EtIndonesia. Di jalan-jalan Teheran, teriakan “Matilah para diktator!” kini menggema lebih keras daripada sirene polisi. Amarah publik telah meluap ke titik yang belum pernah terlihat selama puluhan tahun terakhir. Para pedagang tua di Grand Bazaar Teheran—pasar bersejarah yang telah menjadi jantung ekonomi Iran selama berabad-abad—menutup rapat pintu besi toko mereka. Aksi ini bukan sekadar mogok dagang, melainkan pernyataan politik terbuka: memutuskan hubungan dengan rezim yang berkuasa.
Apa yang terjadi di Iran hari ini bukan lagi sekadar “perang demi roti”. Ini telah berubah menjadi serangan balik terakhir rakyat terhadap kelas elite kekuasaan—anak-anak pejabat yang hidup mewah, mengendarai Porsche, memamerkan pesta glamor, sambil dengan dingin berkata kepada rakyat miskin, “Kalau tidak bisa hidup, mati saja.”
Kronologi Krisis: Dari Runtuhnya Rial hingga Ledakan Amarah
Gelombang protes nasional Iran bermula pada 28 Desember 2025, dipicu oleh krisis ekonomi akut dan merosotnya taraf hidup masyarakat. Nilai tukar rial Iran anjlok tajam. Menjelang akhir 2025, kurs pasar gelap mencapai sekitar 1.450.000 rial per dolar AS, dari kisaran 800.000 setahun sebelumnya. Dalam hitungan bulan, tabungan rakyat praktis terpangkas setengah.
Gaji bulanan penuh waktu seorang pekerja Iran kini, jika dikonversi ke dolar AS, hanya sekitar 100 dolar—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar satu keluarga. Inflasi pangan melonjak hingga 72 persen, membuat belanja harian terasa seperti “mengiris daging sendiri”, sebagaimana diungkapkan seorang warga dalam video yang viral di media sosial.
Pada 8 Januari 2026, pemerintah Iran mengambil langkah ekstrem dengan memutus jaringan internet secara nasional. Selama 12 malam berturut-turut, aksi protes meletus di berbagai kota besar dan menengah—termasuk wilayah yang sebelumnya nyaris tak pernah mengalami kerusuhan. Pemadaman internet justru memperkuat kemarahan publik.
Grand Bazaar: Penyangga Rezim yang Runtuh
Dalam sejarah Iran, Grand Bazaar bukan sekadar pasar. Dia adalah barometer ekonomi sekaligus penyangga stabilitas politik. Pada Revolusi Islam 1979, dukungan pedagang bazaar menjadi faktor kunci tumbangnya monarki Pahlavi.
Namun kali ini, pilar itu runtuh.
Para pedagang menghadapi dilema fatal: berbisnis berarti rugi, sementara menabung berarti menyaksikan nilai uang menguap. Dalam tekanan inflasi, monopoli, dan kebijakan diskriminatif, mogok massal menjadi satu-satunya pilihan rasional.
Akar Masalah: Sistem Nilai Tukar Ganda dan Perampokan Terstruktur
Kemiskinan memang pemicu, tetapi bukan keseluruhan cerita. Inti kemarahan rakyat terletak pada ketidakadilan sistemik.
Iran menerapkan sistem nilai tukar ganda: kurs resmi yang jauh lebih rendah dari kurs pasar, dengan dalih untuk impor barang kebutuhan pokok seperti obat dan gandum. Dalam praktiknya, akses ke dolar murah ini hanya dinikmati oleh keluarga elite yang dekat dengan kekuasaan.
Skemanya sederhana:
- Elite menukar rial dengan dolar negara pada kurs resmi
- Dolar dijual kembali di pasar gelap dengan keuntungan berlipat
- Atau digunakan untuk mengimpor barang mewah—mobil sport, tas Hermès, gaya hidup elit
Akibatnya, rakyat kekurangan obat dan pangan, sementara kawasan utara Teheran dipenuhi mobil supermewah. Ini bukan ekonomi pasar, melainkan pencurian sistemik.
