FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Polemik ijazah palsu Presiden ke-7, Jokowi, tidak henti-hentinya melahirkan gebrakan baru dan membuat perdebatan semakin hangat.
Seperti baru-baru ini, dua tersangka laporan Jokowi di Polda Metro Jaya, Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis sowan ke Solo. Kuat dugaan, mereka meminta pengampunan.
Rekan seperjuangan keduanya, Roy Suryo, seakan dikhianati dalam proses pembuktian ijazah Jokowi. Apalagi, Eggy dan Damai merupakan senior TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis).
Roy, dalam keterangannya kepada fajar.co.id, menanggapi langkah Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis den menggunakan istilah yang dulu dipopulerkan almarhum Asmuni, anggota group lawak Srimulat.
“Pasca mak bedunduknya, sekonyong-konyong atau sangat tiba-tiba, kedatangan Bang Eggy dan Damai ke rumah Jokowi sontak membuat Indonesia menjadi heboh dan memunculkan berbagai kontroversi,” ujar Roy (12/1/2026).
Ia pun mempertanyakan kedudukan keduanya, apakah masih tetap selaku pejuang atau telah menjadi pecundang.
“Bagaimana tidak? Pertemuan yang katanya disebut-sebut merupakan hasil kesepakatan internal TPUA tersebut ternyata jelas-jelas secara tegas dibantah keras oleh para pengurus intinya sendiri,” sebutnya.
Dikatakan Roy, kunjungan Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis ke Solo bukan bagian dari agenda resmi TPUA. Dipertegas oleh Rizalz Azam Khan, dan Kurnia Tri Royani.
“Terus atas inisiatif atau malah bisa juga, atas desakan atau permintaan siapa pertemuan yang semula mau dibuat silent tersebut malah bocor kemana-mana,” timpalnya.
“Karena justru disampaikan secara terbuka ke wartawan-wartawan oleh Ajudan Jokowi sendiri, Kompol Syarief Muhammad Fitriansyah. Bagaimanapun misteri sempat dibuat sterilnya kawasan Jl. Kutai Utara 1 Sumber saat itu, tetap jadi tanda tanya besar,” tambahnya.
Lanjut dia, sangat wajar jika masyarakat bertanya-tanya atau menduga ada sesuatu di balik pertemuan tersebut.
“Wajar bilamana tercium bau amis alias muncul berbagai dugaan tidak sedap dan populer istilah AADP (Ada Apa Dengan Pertemuan) tersebut?,” tukasnya.
Mantan Menpora era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini pun tidak menampik jika ada asumsi liar yang berkembang di publik.
“Tak pelak lagi, istilah liar semacam cair, cair. Bergepok-gepok hingga berkopor-kopor bahkan sampai ada yang mendengar issue jumlah tertentu, sebut saja Rp100 M,” sesalnya.
Dugaan itu, kata Roy, muncul di ruang publik akibat ketidaktransparan modus dibalik pertemuan tersebut.
“Oleh karenanya untuk menghindari ghibah dan fitnah, kita tetap sebaiknya tabayyun alias melakukan konfirmasi terlebih dahulu,” tandasnya. (Muhsin/fajar)



