Gelombang unjuk rasa yang mengguncang Iran sejak akhir Desember 2025 disinyalir bukan sekadar protes ekonomi biasa. Badan Intelijen Israel, Mossad, secara terbuka mengisyaratkan keterlibatan mereka dalam mengubah demonstrasi damai menjadi kerusuhan yang menuntut penggulingan pemerintahan sah Iran.
Melalui akun media sosial X (Twitter) berbahasa Farsi, Mossad dilaporkan menyerukan aksi demonstrasi dan menyatakan bahwa keterlibatan mereka bukan hanya sekadar dukungan verbal jarak jauh, melainkan operasi langsung di lapangan.
Mantan Direktur CIA sekaligus eks Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, turut memperkuat narasi tersebut. Dalam cuitannya, Pompeo menegaskan posisi intelijen Zionis yang berada di sisi para demonstran, bahkan menyebut target destabilisasi selanjutnya adalah wilayah Balochistan.
Baca juga:
Trump Ancam Kenakan Tarif 25 Persen bagi Negara Mitra Dagang Iran
Laporan dari media Israel semakin memperjelas dugaan campur tangan asing. Koresponden Channel 14 Israel, Tamir Morag, melaporkan bahwa ada "aktor asing" yang mempersenjatai sejumlah demonstran di Iran dengan senjata api.
Tindakan ini memicu eskalasi kekerasan yang menyebabkan ratusan orang tewas. Morag bahkan secara implisit mempersilakan publik untuk menyimpulkan sendiri siapa dalang di balik pasokan senjata tersebut.
Identitas Perwira Mossad Bocor
Di tengah memanasnya situasi, kelompok peretas (hacker) asal Iran bernama Handala membuat klaim mengejutkan. Mereka mengaku berhasil membongkar identitas seorang perwira Mossad yang bertanggung jawab atas operasi di Iran, yakni Mehrdad Rahimi.
Rahimi disebut sebagai warga Iran keturunan Yahudi yang tinggal di Israel. Data yang dibocorkan Handala menyebutkan bahwa Rahimi membawahi jaringan sekitar 600 agen Mossad yang ditugaskan khusus untuk wilayah Iran.
Pemerintah Iran meyakini bahwa kericuhan yang terjadi saat ini didalangi oleh agen-agen bayaran yang menyusup ke tengah massa. Pola ini dinilai berbeda dengan demonstrasi murni rakyat.
Sebagai catatan, Iran memiliki sejarah panjang demonstrasi, mulai dari demo dugaan kecurangan pemilu pada 2009, demo isu ekonomi pada 2019, hingga demo kasus Mahsa Amini pada 2022. Namun, eskalasi kali ini dinilai sangat kental dengan aroma operasi intelijen asing, terutama Mossad dan CIA, yang memanfaatkan momentum kesulitan ekonomi akibat sanksi Barat untuk memicu instabilitas negara.
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F08%2F42c060a3f0c3d77612cd10f77b0b68f3-20260108PRI2HR.jpg)


