Vietnam Tetap Tangguh di Tengah Tarif Trump, Ekspor ke AS Justru Melonjak

genpi.co
2 jam lalu
Cover Berita

GenPI.co - Di tengah deru gergaji mesin dan suara mesin pengamplas yang terus berdengung, ratusan pekerja Vietnam sibuk menyelesaikan pesanan di sebuah pabrik furnitur di pinggiran Kota Ho Chi Minh.

Mereka bekerja cepat untuk memenuhi permintaan furnitur kelas atas yang akan menghiasi hotel-hotel mewah dan hunian eksklusif di Timur Tengah, Eropa, serta Amerika Serikat.

Produk tersebut dihasilkan perusahaan furnitur berbasis di Vietnam, Jonathan Sowter, yang sejauh ini relatif tidak terguncang oleh kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.

CEO Jonathan Charles mengatakan pesanan dari AS, yang menyumbang lebih dari separuh total bisnis, masih tetap stabil sepanjang 2025.

Hal itu membenarkan prediksi internal perusahaan bahwa operasi mereka mampu bertahan dari tekanan tarif.

"Saya sempat panik selama sekitar satu jam. Namun, setelah dipikirkan lebih dalam, saya menyadari bahwa persaingannya tetap adil. Semua pesaing saya juga berada di Asia," ujar Charles, dilansir AFP, Senin (12/1).

Menurut dia, penambahan tarif 20 persen pada produk Vietnam tidak serta-merta membuat produksi di AS menjadi lebih murah.

"Biaya produksi di AS bisa dua hingga tiga kali lipat lebih mahal untuk barang yang sama dengan yang kami hasilkan di sini," ujarnya.

Ketahanan Vietnam di tengah tekanan tarif AS memang mengejutkan banyak pihak.

Padahal, kebijakan tersebut sebelumnya dikhawatirkan bisa mengguncang model pertumbuhan ekonomi Vietnam yang sangat bergantung pada ekspor.

Data resmi menunjukkan ekspor Vietnam ke AS melonjak 28 persen sepanjang 2025, sementara surplus perdagangan dengan negara tersebut meroket hingga mencapai USD 134 miliar.

Perekonomian Vietnam tumbuh sekitar 8 persen, melampaui ekspektasi para analis dan berpotensi menjadi salah satu yang tertinggi di Asia, menurut HSBC.

Ekonom ASEAN HSBC Yun Liu menyebut meski Vietnam diperkirakan menjadi salah satu negara dengan risiko tarif tinggi, kenyataannya perdagangan justru mencatat rekor baru.

"Alih-alih terganggu, perdagangan Vietnam melonjak ke level tertinggi," kata Liu.

Liu mengatakan Vietnam juga tetap mampu merebut pangsa pasar yang lebih besar untuk sejumlah produk, termasuk alas kaki, tekstil, dan elektronik konsumen. (*)

Jangan lewatkan video populer ini:


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Majelis hakim tetapkan kerugian negara kasus jual beli gas Rp246 M
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Menkes Jelaskan Tiket Mahal ke Medan yang Menghambat Relawan Kesehatan
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Anak Buah Megawati Soekarnoputri Diduga Terima Suap Rp600 Juta, KPK Ungkap Ini
• 37 menit lalufajar.co.id
thumb
Kubu Nadiem Buka Peluang Panggil Pihak Google Jadi Saksi di Sidang Kasus Chromebook
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Tergiur Uang Cepat, Makelar Barang Bekas Ditangkap Saat Bawa Sabu
• 20 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.