Los Angeles, VIVA – Seorang pengemudi truk diduga menerobos kerumunan besar demonstran anti-rezim Iran di Los Angeles, Amerika Serikat, dan melukai sedikitnya dua orang. Insiden yang berlangsung dalam suasana kacau itu terekam dalam sejumlah video yang beredar luas.
Ribuan orang dilaporkan berkumpul di sebuah ruas jalan di kawasan Westwood, California, pada Minggu, 11 Januari 2026, sekitar pukul 15.30 waktu setempat, di dekat Gedung Federal Wilshire.
Rekaman saksi mata memperlihatkan truk tersebut melaju kencang ke arah massa demonstran. Sejumlah peserta aksi terlihat berusaha menghindar, sementara yang lain memukul kendaraan itu menggunakan tiang bendera.
Truk sewaan U-Haul tersebut tampak bertuliskan pesan politik di bagian sampingnya, antara lain "NO SHAH. NO REGIME. USA: DON'T REPEAT 1953. NO MULLAH", dan segera dikepung para demonstran.
Ketegangan meningkat dengan cepat, sebagaimana terlihat dalam rekaman helikopter ABC7. Massa mengepung kendaraan tersebut saat polisi berupaya memisahkan pengemudi—yang telah dikeluarkan dari truk—dari demonstran yang marah.
Petugas kepolisian kemudian memborgol pria yang berada di balik kemudi. Dalam upaya mengendalikan situasi, polisi mendorong mundur kerumunan, dengan salah seorang petugas terdengar mengatakan, "Kita sudah menangkapnya!"
Beberapa demonstran terlihat memukul pengemudi sebelum ia dikawal keluar dari lokasi dan dibawa pergi oleh aparat.
Departemen Pemadam Kebakaran Los Angeles menyatakan sedikitnya dua orang mengalami luka, namun menolak mendapatkan perawatan medis. Menurut laporan media lokal, para demonstran kemudian membubarkan diri secara sukarela.
Polisi bersama Biro Investigasi Federal (FBI) berada di lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Hingga kini, motif pasti di balik insiden tersebut masih belum diketahui.
‘Pembunuhan Massal’Di Iran, pihak berwenang dituduh telah melakukan "pembunuhan massal" dalam penindakan terhadap gelombang protes terbesar terhadap Republik Islam dalam beberapa tahun terakhir, menurut sebuah kelompok hak asasi manusia. Presiden Iran sebelumnya memperingatkan bahwa "perusuh" tidak boleh dibiarkan mengacaukan negara.
LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengatakan telah mengonfirmasi sedikitnya 490 demonstran tewas, bersama 48 anggota pasukan keamanan. Namun, kelompok tersebut memperingatkan jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, bahkan berpotensi mencapai 2.000 orang, dalam dua pekan kerusuhan yang telah berlangsung.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5419281/original/067979800_1763657175-KPK_1.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5411718/original/027752400_1763019573-hujan.jpg)