Flourishing yang Menjadi Modal Perubahan

detik.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Narasi Indonesia sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan atau flourishing yang paling tinggi di dunia Kembali menggema. Hasil sebuah survei internasional kolaboratif antara Harvard University, Baylor University, dan Gallup, Global Flourishing Study (GFS) membeberkan bahwa di tengah ketidakpastian global, krisis ekonomi, konflik geopolitik, dan meningkatnya tekanan psikososial lintas negara, masyarakat Indonesia masih melaporkan tingkat makna hidup, kepuasan eksistensial, dan keterhubungan sosial yang tinggi.

Dalam panorama kesehatan global yang selama ini didominasi oleh indikator deficit, angka kematian, prevalensi penyakit, beban disabilitas fisik dan mental, hasil ini menawarkan perspektif yang menyegarkan. Namun sebagaimana setiap temuan ilmiah yang bermakna, hasil ini justru menjadi semakin berharga ketika dibaca secara reflektif dan kontekstual. Bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk memaksimalkan manfaatnya sebagai pijakan kebijakan yang lebih berpihak dan berjangka panjang.

Kajian Human Flourishing in a Health-Creating Society dari The Lancet menegaskan bahwa flourishing atau Sejahtera bukan sekadar keadaan psikologis individu, melainkan luaran dari masyarakat yang secara aktif menciptakan kondisi hidup yang sehat, aman, dan bermartabat. Ini adalah hasil dari sistem sosial yang adil, kebijakan yang melindungi, institusi yang kredibel, dan lingkungan yang memungkinkan manusia berkembang tanpa harus terus-menerus beradaptasi terhadap ketidakamanan.

Jeff Levin, melalui artikelnya Human Flourishing: A New Concept of Preventive Medicine, memperluas pemahaman ini dengan menempatkan flourishing sebagai tujuan preventif tertinggi: bukan hanya mencegah penyakit, tetapi mencegah kondisi hidup yang memaksa manusia terus bertahan di bawah tekanan. Dua kerangka ini memberi pesan yang optimistis sekaligus menantang, bahwa ketika masyarakat menunjukkan tanda-tanda flourishing, itu adalah modal sosial yang sangat berharga, yang seharusnya mendorong negara untuk bekerja lebih berani, bukan berhenti lebih cepat.

Membaca Skor Tinggi dengan Kacamata Konstruktif

GFS mengukur flourishing melalui sejumlah domain penting: kepuasan hidup, makna dan tujuan, keterhubungan sosial, karakter dan spiritualitas, kesehatan, serta keamanan material. Indonesia mencatat skor tinggi terutama pada dimensi makna hidup, relasi sosial, dan spiritualitas.

Dalam konteks sosio-kultural Indonesia, temuan ini tidak mengejutkan. Jaringan sosial yang padat, peran keluarga yang kuat, serta nilai solidaritas dan spiritualitas yang hidup telah lama menjadi fondasi ketahanan masyarakat. Survei ini, dalam banyak hal, mengonfirmasi kekuatan yang memang telah dimiliki bangsa ini. Justru karena itu, skor flourishing yang tinggi seharusnya dibaca sebagai modal awal: sebuah energi sosial yang dapat digunakan untuk mempercepat transformasi struktural, bukan sebagai kesimpulan bahwa pekerjaan telah selesai.

Literatur psikososial global, termasuk kajian Sprangers lewat publikasinya di Social Science and Medicine (1999), memperkenalkan konsep response shift, yakni penyesuaian standar internal individu terhadap apa yang dianggap "baik", "cukup", dan "layak" akibat paparan jangka panjang terhadap kondisi menekan. Dalam konteks ini, individu mampu mempertahankan rasa makna dan keberfungsian meskipun hidup di tengah keterbatasan.

