jpnn.com, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan, tidak ada lagi warga Sumatra Utara (Sumut) di lokasi pengungsian saat bulan suci Ramadan tahun ini.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengaku, pemerintah terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap) bagi korban bencana hidrometeorologi di wilayah Sumut.
BACA JUGA: Rumah Korban Banjir Sumatra Harus Lebih Tahan Bencana
"Per hari ini di wilayah Sumatera Utara hanya tiga kabupaten yang mengajukan pembangunan huntara," ucap Suharyanto dikutip Selasa (13/1)
Ketiga kabupaten di Sumut itu, jelas dia, Tapanuli Utara sebanyak 40 unit huntara, Tapanuli Tengah 209 unit huntara, dan Tapanuli Selatan 800 unit huntara.
BACA JUGA: Momen Haru Korban Banjir di Aceh Hadiahkan Durian ke Petugas Pengantar Bantuan
Data Posko Tanggap Darurat Bencana Provinsi Sumut hingga Kamis (8/1) menyebutkan terdapat 18 kabupaten/kota di Sumatra Utara terdampak bencana dengan estimasi kerugian mencapai Rp 17,23 triliun.
Adapun jumlah masyarakat terdampak tercatat mencapai 479.045 Kepala Keluarga (KK) atau 1.803.549 jiwa, dan jumlah pengungsi 3.371 KK atau 13.378 jiwa.
Sedangkan korban yang mengalami luka-luka mencapai 126 jiwa, korban meninggal dunia sebanyak 372 jiwa, dan masih dinyatakan hilang 53 jiwa.
"Sementara kabupaten/kota lainnya tidak mengajukan huntara, sehingga masyarakat yang rumah rusak berat ini akan mendapat dana tunggu hunian pengungsian," kata dia.
Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga telah menyiapkan sebanyak 5.951 unit huntap bagi korban bencana hidrometeorologi di wilayah Sumut.
"Per hari ini untuk hunian tetap yang akan dibangun di seluruh Sumatra Utara ada 5.951 unit. Rata-rata sudah berjalan ya, per hari ini sekitar 20 persen terbangun," tuturnya.
Akhir Januari 2025, papar Suharyanto, pihaknya berharap warga Sumut yang masih tinggal di lokasi pengungsian hingga kini bisa menempati huntap itu.
"Target di akhir Januari atau sebelum bulan puasa tanggal 18 Februari 2026. Ini masyarakat sudah bisa masuk ke huntara, dan sebagian sudah masuk ke huntap," tegas Suharyanto.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul


