Media sosial telah menjadi pedang bermata dua yang menyediakan akses informasi kesehatan secara luas tetapi sekaligus menyebarkan misinformasi dan ”infodemi” yang mengancam keselamatan jiwa. Fenomena ini terbukti menyebabkan ratusan kematian dan ribuan orang dirawat di rumah sakit akibat mengikuti saran medis yang keliru, seperti konsumsi metanol atau penggunaan obat yang tidak sesuai standar klinis.
Di sisi lain, era digital menghadirkan kerentanan serius bagi remaja melalui konten kesehatan reproduksi yang menyesatkan. Paparan informasi negatif yang terus-menerus juga memicu dampak psikologis berupa doomscrolling, kecemasan, hingga mati rasa emosional yang mengikis empati masyarakat.
Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa informasi kesehatan yang keliru di medsos dianggap sangat berbahaya bagi keselamatan publik?
- Bagaimana cara efektif bagi pengguna medsos untuk mendeteksi dan menangkal misinformasi kesehatan?
- Apa saja tantangan spesifik yang dihadapi remaja terkait kesehatan di era digital?
- Mengapa banyak informasi kesehatan di medsos dinilai tidak sejalan dengan pedoman klinis standar?
Informasi kesehatan yang salah atau misinformasi dapat memicu tindakan medis yang fatal karena masyarakat cenderung mengambil keputusan berdasarkan keyakinan yang dibentuk oleh konten media sosial. Sebagai contoh, pada awal pandemi Covid-19, terdapat ribuan informasi keliru yang menyebabkan setidaknya 800 orang meninggal dalam tiga bulan pertama tahun 2020.
Dampak nyata lainnya mencakup ribuan orang yang harus dirawat di rumah sakit hingga puluhan orang mengalami kebutaan total akibat mengonsumsi metanol yang secara keliru dipercaya sebagai obat.
Selain risiko fisik langsung, misinformasi kesehatan menciptakan stigma negatif dan penolakan terhadap prosedur medis yang sah, seperti vaksinasi. Acapkali konten dari kelompok antivaksin lebih sering menyebarkan teori konspirasi melalui situs yang tidak kredibel dibandingkan merujuk pada sains.
Secara psikologis, paparan terus-menerus terhadap informasi negatif atau keliru dapat menyebabkan kondisi ”infodemi”, di mana informasi berkembang tanpa mempertimbangkan kebenaran data dan fakta. Hal ini memicu kepanikan massal, rasa takut berlebih, hingga perselisihan di masyarakat yang tetap berlanjut meskipun ancaman kesehatan utamanya sudah berlalu. Minimnya literasi digital membuat publik sulit membedakan saran medis yang akurat dengan konten yang hanya bertujuan menjual produk atau mencari sensasi.
Langkah pertama yang paling krusial untuk mendeteksi misinformasi adalah melakukan ”pembacaan lateral”, yaitu keluar dari situs yang sedang dibaca untuk mencari tahu apa yang dikatakan oleh sumber otoritatif lain mengenai klaim tersebut. Pengguna disarankan untuk selalu memeriksa kredibilitas pengirim informasi dengan melihat reputasi lembaga atau individu yang bertanggung jawab di balik konten tersebut. Verifikasi silang melalui sumber medis tepercaya seperti Mayo Clinic, kementerian kesehatan, atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah keharusan sebelum memercayai sebuah informasi.
Langkah kedua melibatkan pemeriksaan mendalam terhadap substansi konten, di mana pengguna tidak boleh hanya terpikat oleh judul yang bersifat sensasional atau provokatif. Penting untuk mengecek apakah penulis melakukan cherry pick informasi di luar konteks atau apakah klaim tersebut didukung oleh fakta-fakta terbaru. Peninjauan tanggal publikasi juga diperlukan karena konten kesehatan yang sudah berusia beberapa tahun mungkin tidak lagi relevan dengan perkembangan medis saat ini.
