Tiga Tewas dan Ratusan Mengungsi akibat Banjir dan Longsor di Pantura Jateng

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

KUDUS, KOMPAS — Tiga orang dilaporkan meninggal dunia dalam bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di tiga kabupaten di kawasan pantai utara (pantura) Jawa Tengah, beberapa hari terakhir. Hingga Rabu (14/1/2025), ratusan orang mengungsi karena banjir masih menggenangi ratusan desa yang dihuni puluhan ribu jiwa di wilayah tersebut.

Bencana banjir dan tanah longsor terjadi di tiga kabupaten di wilayah pantura timur Jateng, yakni Kudus, Pati dan Jepara. Bencana terjadi usai hujan lebat mengguyur tiga wilayah itu selama beberapa hari terakhir.

Dalam bencana hidrometeorologi di Kudus, timbul tiga korban jiwa. Ketiganya tewas dalam tiga peristiwa berbeda pada Minggu (11/1/2026).

Peristiwa pertama menimpa AW (27), warga Desa Bacin, Kecamatan Bae, yang hanyut saat mandi bersama saudaranya di aliran Sungai Pedawang pada Minggu sekitar pukul 15.00. AW yang sempat hilang ditemukan pada Minggu malam dalam kondisi tak bernyawa.

“Kasus kedua menimpa INU (5), warga Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae. Korban yang sedang bermain sepeda dengan kakaknya di jalanan yang tergenang air dari limpasan anak Sungai Perak pada Minggu petang tergelincir, kemudian tercebur ke sungai,” kata Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus Ahmad Munaji, Rabu.

Ahmad menyebut, kakak korban itu berhasil diselamatkan warga. Adapun korban yang hanyut terbawa arus sungai ditemukan pada Senin (12/1/2026) pagi dalam kondisi meninggal dunia.

Baca JugaSempat Terisolasi akibat Longsor, Satu Desa di Jepara Mulai Bisa Diakses

Tragedi ketiga terjadi pada S (52), warga Desa Menawan, Kecamatan Gebog. Pada Minggu siang, warung milik korban tertimpa longsor akibat pergerakan tanah. Sebenarnya, sebelum longsor, korban bersama suaminya sudah sempat menyelamatkan diri.

Namun, S kemudian kembali ke dalam warung untuk mengambil tas. Nahas, saat hendak keluar, korban terimpit material longsoran hingga akhirnya meninggal dunia.

Munaji menyebut, tanah longsor terjadi di 14 desa di tiga kecamatan di Kudus, yaitu Kecamatan Gebog, Kecamatan Dawe, dan Bae. Total ada 126 titik longsor di tiga kecamatan tersebut. Akibatnya, sebanyak 32 rumah yang ditinggali 109 jiwa dari 41 keluarga rusak. Dua kendaraan juga dilaporkan rusak dalam bencana itu.

Selain longsor, Kudus juga diterjang banjir. Ada 31 desa dari tujuh kecamatan, yakni Mejobo, Kudus, Bae, Kaliwungu, Jekulo, Jati, dan Undaan. Dalam bencana tersebut, sebanyak 5.208 rumah, tujuh unit rumah ibadah, dan delapan unit sekolah terendam banjir dengan ketinggian 20-50 sentimeter.

“Jumlah warga yang terdampak sekitar 42.137 jiwa dari 13.262 keluarga. Dari jumlah itu, sebanyak 596 jiwa dari 233 keluarga mengungsi di tujuh titik pengungsian,” ucap Munaji.

Baca JugaBanjir dan Longsor Landa Belasan Kecamatan di Kawasan Timur Pantura Jateng

Di Pati, banjir melanda hampir seluruh wilayah. Dari 21 kecamatan yang ada di Pati, sebanyak 20 di antaranya terdampak banjir. Banjir dengan ketinggian mencapai 80 cm itu merendam sekitar 127 desa.

Berdasarkan data BPBD Pati, lebih dari 1.500 rumah terendam banjir. Kemudian, sekitar 300 orang dilaporkan mengungsi di sejumlah titik, termasuk di rumah kerabat.

Jumlah warga yang terdampak sekitar 42.137 jiwa dari 13.262 keluarga. Dari jumlah itu, sebanyak 596 jiwa dari 233 keluarga mengungsi di tujuh titik pengungsian

Adapun tanah longsor melanda lebih dari 10 desa di enam kecamatan, yakni Margoyoso, Margorejo, Pucakwangi, Tlogowungu, Cluwak, dan Sukolilo. Longsor terjadi pada talud sungai, tanggul sungai, maupun bahu jalan.