Hal ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan adaptif manusia. Kesejahteraan yang dirasakan tetap nyata dan sah secara psikologis. Tantangannya bukan pada adaptasi itu sendiri, melainkan pada bagaimana negara dan kebijakan publik menangkap adaptasi tersebut sebagai sinyal kebutuhan akan dukungan struktural yang lebih kuat. Dengan kata lain, kemampuan masyarakat untuk tetap merasa "baik-baik saja" sehingga tampak flourished atau sejahtera, di tengah keterbatasan seharusnya mendorong kebijakan untuk memastikan bahwa di masa depan, kesejahteraan tidak lagi bergantung pada penyesuaian personal semata, tetapi pada perlindungan sosial yang kokoh.

Secara objektif, Indonesia masih menghadapi tantangan ketimpangan sosial yang nyata. Namun data yang sama juga menunjukkan ruang perbaikan yang besar. Puluhan juta penduduk berada pada kelompok near por, kelompok yang sangat responsif terhadap intervensi kebijakan yang tepat sasaran. Koefisien Gini di kisaran 0,38 menunjukkan ketimpangan yang masih dapat dikoreksi melalui kebijakan redistributif yang cerdas. Dominasi sektor informal membuka peluang luas untuk reformasi jaminan sosial dan perlindungan kerja yang lebih inklusif.

Dalam sektor kesehatan, tingginya pengeluaran langsung dari kantong pribadi justru menandakan willingness to invest in health yang tinggi dari masyarakat. Ini adalah modal penting. Dengan penguatan sistem layanan publik yang adil dan merata, komitmen masyarakat ini dapat dikonversi menjadi peningkatan kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.

Arah Kebijakan

Skor flourishing yang tinggi bukanlah alasan untuk berpuas diri, melainkan kesempatan strategis. Ini memberi legitimasi sosial bagi pengambil kebijakan untuk melangkah lebih jauh, memperbaiki akses layanan kesehatan, memperluas perlindungan sosial, memperkecil kesenjangan wilayah, dan memastikan bahwa kesejahteraan tidak lagi bergantung pada daya tahan individu semata. Sejujurnya, rakyat Indonesia tidak membutuhkan pujian global untuk bertahan karena mereka telah membuktikannya. Yang dibutuhkan adalah keberanian kebijakan untuk memastikan bahwa daya lenting sosial ini ditopang oleh sistem yang adil dan berpihak.

Pada akhirnya, hasil Global Flourishing Study adalah kabar baik. Karena survei ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekuatan kemanusiaan yang besar: makna, relasi, solidaritas, dan ketahanan psikososial. Tantangan kita bukan mempertanyakan kebahagiaan itu, melainkan menghormatinya dengan kebijakan yang layak.

Flourishing sejati bukan ketika rakyat mampu terus beradaptasi, tetapi ketika negara memastikan bahwa adaptasi tidak lagi menjadi satu-satunya jalan untuk hidup bermartabat. Jika dibaca dengan bijak, skor flourishing yang tinggi bukan penutup diskusi, melainkan undangan terbuka untuk bekerja lebih serius, lebih adil, dan lebih berani demi kesejahteraan yang benar-benar berkelanjutan.

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Pendiri Health Collaborative Center (HCC), Direktur Eksekutif Indonesia Health Developmetn Center (IHDC), dan Inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa (Kaukus Keswa)




(prf/ega)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cara Ajukan NPPN via Coretax, Pelaku Usaha Mikro Wajib Tahu!
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wagub Sumbar Kunjungi Sinkhole di Limapuluh Kota, Sampaikan Imbauan soal Air di Dalamnya
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
370 Nama Anak Laki-Laki yang Bagus Menurut Islam, Huruf A-Z!
• 6 jam lalutheasianparent.com
thumb
Xabi Alonso Masuk Bursa Pelatih Manchester United usai Didepak Real Madrid? Media Inggris Beberkan Peluangnya
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Akui Ada Alumni Tarnus Isi Kabinet Merah Putih: Menonjol di Tingkat Nasional
• 7 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.