Langkah terakhir adalah menerapkan sikap kritis sebelum menyebarluaskan informasi dengan tidak sembarangan membagikan rujukan yang belum jelas buktinya. Jika masih merasa ragu setelah melakukan penyaringan mandiri, sangat disarankan untuk bertanya langsung kepada ahlinya, seperti dokter, tenaga kesehatan, atau ilmuwan di bidang terkait. Selain itu, situs cek fakta dapat digunakan sebagai alat bantu tambahan untuk memisahkan antara fakta medis dan fiksi yang menyesatkan.
Remaja menghadapi tantangan serius berupa akses tak terbatas terhadap informasi kesehatan reproduksi yang sering kali tidak akurat dan menyesatkan di dunia digital. Tanpa pendampingan orangtua, kemudahan akses ini bisa menjadi bencana karena remaja rentan menjadi korban eksploitasi seksual dan kekerasan berbasis jender daring (KBGO). Informasi yang berkembang sering kali bersifat membingungkan sehingga memicu kecemasan dan perilaku berisiko pada remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan dan memiliki rasa ingin tahu tinggi.
Selain ancaman informasi yang salah, algoritma media sosial sering kali menjebak remaja dalam fenomena brain rot atau penurunan kualitas kognitif akibat konsumsi konten berkualitas rendah secara kompulsif. Hal ini diperparah dengan kebiasaan doomscrolling, yaitu terus-menerus mencari berita negatif yang menyebabkan kegelisahan mental. Data menunjukkan bahwa banyak korban KBGO adalah anak-anak di bawah umur 18 tahun yang masih duduk di bangku SMP dan SMK, yang sering terpapar melalui aplikasi gim atau perjodohan.
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan penguatan literasi digital dan peran aktif keluarga dalam melakukan pengawasan tanpa menghakimi anak. Orangtua dituntut untuk ikut belajar teknologi agar memahami konten yang diakses anak serta membantu mereka memfilter informasi yang baik dan buruk. Selain itu, program edukasi yang adaptif dan layanan konsultasi daring gratis menjadi kunci untuk memastikan remaja mendapatkan hak kesehatan reproduksi yang benar tanpa terkena stigma.
Banyak konten kesehatan di platform digital dibuat oleh masyarakat umum atau pasien yang hanya berdasarkan pengalaman pribadi, bukan oleh tenaga profesional. Studi mengenai asam urat (gout) menunjukkan bahwa sebagian besar video hanya fokus pada suplemen dan perubahan pola makan sebagai faktor penyebab utama. Padahal, secara medis, kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetika, fungsi ginjal, dan berat badan, yang jarang sekali dibahas dalam konten-konten populer tersebut.
Ketidaksesuaian ini juga disebabkan oleh minimnya pembahasan mengenai pengobatan jangka panjang berbasis bukti atau obat resep dalam video-video pendek tersebut. Para pembuat konten cenderung mempromosikan produk herbal atau pengobatan rumahan yang diklaim tanpa efek samping, yang sering kali bertujuan untuk jualan produk daripada memberikan edukasi medis yang benar. Hal ini membingkai penyakit medis seolah-olah sebagai kegagalan gaya hidup pribadi, bukan sebagai kondisi biologis yang membutuhkan perawatan medis standar.
Selain itu, algoritma platform yang mengutamakan keterlibatan pengguna (engagement) membuat konten yang sensasional dan dramatis lebih mudah menyebar dibandingkan informasi medis yang faktual tetapi terkesan kaku. Karena pengguna media sosial sangat aktif berbagi informasi kesehatan secara daring, arus informasi yang tidak terverifikasi menjadi sangat deras. Oleh karena itu, dibutuhkan lebih banyak profesional kesehatan untuk proaktif membuat konten yang benar guna menyeimbangkan misinformasi yang ada di platform digital.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470852/original/042862600_1768265082-b2cd4884-5e61-47bd-a200-1bc124606c34.jpg)