“Untuk mencukupi kebutuhan warga, BPBD mendirikan dapur umum di beberapa lokasi, seperti di kantor BPBD Pati dan Desa Bulumanis Kidul di Kecamatan Margoyoso,” ujar Kepala BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya.

Menurut Martinus, banjir di wilayahnya terjadi karena jebolnya sejumlah tanggul sungai, baik yang berhulu di Pegunungan Kendeng maupun Gunung Muria. Tanggul-tanggul itu jebol lantaran tidak kuat menahan lonjakan debit air sungai yang meningkat karena hujan lebat yang melanda wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir.

Di sisi lain, peningkatan debit air sungai terjadi karena air hujan tidak terserap optimal di area tangkapan di wilayah hulu. Hal itu disebut Martinus terjadi karena terjadi alih fungsi lahan maupun peralihan jenis tanaman di wilayah hulu, dari sebelumnya tanaman berbatang keras menjadi tanaman semusim.

Baca JugaEmpat Daerah Pantura Jawa Diterjang Banjir, Alarm Lingkungan Meraung

Di Jepara, longsor melanda 23 titik di Desa Tempur, Kecamatan Keling. Akibat longsor, desa yang berada di lereng Gunung Muria itu sempat terisolasi selama beberapa hari. Pada Rabu, wilayah yang dihuni 3.600 keluarga itu sudah bisa dilalui kendaraan roda dua.

Alat berat juga telah diterjunkan ke wilayah tersebut untuk membersihkan material berukuran besar yang menutup jalan. Ke depan, jalan yang rusak karena longsor bakal diperbaiki sehingga mobilitas masyarakat dari dan menuju wilayah itu tak terganggu.

Perbaikan tanggul

Sementara itu, sejumlah tanggul sungai yang jebol atau tergerus di wilayah Kudus dan Pati mulai diperbaiki, meskipun secara darurat. Perbaikan darurat dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana bersama pemerintah kabupaten dengan menggunakan bambu trucuk serta karung berisi tanah dan batu.

“Sampai saat ini hujan masih turun di wilayah Kudus dan Pati, jadi penanganannya masih bersifat darurat. Nanti setelah cuacanya agak mendukung, baru kami buat penanganan permanen, baik dibangun parapet maupun dipasangi beronjong,” kata Agus Yanto, Staf Operasional Daerah II (Kudus-Pati) BBWS Pemali-Juana.

Baca JugaDiterjang Banjir dan Longsor, Kudus Siaga Darurat Bencana

Agus menyebut, tanggul sungai yang jebol atau tergerus tersebar di sejumlah titik di beberapa sungai dengan panjang jebolan bervariasi, mulai dari 2 meter hingga 20 meter.

Di Kudus, tanggul yang jebol di Sungai Mrisen, Dawe, dan Piji. Kemudian, di Pati, tanggul sungai yang jebol di Sungai Suwatu dan Sungai Kertomulyo di Kecamatan Margoyoso serta Sungai Tegalombo di Kecamatan Dukuhseti.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyebut, pihaknya belum menetapkan status darurat bencana. Menurutnya, hal itu karena kondisi bencana itu masih terkendali.

“Belum ada penetapan darurat bencana. Tetapi kami tetap harus siap apabila terjadi perkembangan yang lebih berat,” ucap Luthfi.

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin mengatakan, untuk mengatasi genangan banjir di daerah Pati dan Kudus, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BBWS Pemali-Juana agar ada penyedotan dengan pompa. Namun, penyedotan itu hingga kini masih terkendala karena genangan di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan sungai masih tinggi.

Yasin juga menyinggung perlunya rekayasa cuaca dalam penanganan bencana banjir dan longsor di wilayah Kudus, Pati dan Jepara. Hal ini karena hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan masih akan terjadi di wilayah tersebut selama beberapa hari ke depan. “Jadi hasil koordinasi dengan BBWS memang perlu ada rekayasa cuaca," katanya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemprov Bengkulu Tata 20 Ribu Hektare Eks-HGU
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Polisi Tangkap 2 Bocah Pelaku Begal Payudara yang Menyasar Anak di Bawah Umur
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Hindari Tabrakan, Bus Rombongan Pelajar Nganjuk Nyusruk ke Bahu Jalan Gunungkidul
• 3 detik lalurepublika.co.id
thumb
Memperkuat Kemampuan Matematika Anak dengan Bermain “Board Game”
• 11 jam lalukompas.id
thumb
3 Pemain Plus Pelatih Terbaik Pekan 17 BRI Super League: Pemain Lokal PSIM Bersaing dengan Bintang Impor
• 12 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.