FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Presiden Prabowo klaim Indonesia sebagai negara paling bahagia di dunia. Namun pernyataan itu menuai pro kontra.
Pernyataan Prabowo itu, sebelumnya berdasarkan riset Harvard University bersama Baylor University dan Gallup melalui Global Flourishing Study.
Salah satu yang menyoroti hal ini adalah Ustaz Hilmi Firdausi. Dia membandingkannya dengan data negara paling miskin di dunia menurut Bank Dunia.
Data tersebut, menunjukkan Indonesia berada di urutan kedua dengan presentase 60,3 persen. Hanya di bawah dari negara Zimbabwe.
“Walau lebih dari 60 persen penduduk Indonesia miskin menurut Bank Dunia, tapi mereka terap paling bahagia di dunia,” kata Hilmi dikutip dari unggahannya di X, Rabu (14/1/2026).
“Mungkin kuncinya adalah banyak beryukur dan prinsip kekayaan bukanlah kunci kebahagiaan,” tambahnya.
Berangkat dari hal itu, dia mengaku bingung. Apakah harus senang atau sedih.
“Saya gak tahu harus senang apa sedih dengan fakta ini,” ujarnya.
Sebelumnya, Konten Kreator Fathian Hafiz mengkritik klaim Prabowo tersebut. Dia mengungkapkan, riset tersebut adalah flourishing, bukan hapiness. Ini dua hal berbeda.
“Nah ini disurvei di 23 negara selama lima tahun, ada 207.000 sekian partisipan. Lalu keluarlah datanya, kita lihat Indonesia angkanya tinggi,” ujarnya.
Klaim presiden bahwa florishing skornya paling tinggi, terdiri dari beberapa indikator.
“Karakter orang Indonesia itu baik, tujuan hidupnya tinggi, terus code breif, gotong-royong, solidaritas, itu tinggi skornya. Makanya setelah di combine, skor akhirnya tinggi banget. Kebantu sama itu,” ucapnya.
Di sisi lain, dia menyebut ada beberapa skor yang jeblok.
“Oang Indonesia tidak bahagia. Life satisfaction nggak puas hidupnya, sama yang warna hijau nih. Tidak sehat secara fisik,” tambahnya.
Berangkat dari hal itu, dia menegaskan Prabowo tak mendasar.
“Nah jadi kayaknya Pak Prabowo atau timnya itu ngelihat skor paling tinggi 8 koma, paling bahagia itu nggak dilihat isinya, klaimnya ngaco ya, kalau Indonesia palaing bahagia kalau kita lihat di bawah Polandia, Brazil, Spain, US, Hongkong, China, Jerman, Sweden masih di bawah,” paparnya.
Sementara itu, dia mengatakan sebenarnya ada riset yang fokus ke happines. Namun Indonesia bukan yang paling tinggi, malah di urutan 83.
“Riset yang fokus ke happines level itu ada lagi. Namanya wrord happiness report, kita buka aja kali ya, di manakah Indonesia, di bawah Thailand, Philipines,” pungkasnya.
“Gitu ya teman-teman, jadi jangan kayak bapak presiden, jangan over simplyfing. Jangan iya iya aja,” sambungnya.
(Arya/Fajar)




