Jakarta (ANTARA) - Tim Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Banda Aceh memberikan layanan kesehatan terpadu bagi anak-anak terdampak bencana di lokasi pengungsian Desa Sukajadi, Aceh Tamiang.
Dokter Spesialis Anak relawan TCK Kemenkes Hendri Azis dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, mengatakan pelayanan difokuskan pada kelompok rentan, khususnya balita, dengan jumlah sekitar 80 anak. Di lokasi pengungsian, kata dia, tim menemukan berbagai keluhan kesehatan yang umum terjadi pascabencana.
“Keluhan yang paling banyak kami temukan adalah batuk, pilek, demam, gejala infeksi saluran pernapasan atas, diare, serta penyakit kulit. Kondisi ini memang sering muncul pada anak-anak pascabencana,” ujar Hendri.
Selain itu pihaknya melakukan skrining status gizi melalui pengukuran berat badan, panjang badan, dan lingkar lengan atas (LiLA). Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
Baca juga: Kemenkes tindaklanjuti penyakit pascabanjir yang dominasi Aceh Tamiang
“Balita merupakan kelompok yang paling rentan terdampak bencana. Karena itu, selain pengobatan, kami juga melakukan pemantauan gizi secara menyeluruh agar kondisi anak-anak dapat ditangani sedini mungkin,” ucapnya.
Dia menyebutkan pelayanan kesehatan yang diberikan mencakup upaya preventif, promotif, dan kuratif.
Upaya preventif dilakukan melalui pemberian vitamin A dan obat cacing, sementara promotif melalui edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk kebersihan diri dan kebiasaan gosok gigi.
Sementara itu, katanya, pelayanan kuratif diberikan kepada anak-anak yang datang berobat dengan keluhan kesehatan.
Baca juga: Kemenkes kirim 119 relawan guna layanan pascabencana di Aceh Tamiang
Dalam kesempatan yang sama perwakilan IDAI Cabang Banda Aceh Rismalisa Fitri mengungkapkan kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi tenaga kesehatan dalam penanganan kesehatan anak pascabencana.
“Pelayanan dilakukan di posko kesehatan dan fasilitas yang telah ditetapkan, mencakup penyuluhan, pemeriksaan gizi, hingga pengobatan anak,” ujarnya.
Rismalisa menyebutkan layanan kesehatan anak akan terus dilakukan secara berkelanjutan untuk meminimalkan dampak bencana terhadap tumbuh kembang anak.
Adapun Kemenkes menegaskan komitmennya untuk terus hadir melalui Tim TCK serta berkolaborasi dengan organisasi profesi guna memberikan pelayanan kesehatan optimal bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya anak-anak.
Baca juga: Relawan TCK Kemenkes beri layanan dan petakan penyakit di Aceh Tamiang
Dokter Spesialis Anak relawan TCK Kemenkes Hendri Azis dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, mengatakan pelayanan difokuskan pada kelompok rentan, khususnya balita, dengan jumlah sekitar 80 anak. Di lokasi pengungsian, kata dia, tim menemukan berbagai keluhan kesehatan yang umum terjadi pascabencana.
“Keluhan yang paling banyak kami temukan adalah batuk, pilek, demam, gejala infeksi saluran pernapasan atas, diare, serta penyakit kulit. Kondisi ini memang sering muncul pada anak-anak pascabencana,” ujar Hendri.
Selain itu pihaknya melakukan skrining status gizi melalui pengukuran berat badan, panjang badan, dan lingkar lengan atas (LiLA). Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
Baca juga: Kemenkes tindaklanjuti penyakit pascabanjir yang dominasi Aceh Tamiang
“Balita merupakan kelompok yang paling rentan terdampak bencana. Karena itu, selain pengobatan, kami juga melakukan pemantauan gizi secara menyeluruh agar kondisi anak-anak dapat ditangani sedini mungkin,” ucapnya.
Dia menyebutkan pelayanan kesehatan yang diberikan mencakup upaya preventif, promotif, dan kuratif.
Upaya preventif dilakukan melalui pemberian vitamin A dan obat cacing, sementara promotif melalui edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk kebersihan diri dan kebiasaan gosok gigi.
Sementara itu, katanya, pelayanan kuratif diberikan kepada anak-anak yang datang berobat dengan keluhan kesehatan.
Baca juga: Kemenkes kirim 119 relawan guna layanan pascabencana di Aceh Tamiang
Dalam kesempatan yang sama perwakilan IDAI Cabang Banda Aceh Rismalisa Fitri mengungkapkan kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi tenaga kesehatan dalam penanganan kesehatan anak pascabencana.
“Pelayanan dilakukan di posko kesehatan dan fasilitas yang telah ditetapkan, mencakup penyuluhan, pemeriksaan gizi, hingga pengobatan anak,” ujarnya.
Rismalisa menyebutkan layanan kesehatan anak akan terus dilakukan secara berkelanjutan untuk meminimalkan dampak bencana terhadap tumbuh kembang anak.
Adapun Kemenkes menegaskan komitmennya untuk terus hadir melalui Tim TCK serta berkolaborasi dengan organisasi profesi guna memberikan pelayanan kesehatan optimal bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya anak-anak.
Baca juga: Relawan TCK Kemenkes beri layanan dan petakan penyakit di Aceh Tamiang



