REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Banyak keluarga Amerika yang berkeinginan pergi dari negara mereka dan tinggal di luar negeri karena beberapa alasan, terutama kekerasan yang makin sering terjadi, terutama dari pihak yang terkait dengan penegakan hukum.
Penulis Jessica Gross dalam artikel opini di New York Times menyebutkan bahwa wanita Amerika berusia antara 15 dan 44 tahun adalah kelompok yang paling ingin meninggalkan Amerika Serikat dan tinggal secara permanen di tempat lain.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Israel Siaga Penuh Takut Diserang Iran Secara Tiba-tiba, Perang di Depan Mata?
- ‘Perzinaan Terang-Terangan AS-Israel Jadi Beban Bagi Dunia Internasional’
- Pasukan Siber Iran “Hanzala” yang Paling Ditakuti Israel dan Jadikan Zionis Pecundang
Selain data dari survei Gallup yang menunjukkan bahwa 40 persen wanita dalam kelompok usia tersebut ingin pindah dari Amerika, penulis juga menanyakan kepada para pembaca yang berpikir untuk meninggalkan negara itu tentang alasan pendorong mereka untuk melakukannya.
Selain kemunduran hak-hak perempuan, imigran, dan kelompok sosial lainnya, banyak yang sepakat bahwa alasan mereka ingin pindah dari Amerika adalah maraknya kekerasan bersenjata di negara itu, baik yang dilakukan oleh warga sipil maupun petugas penegak hukum yang bersenjata.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Penulis menunjukkan, pada 2025, Amerika Serikat mengalami sejumlah insiden penembakan massal yang melebihi jumlah hari dalam setahun, serta 75 insiden penembakan di sekolah yang menewaskan puluhan orang.
Amerika Serikat mencatat salah satu tingkat kematian tertinggi akibat senjata api secara umum, dan salah satu tingkat kematian tertinggi akibat senjata api di antara anak-anak, remaja, dan perempuan, baik secara global maupun di antara negara-negara berpenghasilan tinggi.
Penulis menjelaskan bahwa warga Amerika keturunan Afrika dan penduduk asli Amerika adalah yang paling rentan terhadap risiko kematian akibat kekerasan bersenjata.
Penulis menyoroti apa yang disebutnya sebagai gelombang kekerasan mengerikan yang melanda negara itu bulan lalu (Desember)..


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2024%2F11%2F04%2F22a9e28a7f45e05cce5b7c3f21d857ad-https___asset.kgnewsroom.com_photo_pre_2024_05_07_6300bee7_0a3d_4c0b_bc73_387e676fbda0_jpg.jpg)