Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Pelemahan ini disebabkan salah satunya oleh pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell terkait intervensi yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump.
“Faktor pelemahan rupiah salah satunya karena pernyataan Powell bahwa ada intervensi Trump bahkan ancaman pidana untuk segera menurunkan Fed Funds Rate,” kata Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana kepada Katadata.co.id, Selasa (13/1).
Hal ini semakin diperparah dengan semakin tingginya risk off seiring peringatan parlemen Iran kepada Amerika Serikat dan Israel. Begitu juga dengan adanya peningkatan harga emas dunia ke level all time high.
“Kemungkinan ada depresiasi tipis rupiah ke level Rp 16.870 per dolar AS,” ujarnya.
Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka pada level Rp 16.870 per dolar AS. Level ini turun 15 poin atau 0,09% dari penutupan sebelumnya.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong juga memperkirakan rupiah masih akan melemah terhadap dolar AS. Menurutnya, dolat AS rebound merespon pernyataan hawkis pejabat The Fed John William yang mengisyaratkan bahwa Bank Sentral AS tidak perlu buru-buru menurunkan suku bunga.
“Dolar AS juga didukung oleh antisipasi data inflasi AS malam ini yang diperkirakan akan naik. Rupiah akan berada di level Rp 16.800 per dolar AS hingga Rp 16.900 per dolar AS,” kata Lukman.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah pada kemarin (12/1) sejalan dengan membaiknya data ketenagakerjaan AS. Ketidakpastian global juga meningkat, menyusul pernyataan Powell mengenai kriminalisasi dirinya karena menolak menurunkan suku bunga sehingga rupiah terdepresiasi sebesar 0,17%.
“Untuk hari ini rupiah diperkirakan akan diperdagangkan dalam kisaran Rp 16.800 per dolar AS hingga Rp 16.900 per dolar AS,” kata Josua.



