Jakarta: Presiden Global Youth Diplomacy Community in Türkiye (GYDCT), Naufal Ubaidillah, menegaskan pemuda di luar kawasan Eropa dan Amerika Utara (Global South) memiliki peran penting. Hal itu disampaikan Naufal dalam NextGen Diplomats Summit 2026 di Istambul, Turki.
“Pemuda Global South hari ini bukan lagi objek geopolitik, tetapi sedang bertransformasi menjadi aktor. Kita terkoneksi secara global, memahami realitas lokal sekaligus struktur internasional, dan memiliki tanggung jawab untuk membentuk masa depan kita sendiri,” kata Naufal, melalui keterangan tertulis, Senin, 12 Januari 2026.
Ketua Persatuan Pelajar Indonesia di Turki itu menegaskan bahwa NextGen Diplomats Summit 2026 menjadi titik awal lahirnya jejaring pemuda Global South yang berkelanjutan. Sehingga, koordinasi dan kepercayaan pemuda Global South terbangun.
“Global South tidak kekurangan talenta, tetapi sering kekurangan koordinasi, kepercayaan diri, dan kesinambungan. Di sinilah peran platform kepemudaan seperti GYDCT,” tegas Naufal.
Baca Juga :
Budayawan Tekankan Peran Karakter Luhur Generasi Muda dalam Menyongsong Indonesia EmasSelain itu, Naufal menekankan posisi strategis Turki sebagai ruang belajar yang unik bagi pemuda Global South. Dengan latar sejarah kekaisaran, modernitas, agama, dan demokrasi, Türkiye dinilainya menjadi 'laboratorium hidup' tempat peradaban bertemu, bernegosiasi, dan berkolaborasi secara nyata.
“Belajar di Türkiye memberi kita kesadaran diplomatik yang khas—memahami Barat tanpa tercerabut dari realitas Global South,” ungkap Naufal.
NextGen Diplomats Summit 2026 diikuti puluhan pemuda dan mahasiswa internasional dari berbagai negara Global South yang tengah menempuh studi di Istanbul. Rangkaian NextGen Diplomats Summit 2026 menghadirkan dua sesi diskusi panel utama.
Pertama, Panel Media Diplomacy, menghadirkan editor TimeCode dari GZT ?ule Kalkan yang membahas peran media dalam membentuk narasi global, persepsi publik internasional, dan legitimasi politik di era digital.
Kedua, Panel Cultural Diplomacy, menghadirkan aktivis mahasiswa di Koç University sekaligus Communications Associate di Middle East Institute (MEA Institute), Nadeen Aburamadan. Panel ini mengulas bagaimana budaya, identitas, dan pertukaran sosial menjadi instrumen penting diplomasi kontemporer.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470165/original/004194000_1768198534-IMG_8118.jpeg)