Trump Siap Gunakan Kekuatan Militer Terhadap Iran

tvrinews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews-Washington DC

Gedung Putih mempertimbangkan opsi serangan udara di tengah tindakan keras Teheran terhadap pengunjuk rasa.

Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Iran di tengah gelombang kerusuhan yang terus meluas di negara tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Senin 12 Januari 2026, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa meskipun diplomasi tetap menjadi pilihan utama, Presiden memiliki kesiapan penuh untuk bertindak secara militer jika situasi mendesak.

"Beliau tidak takut untuk menggunakan kekuatan mematikan dan kehebatan militer Amerika Serikat jika dan ketika ia menganggap hal itu perlu," ujar Leavitt. 

Ia menambahkan bahwa serangan udara merupakan salah satu dari "banyak sekali" opsi yang sedang dipertimbangkan oleh Panglima Tertinggi.

*Ancaman Tarif dan Ketegangan Geopolitik*

Menyusul pernyataan tersebut, Trump melalui platform Truth Social mengumumkan langkah ekonomi agresif terhadap mitra dagang Iran. 

Ia menetapkan tarif sebesar 25% bagi negara manapun yang melakukan transaksi bisnis dengan Republik Islam Iran jika mereka ingin tetap berdagang dengan Amerika Serikat.

Langkah ini diambil saat rezim Teheran menghadapi gelombang protes terbesar sejak 2009. Menanggapi situasi di lapangan, Leavitt menyoroti kekerasan yang dialami warga sipil. 

"Beliau (Trump) telah memperjelas bahwa ia tidak ingin melihat orang-orang terbunuh di jalanan Teheran," tegasnya.

Pihak Gedung Putih juga merujuk pada serangan AS tahun lalu terhadap tiga situs nuklir utama Iran sebagai bukti kapabilitas militer mereka. "Tidak ada yang mengetahui hal itu lebih baik daripada Iran," tambah Leavitt.

*Krisis Kemanusiaan di Teheran*

Berdasarkan laporan organisasi non-pemerintah Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia, sedikitnya 648 orang tewas dalam aksi protes yang telah berlangsung selama lebih dari dua minggu. 

Selain itu, Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS melaporkan lebih dari 10.600 penangkapan telah dilakukan oleh otoritas Iran.

Demonstrasi yang awalnya dipicu oleh depresiasi mata uang Rial kini telah berkembang menjadi tantangan langsung terhadap kepemimpinan ulama di Iran. 

Pemerintah Iran menanggapi dengan tindakan keras, mulai dari pemadaman internet hingga ancaman hukuman mati bagi para demonstran.

Di sisi lain, Teheran berupaya meredam narasi kerusuhan dengan menggelar rapat umum pro-pemerintah pada hari Senin, sembari menuduh bahwa ketidakstabilan tersebut merupakan hasil dari "terorisme Amerika-Zionis".

*Sinyal Komunikasi Rahasia*

Menariknya, Leavitt mengungkapkan adanya perbedaan antara pesan yang disampaikan Iran secara publik dan privat kepada AS. 

Meski tidak merinci isi pesan tersebut, ia menyatakan bahwa Presiden Trump tertarik untuk mendalami komunikasi tersebut.

Namun, sikap keras Washington tetap tidak berubah. Trump sebelumnya memperingatkan para pemimpin Iran agar tidak melakukan penembakan terhadap warga sipil. 

"Jangan mulai menembak, karena kami juga akan mulai menembak," ujar Trump dalam pernyataan resminya Jumat lalu.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah diskon 50 persen iuran JKK-JKM pekerja BPU transportasi
• 24 menit laluantaranews.com
thumb
Alasan Jaksa Ogah Berikan Hasil Audit BPKP Soal Kerugiaan Dugaan Korupsi Nadiem
• 15 jam lalumerahputih.com
thumb
Eva Manurung Ngamuk Dua Cucunya Lihat Inara Rusli-Insanul Fahmi Ena-ena: Sampe Mereka Praktekin!
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Krakatau Steel (KRAS) Bakal Pasok Baja CRC ke Tata Metal Lestari 10 Ribu Ton Setiap Bulan
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Jepang Naikkan Peringatan Perjalanan ke Iran di Tengah Kerusuhan dan Pemadaman Komunikasi
• 8 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.