PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menerbitkan Surat Berharga Komersial (SBK) senilai Rp500 miliar sebagai instrumen pendanaan jangka pendek, sekaligus mendukung pendalaman pasar uang nasional sesuai kebijakan Bank Indonesia.
SBK BRI memperoleh peringkat IdA+ (highest short term rating) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), setara dengan peringkat AAA untuk surat utang jangka panjang. Dalam penerbitan ini, BRI bertindak sebagai penerbit dengan BRI Danareksa Sekuritas sebagai arranger.
Penerbitan SBK ini menjadikan BRI sebagai bank pertama di Indonesia yang menerbitkan Surat Berharga Komersial sesuai Peraturan Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 13 Tahun 2024 tentang Transaksi Pasar Uang.
SBK BRI ditawarkan dalam empat tenor, yakni tenor satu bulan dengan tingkat diskonto 4,5 persen, tiga bulan 4,60 persen, enam bulan 4,85 persen, dan 12 bulan 4,95 persen. Instrumen ini digunakan untuk mendukung pengelolaan likuiditas jangka pendek perseroan.
Baca Juga: BRI Salurkan KUR Rp163,38 triliun hingga November 2025
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, penerbitan SBK menjadi salah satu solusi pendanaan jangka pendek bagi perseroan serta memberikan alternatif investasi bagi investor.
“Kami meyakini bahwa keberhasilan penerbitan SBK BRI ini menjadi langkah awal dalam memperkuat peran BRI pada pengembangan instrumen pasar uang nasional. Ke depan, BRI akan terus mendorong inovasi produk, memperluas basis investor, serta memastikan seluruh inisiatif pembiayaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan tata kelola yang baik,” ujar Hery, di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengapresiasi langkah BRI sebagai pionir penerbitan SBK di sektor perbankan. Menurutnya, instrumen tersebut berperan strategis dalam meningkatkan likuiditas pasar uang.
“OJK memandang peluncuran SBK BRI sebagai langkah strategis dalam memperkaya instrumen pasar uang nasional, meningkatkan fleksibilitas pengelolaan keuangan di sektor perbankan, serta memperkuat peran instrumen pasar sebagai mekanisme disiplin pasar,” paparnya.
Baca Juga: Sambut Libur Nataru, BRI Siapkan Rp21 Triliun untuk Memenuhi Kebutuhan Transaksi Masyarakat
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menilai pendalaman pasar uang menjadi krusial di tengah ketidakpastian global. Kehadiran instrumen jangka pendek seperti SBK dinilai dapat memperkuat struktur pendanaan perbankan sekaligus menambah pilihan investasi.
“Bank Indonesia mengapresiasi peran BRI yang selama ini konsisten mendukung pengembangan pasar keuangan nasional. Upaya bersama dalam memperdalam pasar keuangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan,” ujar Destry.
Berdasarkan catatan BRI, sepanjang 2016 hingga 2025 perseroan secara reguler menerbitkan surat utang rupiah dengan peringkat tertinggi dari Pefindo, yang mencerminkan profil permodalan dan kualitas aset yang terjaga.




