Saat Limbah Gerogoti Mata Pencaharian Nelayan Kerang Hijau di Cilincing

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, menjadi salah satu kawasan yang dikenal sebagai produsen kerang hijau terbesar di di Jakarta.

Hampir sebagian besar masyarakat yang tinggal di Kalibaru Cilincing berprofesi sebagai nelayan kerang hijau.

Sudah puluhan tahun lamanya, mereka menggantungkan hidup lewat beternak kerang hijau di perairan laut Cilincing.

Baca juga: Pantai Cilincing Menghilang, Terkubur Gunungan Limbah Kulit Kerang

Bukan hanya nelayan dan tengkulak, ibu-ibu di sekitar Kalibaru juga menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai pengupas kerang hijau.

Keberadaan kerang hijau di wilayah ini seolah sebagai penyelamat warga Kalibaru untuk bisa berpenghasilan agar mampu menghidupi keluarganya di rumah.

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Jakarta, nelayan, indepth, cerita nelayan&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMy8xMDQ3MzU4MS9zYWF0LWxpbWJhaC1nZXJvZ290aS1tYXRhLXBlbmNhaGFyaWFuLW5lbGF5YW4ta2VyYW5nLWhpamF1LWRpLWNpbGluY2luZw==&q=Saat Limbah Gerogoti Mata Pencaharian Nelayan Kerang Hijau di Cilincing §ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

Hasil yang melimpah, membuat warga dari berbagai daerah seperti Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan lain sebagainya, memutuskan pindah ke Jakarta dan memilih untuk menernak kerang hijau di sekitar laut Cilincing.

Salah satu nelayan bernama Beny (52) mengatakan, dalam satu kali beternak kerang hijau, modal yang dibutuhkan rata-rata sekitar Rp 15 juta-20 juta, tergantung luas ternak yang dimiliki.

Modal tersebut digunakan untuk membeli jaring, solar, dan perlengkapan lainnya, guna menunjang proses beternak kerang hijau tersebut.

Dalam waktu enam bulan, jaring tersebut akan ditumbuhi kerang hijau dengan ukuran besar secara alami dan siap untuk dipanen para nelayan.

Ketika panen, maka keuntungan yang bisa didapatkan para nelayan bisa mencapai dua kali lipat dari modal yang sudah dikeluarkan.

"Kalau untuk satu ternak, dari modal Rp 20 juta, bisa panen Rp 40 juta," tutur Beny.

Baca juga: Pesisir Cilincing Menghitam akibat Limbah Kerang, Apa Langkah Pemprov DKI?

Limbah merusak

Seiring berjalannya waktu, ternak kerang hijau di perairan laut Cilincing bukan perkara yang mudah untuk dilakukan para nelayan.

Mereka harus bergelut dengan limbah yang kini semakin mencemari laut di sekitar Utara Jakarta.

"Paling berasa di tahun 2025 ini (limbahnya). Di tahun 2024 kemarin masih bagus (hasil ternaknya)," kata Beny saat diwawancarai Kompas.com di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (12/1/2026).

Air laut yang paling banyak tercemar limbah berada di kawasan Cilincing, dibandingkan Marunda.

Biasanya, limbah tersebut berbau menyengat dan muncul ketika wilayah di sekitar Jakarta Utara diguyur hujan deras.

"Limbahnya warna putih berbusa, bau, ikan juga pada mabuk, apalagi kerang," tutur dia.

Ia menduga, limbah tersebut berasal dari pabrik yang berada di sekitar wilayah Cilincing, Jakarta Utara.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

Jika limbah sudah muncul, maka kerang yang sudah bertumbuh besar dan siap dipanen sekalipun akan mati, sehingga membuat para nelayan mengalami kerugian.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Benarkah Makanan Bakaran Berbahaya bagi Kesehatan? Begini Penjelasan Ahli
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Kanwil Kemenkum Babel Ikuti Apel Pagi Bersama Awal Tahun 2026 di Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan secara Virtual
• 17 jam lalufajar.co.id
thumb
PSI Bongkar Awal Mula Banyak yang Jengkel ke Wapres Gibran, Oh Ternyata …
• 2 jam lalufajar.co.id
thumb
Melihat Pameran Alat Musik Tradisional Nusantara
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Greenland Bukan Cuma Es: Apa Alasan Pulau Raksasa Ini Jadi Rebutan?
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.