Kekaisaran Bayangan: Yayasan “Amal” dan Garda Revolusi
Masalah diperparah oleh keberadaan yayasan-yayasan besar yang mengatasnamakan amal, namun pada kenyataannya merupakan kerajaan bisnis raksasa yang dikendalikan langsung oleh Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Yayasan-yayasan ini:
- Menguasai lebih dari 60 persen ekonomi nasional
- Bebas pajak dan tidak diaudit
- Memiliki monopoli di sektor minyak, telekomunikasi, konstruksi, hingga farmasi
Dalam kondisi seperti ini, kerja keras kehilangan makna, dan bisnis jujur menjadi lelucon pahit.
“Gen Unggul” dan Amarah Kelas Sosial
Ketimpangan ini melahirkan istilah sinis di kalangan rakyat: “gen unggul”—ungkapan yang merujuk pada klaim elite bahwa kekayaan mereka berasal dari faktor bawaan, bukan privilese.
Pernyataan arogan sejumlah anak pejabat, pamer kemewahan di media sosial, hingga gaya hidup kontras saat rakyat kelaparan, mempercepat perubahan slogan protes.
Dari tuntutan ekonomi, massa kini berteriak: “Matilah diktator!”, “Hancurkan negara lama, hidup negara baru!”
Respons Rezim: Peluru, Represi, dan Teknologi dari Tiongkok
Rezim merespons dengan peluru tajam, gas air mata, dan pasukan khusus. Suara tembakan di jalanan Teheran terdengar seperti medan perang.
Yang lebih menggetarkan, Iran mengandalkan teknologi pengawasan canggih dari Tiongkok:
- Kamera pengenal wajah
- Sistem identifikasi massa
- Peralatan interogasi
- Bahkan “kursi harimau”, alat penyiksaan yang sebelumnya digunakan di Xinjiang
Iran perlahan berubah menjadi penjara digital raksasa.
Perlawanan Rakyat: Starlink dan Kreativitas Bawah Tanah
Meski terisolasi, rakyat Iran tidak menyerah. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menembus sensor:
- Internet satelit Starlink
- Penyelundupan perangkat komunikasi
- Pesan tersembunyi dalam gambar
- Bluetooth dan catatan tangan
- Bahkan ruang obrolan gim daring seperti Clash of Clans dan Call of Duty
Dimensi Global: Seruan ke Amerika Serikat
Di berbagai sudut Teheran, muncul grafiti dan sebutan tidak resmi seperti “Jalan Trump”—simbol harapan pada tekanan internasional.
Pada 8 Januari 2026, Donald Trump secara terbuka memperingatkan bahwa jika pemerintah Iran membantai demonstran, Amerika Serikat akan memberikan “pukulan yang sangat keras”. Namun pada 9 Januari, situasi justru memburuk: Iran hampir sepenuhnya terputus dari dunia luar, penerbangan internasional dibatalkan, dan konfrontasi antara rezim dan rakyat memasuki fase tanpa kompromi.
Cermin Tiongkok: Dua Peradaban Kuno di Persimpangan
Sementara Teheran membara, di Beijing para pemuda menyebut hidup mereka sebagai berada di “waktu sampah sejarah”—fase tanpa harapan. Pengangguran melonjak, masa depan mengabur, dan protes muncul dalam bentuk terfragmentasi namun tragis.
Iran dan Tiongkok, dua peradaban kuno dengan model kediktatoran berbeda, kini menghadapi krisis struktural yang serupa:
- Kontrak ekonomi runtuh
- Generasi muda terbangun
- Mesin represi kelelahan
Pertanyaan terakhir pun menggantung di udara: Ketika aparat mulai kehilangan gaji dan legitimasi, ke mana moncong senjata akan mengarah?




