Dewan Energi Nasional (DEN) mengisyaratkan adanya peluang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berperan strategis untuk menggantikan pembangkit listrik energi fosil, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara. Saat ini, lebih dari 60 persen produksi listrik nasional bersumber dari PLTU batu bara.
Sekretaris Jenderal DEN Dadan Kusdiana mengatakan, dalam Kebijakan Energi Nasional, PLTN diposisikan sebagai alternatif pembangkit base load. Pembangkit base load adalah pembangkit yang bisa menyediakan listrik stabil secara konstan. PLTN masuk kategori pembangkit base load ramah lingkungan karena produksi emisinya yang sangat kecil bila dibandingkan dengan pembangkit energi fosil. Beberapa negara mempertimbangkan pemanfaatan pembangkit nuklir sebagai strategi menekan emisi.
Dadan menjelaskan, pembangkit base load diperlukan sebagai penyeimbang listrik dari energi baru terbarukan (EBT) yang produksinya bersifat fluktuatif. “Kalau kita ingin mendorong pembangkit EBT lebih banyak, maka perlu pembangkit yang bisa menyeimbangkan dan menjadi base load. PLTN itu sama-sama bersih dan bisa menjalankan fungsi tersebut,” ujar Dadan usai acara Energi Outlook 2025 oleh PYC, Selasa, (13/1).
DEN, kata Dadan, telah menginisiasi percepatan pembangunan PLTN dengan menyiapkan kerangka kelembagaan melalui pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO). NEPIO merupakan organisasi yang dibentuk untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Struktur organisasi NEPIO telah dibahas dan diharmonisasi lintas kementerian, termasuk di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan kini telah dirumuskan dalam bentuk peraturan presiden. “Perpresnya sudah di meja Pak Presiden dan tinggal menunggu proses pengesahan,” kata dia.
Dadan menjelaskan bahwa NEPIO bersifat ad-hoc atau sementara dan akan menghimpun fungsi dari berbagai institusi yang sudah ada. Sebelumnya, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah dilebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ke depan, BRIN akan menjadi bagian dari NEPIO.
“BRIN akan menjadi bagian dari organisasi ini, meskipun detailnya masih menunggu penetapan,” ujarnya.
Dadan menegaskan bahwa kehadiran PLTN tidak dimaksudkan untuk segera menggantikan seluruh PLTU. Seperti diketahui, rencana pemerintah melakukan pensiun dini PLTU menggantung karena alasan biaya dan tidak adanya dukungan pendanaan murah yang cukup.




