Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) melaporkan telah memulangkan lebih dari 27 ribu warga negara Indonesia (WNI) dari berbagai negara sepanjang 2025. Pemulangan tersebut menyasar terhadap WNI yang menghadapi situasi krisis konflik bersenjata hingga kejahatan transnasional.
Menlu Sugiono menyampaikan pemulangan WNI dilakukan dari beragam kondisi darurat, termasuk WNI yang berada di wilayah konflik dan korban kasus kejahatan lintas negara seperti penipuan daring serta judi online (Judol).
“Sepanjang tahun 2025, Indonesia telah memulangkan 27.768 warga negara Indonesia dari berbagai situasi krisis. Mulai dari konflik bersenjata hingga kejahatan transnasional seperti online scam dan judi daring,” kata Sugino saat menyampaikan Keterangan Pers Tahunan, sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube MoFa Indonesia pada Rabu (14/1).
Sugiono menyampaikan bahwa pemerintah akan terus memperkuat diplomasi perlindungan warga negara seiring meningkatnya tantangan global dan maraknya kejahatan transnasional yang berisiko menjerat WNI di luar negeri.
“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua perwakilan Indonesia di luar negeri yang selama ini terlibat langsung dalam upaya pembebasan warga negara Indonesia,” ujarnya.
Pemerintah sebelumnya telah memulangkan 554 WNI korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) penipuan daring dari Myawaddy, Myanmar. Kepulangan ratusan WNI ini berlangsung dalam dua tahap, yaitu sebanyak 400 orang pada tahap pertama 18 Maret 2025 dan 154 orang pada tahap kedua sehari setelahnya.
Pemerintah juga memulangkan 96 WNI yang menetap di Iran. Rombongan pertama berisi 11 WNI tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang menggunakan maskapai Turkish Airlines pada 24 Juni lalu.
Sebelas WNI yang telah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta hari ini merupakan bagian dari 97 WNI yang telah diungsikan di Baku, Azerbaijan. Puluhan WNI itu dievakuasi dari Iran menuju Azerbaijan melalui jalur darat.
Satu dari sebelas WNI yang telah dipulangkan dari Iran adalah Ali Murtadho. Laki-Laki berusia 20 tahun asal Gresik, Jawa Timur, itu mengaku sempat menginap dua malam di Baku sebelum diterbangkan ke Jakarta.
Ali tinggal di Qom, sebuah kota yang terletak sekitar 156 kilometer barat daya Ibu Kota Teheran, selama 1 tahun delapan bulan. Mahasiswa Jurusan Ushul Fiqh di Jamiatul Mustafa International University itu menjelaskan, proses evakuasi awal dilakukan melalui jalur darat selama 16 jam dari Teheran ke Baku.
Mereka kemudian melanjutkan penerbangan udara dari Baku menuju Istanbul, Tukri untuk kemudian langsung menuju Jakarta. “Saya sempat menginap di Gedung KBRI Teheran. Kondisi di sana mencekam karena ada serangan dari Israel,” kata Ali di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, pada Selasa (24/6/2025), malam.
Ali menceritakan banyak warga negara asing yang juga berkumpul di Baku, Azerbaijan, sebagai negara transit untuk pergi dari Iran. Proses evakuasi melalui perbatasan Iran–Azerbaijan juga berlangsung lama karena antrean warga asing yang juga ingin keluar dari Iran.
Saat masih di Iran, menurut dia, akses internet terbatas sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan keluarga. Ia baru bisa memberi kabar setelah tiba di Azerbaijan. “Saya baru bisa memberi informasi kepada keluarga setelah berada di Azerbaijan. Alhamdulillah sekarang saya sampai Jakarta dengan selamat,” ujarnya.



