakyatnya sendiri.” (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Li Mei dan Liu Fang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Curahan Hati Nadin Amizah Ingin Terus Bernyanyi Sampai Akhir Hayat
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Hasil, Klasemen, dan Top Skor Liga Jerman: Bayern Munchen dan Harry Kane tak Terkejar
• 13 jam laluharianfajar
thumb
Viral Guru Honorer di SDN 7 Bontoramba Dipecat setelah 4 Tahun Mengabdi, Posisi Diganti Adik Kepala Sekolah
• 3 jam lalufajar.co.id
thumb
Viral! Bocah Perempuan di Medan Kejar Pencuri hingga Terseret Motor Sejauh 20 Meter
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Tiga Hari Raya Islam Terjadi pada 2039
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.